
Menghadiri undangan Teater Samastha Kelas 5B Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah Purwokerto di Auditorium Ukhuwah Islamiyah adalah agenda yang tidak sulit untuk aku sanggupi. Apalagi saat aku baca naskah yang akan dipentaskan, “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi”, karya Seno Gumira Ajidarma.
Naskah itu -“Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi”- memiliki kedekatan tersendiri bagiku karena pernah menjadi bahan analisis penugasan di suatu perkuliahan sebelum aku dan teman-temanku masuk ke kelas penjurusan. Jadi bisa dikatakan naskah ini adalah salah satu naskah yang dibahas ramai-ramai seangkatan ketika aku dan teman-temanku masih berada di semester muda. Bahkan di tanggal 23 Desember 2025, paginya sebelum menonton pementasan di malam hari, aku mengirim pesan WhatsApp ke dosenku dulu untuk memastikan ingatanku soal tugas analisis “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi”. Rasa antusiasku itu juga yang membuatku hadir di UMP sebelum waktu Magrib, jauh sebelum pukul 18.30 seperti yang tertera di undangan, jauh sebelum pementasan dimulai.
Antusiasme menonton pentas ini juga yang membuatku mungkin saja bisa lupa kalau aku hadir sebagai utusan media partner yang perlu mencatat beberapa hal. Sebab harus aku akui pula bahwa pementasan malam itu mudah untuk dinikmati dan mengajakku sebagai penontonnya untuk bertepuk tangan. Lewat tulisan ini, semoga sedikit membantu yang belum berkesempatan hadir di pementasan kemarin untuk mengilustrasikan euforia menontonnya, dan membantu mengingat kembali euforia tersebut bagi yang kemarin sudah menonton pementasannya. Tentunya tulisan ini juga bentuk apresiasi untuk Tim Pementasan (Sutradara, Astrada, Setting, Tata Cahaya, Tata Busana, Tata Musik, Tata Gerak) dan Tim Produksi (Pimpro, Sekretaris, Bendahara, Divisi Sponsorship, Divisi Humas, Divisi PDD, Divisi Konsumsi, dan Divisi Perlengkapan) Teater Samastha, sekaligus apresiasi untuk Bapak Edi Romadhon selaku dosen mata kuliah Kajian Drama.

‘Gagal Fokus’ ke Properti Plang “Dilarang Menginjak Warga”
Kebanyakan orang mungkin fokus ke aktor pementasan saat pementasan baru dimulai. Jika memang begitu, berarti aku bisa disebut ‘gagal fokus’ karena justru memperhatikan plang yang termasuk properti di setting panggung bertuliskan “Dilarang Menginjak Warga”. Singkat namun mengesankan buatku, mungkin karena belakangan aku lebih sering baper setiap membuka sosial media yang penuh berita banjir di tiga provinsi, namun masih belum ditetapkan statusnya sebagai bencana nasional.
Kalimat di plang tersebut sekilas menggelikan mengingat sepertinya adalah plesetan dari kalimat “Dilarang Menginjak Rumput” yang bisa dilihat di beberapa tempat. Mungkin kebanyakan manusia sudah terlalu sering menginjak rumput, jadi tanpa sadar setelahnya justru menginjak sesama manusia, sama-sama ‘makhluk hidup’, kan? Ahh, soal plang saja aku sampai sebegitu berpikirnya, namun perlu aku apresiasi tim yang membuat properti ini, sukses menarik perhatianku sampai sempat mengabaikan para aktor.
Mengapa “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi”?
Sejak awal aku memikirkan alasan Teater Samastha memilih naskah ini sebagai naskah yang dipentaskan dalam rangka memenuhi tugas akhir mata kuliah Kajian Drama. Dulu ketika pertama membacanya naskah ini kesan yang aku dapat adalah kritik sosial yang menggelitik. Kritiknya sangat halus sehingga jika tidak diperankan secara totalitas oleh para lakonnya bisa saja pesan moral atau kritiknya tidak sampai ke penontonnya. Singkatnya, bagiku ini bukan naskah yang mudah untuk dipentaskan.
Untungnya sutradara dari pementasan ini, Umi Roisatul Mukaromah, mau menjawab pertanyaanku. Dari Umi aku memahami bahwa Teater Samastha memilih naskah ini sebab dinilai merupakan bentuk refleksi dari kondisi masyarakat yang cenderung melakukan penyelesaian masalah tanpa pendalaman. Hal ini menjadi sentilan mengingat tak sedikitnya konflik kecil dalam lingkungan sekitar justru menciptakan ketegangan sosial yang lebih luas.
Mengapresiasi Proses Kreatif
Mengapresiasi pementasan bukan hal yang sulit jika indikatornya adalah memberi tepuk tangan saat pentas selesai berlangsung. Namun aku percaya di balik suksesnya pementasan ada proses kreatif yang perlu diapresiasi, bahkan mungkin seharusnya mengapresiasi proses kreatifnya dulu sebelum mengapresiasi pementasannya (sebagai hasil akhir).
Aku cukup kaget setelah mengetahui dari Umi bahwa “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” bukan naskah pertama yang dipilih Teater Samastha. Namun setelah hampir tiga pekan, atas beberapa pertimbangan, akhirnya diputuskan bahwa “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” yang akan dipentaskan. Dengan begitu bisa disimpulkan bahwa dimulainya proses kreatif mundur tiga pekan dari waktu yang sudah direncanakan.
Dengan waktu yang mundur tersebut, aku membayangkan bahwa proses kreatif ini harus mampu ‘mengejar ketertinggalan’, sehingga aku cukup memahami jika Teater Samastha memulainya dengan adaptasi naskah selama tiga hari. Agak ngos-ngosan membayangkannya. Mulai dari adaptasi dengan latar waktu tahun 2025, hingga pemilihan setting tempat yaitu Kos Dukuh Waduh, Pos Kamling Kampung Karang Waluh, dan area taman (yang ada plang “Dilarang Menginjak Warga” seperti yang aku ceritakan tadi).
Buatku proses adaptasi tersebut cukup berhasil jika tujuan Teater Samastha agar terkesan lebih dekat dengan situasi dan kondisi masyarakat saat ini. Latar waktu 2025 tersebut sangat terasa saat gerombolan ibu-ibu kampung pada pementasan tersebut bergosip dan muncul punchline berupa kata “deym!!” (bahasa gaul atau slang dari salah satu kata dalam bahasa Inggris yaitu damn) yang diucapkan bersamaan sampai mengundang tawa penonton. Penonton yang aktif menjadi warga sosial media pasti related dengan punchline yang sukses dibawakan secara kocak dan dramatis tersebut. Apalagi penamaan Kos Dukuh Waduh yang sepertinya terinspirasi dari Dukuhwaluh, lokasi berdirinya Universitas Muhammadiyah Purwokerto, atau Pos Kamling Kampung Karang Waluh, yang menurutku juga terinspirasi dari penamaan Dukuhwaluh serta kebanyakan daerah di Banyumas yang penamaannya diawali kata “Karang” (seperti Karanglewas, Karangnangka, Karangnanas, dan lain-lain). Bagi penonton yang merupakan warga Banyumas mungkin melihat penamaan latar-latar ini seperti menemukan kedekatan tersendiri bahkan seperti jokes internal. Semua semakin mengesankan ketika “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” yang sudah diadaptasi tersebut secara jenaka dimainkan oleh para aktornya yang memainkan peran sebagai Monica, Pak RT, Hansip, Arul, Bagus, Yani (istri Arul), Susi (istri Bagus), Erma, Minah, dan Atun.
Aku sempat menanyakan juga berapa lama proses persiapan hingga pementasan ini. Katanya, totalnya sekitar 3 bulan 4 hari, terhitung sejak 19 September 2025. Dengan waktu yang hampir melebihi setengah semester perkuliahan, berlatih sebanyak 4 hari dalam sepekan, setiap latihannya berlangsung dari pukul 18.30 hingga 23.00, maka menurutku pantas saja jika mereka menerima penghargaan yang diselenggarakan oleh internal fakultas sebagai pementasan terbaik tahun 2025. Pun dengan 2 aktornya yaitu Pak RT yang dinobatkan sebagai aktor terbaik 1, dan Pak Hansip sebagai aktor terbaik 3. Meskipun dari respon penonton di sekitarku saat malam pementasan tersebut aku (sok tahu) menyimpulkan bahwa Arul dan Bagus memiliki penggemarnya tersendiri berkat totalitas acting-nya sebagai para suami genit tapi takut istri.
Mengapresiasi Tantangan Pada Proses Menuju Pementasan
Aku adalah salah satu manusia yang percaya pada pesan guru maupun orang tua tentang tantangan yang katanya akan selalu ada dalam suatu proses. Aku juga cukup memahami mengapa tantangan dianggap sebagai ‘bumbu-bumbu’ yang memberi rasa pada proses ‘memasak’ untuk kemudian adanya ‘rasa’ pada hasilnya. Seperti yang terjadi pada pementasan yang dilakukan Teater Samastha ini. Aku cukup senang karena Umi selaku sutradara menyanggupi menjawab pertanyaanku tentang tantangan dalam proses kreatif pementasan ini. Sebab bagiku mengetahuinya adalah caraku untuk lebih mengapresiasi pementasan ini secara utuh, tak hanya satu atau dua jam selama pementasan berlangsung.
Rupanya setting yang sudah mencuri perhatianku untuk memperhatikan beberapa detail dari kursi penonton tersebut adalah tantangannya. Pos kamling, kos, dan area taman tersebut spesifiknya. Setting yang untuk menyerupai bentuk aslinya mengharuskan mereka untuk mencari reng kayu, kardus, bambu, kertas semen, papan, dan bahan lainnya sebelum kemudian membuat kerangka, mengecat, dan seterusnya hingga tahap finishing. Belum lagi soal waktu yang beberapa kali bentrok dengan agenda perkuliahan. Membayangkannya mungkin akan mengingatkanku atau siapapun yang pernah merasakan pementasan drama semasa sekolah maupun kuliah memahami situasi tidak mudah yang dihadapi teman-teman Teater Samastha. Tentu sudah jadi rahasia umum kalau sangat mungkin adanya ‘drama dalam drama’ dalam prosesnya.
Maka selain pementasannya yang menghibur dan memecah tawa penontonnya, rasanya tak berlebihan juga jika sebagai penontonnya aku mengapresiasi proses para aktor dan orang-orang di balik layarnya yang sudah sedemikian bekerja keras untuk terselenggaranya pementasan ini. Sebab benar kata Umi, pementasan drama ini tidak hanya soal manajemen waktu, melainkan juga manajemen energi agar semuanya berjalan maksimal. Seandainya manajemen waktu dan energi ini tidak dipikirkan dan dilaksanakan secara bijak, rasanya pementasan yang rapi hanya jadi wacana belaka.
“Saya, Umi Roisatul Mukaromah selaku Sutradara, bersama-sama dengan Pimpinan Produksi yakni Eno Dwi Lestari memiliki satu visi dan tujuan bersama untuk menyukseskan pementasan ini.” Toh akhirnya komitmen tersebut sudah berbuah manis dengan terlaksana pentas yang sukses seperti cita-cita mereka.
Mengapresiasi Berisiknya Para Perempuan
Selain Arul dan Bagus yang sukses memerankan para suami genit tapi takut istri dengan segala tingkahnya (aku sampai berkata ke temanku saat menontonnya bahwa aku mungkin tak akan sanggup jika pacarku memerankan tokoh tersebut meskipun hanya fiksi sebuah drama), Pak Hansip yang ada genitnya juga dan lebih seperti oknum perangkat penjaga keamanan yang pandai sebagai penjilat ke atasannya (yaitu Pak RT), atau Pak RT yang pusingnya sampai bisa dirasakan oleh penontonnya, keberadaan para perempuan dalam pementasan ini perlu juga diapresiasi.
Monica dalam pementasan ini meskipun tak sering muncul di panggung namun menjadi inti masalah dan segala pembahasan dalam cerita. Pembawaan Monica sebagai sosok yang nyanyiannya di kamar mandi sering didengarkan tersebut tidak berlebihan sehingga tidak terlihat sebagai perempuan penggoda. Monica dalam pementasan ini cukup sukses dibawakan sebagai perempuan cantik yang memantik adanya masalah namun ia juga justru yang menjadi korbannya.
Di sisi lain, ada pula Yani (istri Arul), Susi (istri Bagus), Erma, Minah, dan Atun yang sekilas adalah korban dari keberadaan Monica yang menarik perhatian suami-suami mereka. Padahal ‘geng’ ibu-ibu ini secara tak langsung bisa jadi justru pelaku dalam permasalahan pada cerita ini. Keberadaan mereka yang sudah pasti berisik itu secara jenaka merepresentasikan kebanyakan masyarakat saat ini yang mudah dibodohi asumsi tak beralasan, cepat membesar-besarkan masalah, dan menyebarkan fitnah. Aku apresiasi betul totalitas kelimanya yang mampu berperan seperti perempuan julid, rempong, bawel, tukang gosip, dengan busana daster dan bicara ‘nyablak’-nya. Apalagi koreografi kelimanya saat akan mendemo Monica yang memperkuat kesan rempong dan garangnya, adalah koreografi yang sukses mengundang tawa para penonton, aku akui itu keren!
Mengapresiasi Keberanian Mementaskan “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi”
Mungkin bagi beberapa orang dengan status mereka (Teater Samastha) sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto yang notabene adalah kampus Islam, mementaskan “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” adalah anomali (ini adalah diksi yang menurutku menggambarkan penjelasan yang ada di kepalaku), mengingat dalam ceritanya ada hal-hal yang merepresentasikan konteks birahi. Menyanyi di kamar mandi, desahan perempuan, keindahan atau kecantikan perempuan yang dipertontonkan, sampai laki-laki birahi yang tidak pada tempatnya bisa saja dianggap tidak sepantasnya dipentaskan di suatu institusi pendidikan seperti kampus Islam.
Namun justru itu yang aku apresiasi. Keberanian Teater Samastha untuk mementaskan cerita ini bagiku menunjukkan keberadaan mereka yang menegaskan bahwa pentas ini adalah seni. Lalu seni itu sendiri memiliki fungsi untuk menyampaikan kritik, pesan moral, amanat, atau apa pun itu sebutannya dengan cara yang cenderung bisa dinikmati dan tidak menggurui. Singkatnya, pesan tersebut dapat diterima lebih mudah oleh penikmatnya.
Selain itu, mementaskan “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” yang cenderung ‘liar’ sepertinya lebih mudah diterima kritiknya dibanding naskah drama yang cenderung ‘aman-aman saja’. Hal ini sejalan dengan pendapatku mengenai pendidikan yang baik adalah yang tidak hanya mempertontonkan hal-hal yang baik saja tentang dunia ini, sebab realitanya kehidupan ini juga akan dipertemukan dengan sisi-sisi yang buruk, maka tidak menutupi hal-hal buruk tentang dunia ini adalah pendidikan yang jujur. Tidak sedikit, kan, anak-anak yang justru menjadi liar karena dikekang peraturan sekolah atau orang tuanya yang menganggap hanya hal-hal baik saja yang perlu diperlihatkan? Maka pementasan drama dengan cerita yang liar adalah bentuk pendidikan yang jujur, daripada menjadi liar di kemudian hari karena belum belajar, lebih baik mengetahui lebih dulu keliaran tersebut sebagai bentuk pencegahan, kan? Daripada menjadi liar di kehidupan nyata, lebih baik mengetahui keliaran tersebut di dunia fiktif seperti drama, kan?
Sekali lagi, aku mengapresiasi keberanian ini. Mereka (para mahasiswa di balik Teater Samastha) sebagai ‘mahasiswa pendidikan’, belajar dari pementasan “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” rasanya adalah salah satu bekal yang baik seandainya akan menjadi pengajar kelak, supaya murid-muridnya diajarkan untuk melihat dunia secara utuh dengan segala kebaikan dan keburukannya.
Nur Fadhilah Rizqi, warga Purwokerto Utara yang lebih sering disapa Kiki. Hobi ke Rajawali Cinema dan senang-sedang-selalu mencari kesempatan belajar karena banyak nggak tahunya. Selain warung seblak, kedai es krim, warmindo, atau coffee shop, Kiki bisa diajak ngobrol lewat akun instagram pribadinya @rzqrrr.





Saya sebagai mentor dari Teater Samastha yang membersamai prosesnya dari awal sampai puncaknya yaitu pementasan sangat bangga atas hasil yang didapatkan. Dan juga sangat menikmati setiap proses bersama Samastha. Terimakasih atas apresiasinya.