Sulitnya Tantangan Bukan Berarti Tidak Bisa Ditaklukkan

Di tengah kebisingan yang meramaikan suasana sunyi dari tempat yang biasanya diselimuti ketenangan dan kesunyian, aku mendapat ilmu baru yang sangat bermanfaat tentang kepenulisan. Awalnya tidak terpikir olehku akan bergabung dalam acara yang sedang kujalani saat ini, karena bergabungnya aku dalam acara ini seperti merupakan dorongan dari teman-teman yang menyarankanku untuk bergabung dan mengikuti acara ini.

Pada saat pembukaan acara yang ditemani oleh moderator, Kak Kiki. Beliau memberi arahan untuk menuliskan kegagalan yang pernah dialami dan bagaimana cara untuk bangkit dari kegagalan tersebut, kemudian saya menyimpan tulisan itu, karena acara akan segera dimulai.

Acara demi acarapun terlewati, mulai dari sambutan kepala sekolah, Ustadz Pandi Yusron yang menasehati kita tentang perintah Iqro lalu sambutan owner BIL Fest, Kak Rahmi Wijaya. Materi pertama berupa talkshow bersama penulis buku novel “Datanglah ke Pemakamanku Senin Depan”, Kak Latifa dan editor buku tersebut, Kak Cahya. Materi kedua bersama dengan owner BIL Fest tentang bagaimana kita mempublikasikan karya, hingga tiba waktunya materi ketiga bersama Kak Fikri Kuncen yang merupakan Pimred bilfest.id.

Beliau menyampaikan materi tentang cara-cara untuk mulai menulis dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita. Beliau meminta kita untuk mulai menulis dan memberi saran untuk melanjutkan tulisan yang sudah ditulis pada awal acara. Ada saatnya Kak Fikri membaca hasil tulisan sederhanaku, kemudian mengoreksinya dan memberi masukan berupa saran agar aku melanjutkan tulisanku. Aku sangat tidak menyangka karena hasil tulisan sederhanaku dapat dibaca sekaligus dikoreksi langsung oleh pemateri yang merupakan seorang Pimred. Akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan tulisanku tentang kegagalan yang pernah kualami dan cara untuk bangkit dari kegagalan tersebut di halaman ini.

***

Sejak aku menginjakkan kaki di sekolahku dan berseragam putih biru, aku selalu berusaha untuk mencoba hal baru dan memanfaatkan berbagai peluang yang ada. Namun, usahaku selama menempuh pendidikan di jenjang SMP belum membuahkan hasil. Suatu ketika, di penghujung masa SMP aku mendapat informasi terkait lomba membaca berita yang diselenggarakan oleh tim MIT (Media Informasi Teknologi ) sekolahku. Aku memutuskan untuk mencoba mengikuti seleksi perlombaan tersebut, dan aku bersaing melawan ratusan peserta seleksi dari sekolahku. Setelah tahap seleksi, tibalah tahap pengumuman dan ternyata aku masih belum berkesempatan untuk lolos menjadi peserta lomba tersebut. Aku merasa kecewa dan sedih karena karena aku merasa belum bisa menorehkan prestasi apapun selama sekolah di jenjang SMP. Namun, aku mencoba untuk bangkit agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan sambil evaluasi dan instropeksi diri.

Di tahun berikutnya di mana aku sudah berganti jenjang dan berseragam putih abu, aku melanjutkan pendidikan di sekolah yang sama -hanya berbeda jenjang saja. Aku merencanakan semua yang akan aku lakukan di bangku SMA agar tujuan yang ingin aku capai menjadi lebih jelas. Masa pengenalan lingkungan sekolah pun telah usai dan aku mulai membeli makanan ringan di kantin sekolah, salah satu temanku memberi informasi tentang lomba membaca berita sama seperti lomba yang diselenggarakan tahun lalu. Tanpa berpikir panjang, aku langsung mendaftarkan diri untuk mencoba mengikuti seleksi yang kedua kalinya dan aku berusaha untuk menampilkan yang terbaik. Alhamdulillah pada kesempatan kali ini, menjadi juara II dalam perlombaan impianku walau hanya tingkat sekolah. Dari peristiwa tersebut membuatku sadar bahwa segala sesuatu tidak ada yang instan dan pengalaman adalah guru terbaik yang mengajarkanku akan pentingnya proses dalam setiap perjalanan.

Mulai detik itu, aku semakin bersemangat dalam mencoba berbagai hal baru dan selalu berusaha untuk memanfaatkan peluang dan kesempatan dengan semaksimal mungkin. Ini menjadi langkah awal yang mengantarkanku menuju berbagai pengalaman-pengalaman yang sangat berharga dan bermanfaat bagi hidupku, mulai dari perlombaan-perlombaan tingkat kabupaten hingga tingkat nasional, menjadi aktivis berbagai kegiatan hingga organisasi sekolah, dan lain sebagainya. Sehingga aku tidak menghabiskan waktu di masa SMA dengan sia-sia namun dengan prestasi.

Sama halnya dengan acara ini yang memberikanku banyak pelajaran, yang awalnya minat literasiku masih sangat rendah bisa meningkat sedikit demi sedikit karena motivasi dari orang-orang yang aku temui hari ini. Terima kasih BIL Fest karena sudah menginspirasiku dan memberiku kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Semoga BIL Fest dapat semakin sukses dan sedikit dariku dapat bermanfaat untukmu, karena sebaik-baiknya manusia adalah yang dapat bermanfaat bagi yang lain.

***
Tulisan ini adalah hasil setelah penulis mengikuti peluncuran buku “Datanglah ke Pemakamanku Senin Depan” dan workshop menulis kreatif dalam rangkaian Pekan Literasi Masyarakat Banyumas bulan November, kerjasama BIL Fest dan Perpustakaan Zam-Zam pada hari Sabtu, 15 November 2025 (Red).

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top