
Ada begitu banyak kesepian yang mengepung saya selepas pindah dari Yogyakarta menuju Purwokerto pada 2023 silam. Bukan kesepian personal, apalagi kesepian manusia dalam artian yang paling banal, melainkan kesepian kreatif dalam gerakan-gerakan komunal. Ini mungkin, bisa jadi lantaran saya belum benar mengenal medan. Bisa pula lantaran sentimentalitas bayang-bayang Yogya yang konon “tiap gangnya ditemukan penyair”, atau tiap sudut-sudutnya hampir menyediakan kantung-kantung kreatif—khususnya bersastra, umumnya berkesenian.
Dalam kegabutan yang hampir tidak terperi, saya perlahan memulai “susuran” (dari dan) ke belahan-belahan Purwokerto—saya “gabut” membentuk Dua-Belas Pena di Kembaran, saya melipir dan kerap lama mengetik di Pabuwaran, malam-malam kadang bertandang ke Karangklesem, dan pada siang acap kali nongol di Purwanegara. Di Pabuwaran ada Iik Hikmandari dan Coffee at Home, di Karangklesem ada Heru Kurniawan dan Rumah Kreatif Wadas Kelir, dan di Purwanegara ada Prof. Abdul Wachid B.S. dengan SKSP dan Y.K. Nusantara Raya. Selebihnya, adalah perbincangan dengan Hatindriya, atawa perbincangan (sastra yang) sunyi dengan istri. Barangkali, inilah kesepian kreatif sebagai seorang pendatang yang lumayan buta pada peta.
Tetapi memang, gema-dan-sahutan sastra di Purwokerto pernah saya dengarkan pada sekian tahun silam. Di linimasa “buku muka”, Facebook yang riuh-rendah itu, kerap saya baca nama-nama penyair yang bergelut di Komunitas Penyair Institute (KPI) Banyumas, seperti Ahmad Sultoni, Teguh Trianton, Endah Kusumaningrum, dan lainnya, yang pada hari depan setelah penyadaran, hanya saya temukan jejak-jejaknya dalam salah satu buku dari hasil “kliping sastra” Radar Banyumas, Kembang Glepang 4 (SIP Publishing, 2022), atau obrolan ringkas dengan Mas Jarot C. Setyoko pada malam selepas pentas, di beranda Auditorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).
Purwokerto dan Banyumas nyatanya tidak sepi sama sekali dari nama sastrawan dan seniman kenamaan. Ada Ahmad Tohari yang senantiasa (masih) jadi mitos hingga kini,[1] ada Prof. Wachid yang fokusnya pada pembenihan sastrawan-santri-mahasiswa di Universitas Islam Negeri Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) di Purwanegara, ada Jarot C. Setyoko sebagai eks penjaga gawang sastra di Radar Banyumas, ada Edi Romadhon dengan perform dan Gethek-nya, ada Mulasih dan para punggawa Wadas Kelir yang produktif mencipta sastra anak, Rasman dan Dewandaru di Mata Kalam – Mata Nusantara, dan lainnya, dan lainnya.Hanya saja, kegiatan komunalnyalah, sebut saja sebagai laku pengudaraan nama komunitas seperti dilakukan KPI dulu, itu hampir tidak lagi terjadi untuk hari ini.
Apatah sebab-musabab pola pergerakan bersastra macam demikian lantas mengalami pergeseran? Itulah yang coba saya susuri—mungkin lebih tepatnya saya bayangi—dengan pula mencoba mengomparasikan antara struktur dan fenomena bersastra antara Yogya dan Purwokerto, dua kota yang tengah saya diami, dua kota yang kata Panji Pragiwaksono, punya cita rasa yang bermiripan, istimewa dan nyaman.
Tetapi, apa sedemikian bermiripan untuk cita rasa berliterasi dan bersastranya?
Langgam BIL Fest
Sebelum mengomparasikan Purwokerto dengan Yogya melalui subjek dan objek sastranya, saya terdorong untuk menyinggung aktivitas literasi yang baru-baru ini dihelat di Hetero Space Banyumas sebagai titik berangkat perbincangannya. Perhelatan itu adalah Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest). Di bawah ide-ide para penggagas beserta konseptornya, yakni Rahmi Wijayanti, Neo Amroni, Fikri Kuncen, dan lain-lain, BIL Fest memadukan aktivitas perbukuan berupa bazar, diskusi dan talkshow, pameran dan pertunjukan seni, dan lain sebagainya ke dalam satu muara yang mereka bayangkan sebagai kesatupaduan laku “(ber)literasi”.
Saya pribadi, diminta menemani Alvin Qodri Lazuardy dalam talkshow pembuka BIL Fest bertajuk “Peluncuran Buku: Risalah Ekologis”. Dari pendalaman bacaan dan obrolan seputar isu-isu ekologis, saya lantas mengenal tiga langgam utama praktik mencintai, menghormati, dan memelihara lingkungan hidup yang digali dari laku Nabi Muhammad saw. dan para Khulafaur Rasyidin, lewat buku Melawan Nafsu Merusak Bumi (EA Books, 2022) karya AS Rosyid.
Upaya merawat lingkungan hidup secara fisikal, dalam artian alam yang melingkupi kita sebagaimana menjadi topik bahasan buku Alvin dan Rosyid, bagi saya tidak jauh berbeda dengan ikhtiar merawat lingkungan hidup secara kultural—pembiasaan (habituasi), pembuatan kebijakan (struktural), dan penyadaran (etik) atas pentingnya pemberadaban dalam praktik-praktik hidup manusia. Pemberadaban umat manusia, amat bisa diusahakan melalui medium literasi, apa pun bentuknya. Singkatnya, saya ingin mengatkan bahwa perintisan kegiatan literasi dengan melibatkan stakeholder bercakupan luas seperti dilakukan BIL Fest, adalah tindakan nyata ikhtiar merawat “lingkungan hidup” kultural kita.
Aktivitas BIL Fest secara umum—seperti bazar buku, diskusi, pidato kebudayaan, inkubasi penulis, pameran seni, dan sebagainya—adalah langkah pemantik ke arah habituasi, pembiasaan atas praktik literasi, dan wacana-wacana yang digaungkan melalui diskusi atau talkshow di dalamnya, adalah ranah etiknya, suatu laku penyadaran. Tetapi catatan dari Rosyid dalam bukunya juga harus dipertimbangkan (hlm. 4-23), bahwa BIL Fest tidak boleh berhenti hanya pada laku habituasi dan etik, sebab keduanya hanya akan jadi praktik belaka, bisa saja sia-sia, andai ia tidak didukung dan merambah ke ranah struktural.
Kegiatan literasi, bagaimanapun, membutuhkan campur tangan struktural, para pemangku dan “produsen” kebijakan, yang darinya peraturan-peraturan yang merevitalisasi posisi literasi dapat diproduksi. Apakah pihak struktural di Banyumas sudah benar-benar melihat posisi literasi sebagai prioritas dalam praktik kehidupan kultural masyarakatnya? Entahlah. Barangkali, jawaban dari pertanyaan itu dapat kita peroleh dengan mencermati respons langsung orang-orang struktural terhadap penyelenggaraan BIL Fest serentang 12-18 Juni 2025 lalu.
Yogyakarta-JOGLIT Fest ≠ Purwokerto-BIL Fest
Pertanyaan barusanlah yang akan menggiring saya pada sedikit komparasi mengenai aktivitas bersastra di Yogyakarta dan Purwokerto. Akan tetapi, pertama-tama, saya ingin menyampaikan pendirian saya hingga kini, mengenai posisi sastra secara khusus dan posisi literasi secara umum dalam praktik kehidupan masyarakat negara berkembang, semisal Indonesia. Pendirian ini saya bangun di atas argumen hierarki kebutuhan ala Abraham Maslow dalam tulisannya, “A Theory of Human Motivation”(Psychological Review, 1943), dan buku Religions, Values, and Peak-Experiences (Penguin, 1994).
Literasi dan sastra, tidak akan pernah menjadi prioritas selama “kesejahteraan” dalam versi pemerintah dan negara kapitalis belum tercapai. Urusan perut dulu, fisiologis dulu, baru yang “lain-lain”. Ingat: literasi dan sastra adalah urusan “lain”, bukan “utama”. Pihak struktural, di negara ini, bahkan masih berkutat pada pekerjaan rumah untuk mengatasi problematika kepapaan yang berlarut-larut, yang nahasnya, kadang hanya menjadi sesuatu yang terentas belaka—di satu tempat selesai, tempat lainnya setelah diselisik, rupanya masih tak kalah berabe. Bagaimana mungkin isu literasi dan sastra akan diangkat dan diagung-gaungkan, sementara puluhan juta warga negara kita, sepanjang 24 jam, senantiasa diintai kelaparan dan bayang-bayang maut? Sekali lagi: sastra dan literasi, dengan demikian, adalah urusan kesekian. Ia bukan prioritas bagi orang-orang di pemerintahan.
Apa kabarnya di Banyumas? Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Banyumas, pada 2020 silam, Banyumas menempati urutan kedua dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di Jawa Tengah, dan pada 2024 lalu, mengalami penurunan ke angka 11,95%. Dinyatakan, “Percepatan penurunan kemiskinan dan pengangguran tetap menjadi fokus PemKab Banyumas pada tahun 2025.” Dengan argumen saya sebelumnya, lantas melihat data-data statistik itu, maka mungkin literasi dan sastra belum akan mendapat tempat yang berharga di buku harian pihak struktural Banyumas.
Saya meyakini, para penggagas BIL Fest, yang jika disusuri dari profil mereka sebagai para praktisi cum intelektual, memahami benar kenyataan lapangan yang akan mereka hadapi: ada aral dalam ikhtiar menggedor pintu-pintu struktural. Sebagai orang-orang alumnus Yogya, mereka memahami bahwa tak ada Dana Keistimewaan (Danais) di sini, tak ada “lumbung padi” yang bisa dijadikan sasaran empuk bagi “sekopan” proposal kegiatan—maka jelas, bahwa BIL Fest sebenarnya adalah konkretisasi bagi kenekatan dan riak kecil dari gelombang perlawanan atas kemiskinan pengetahuan, atas kemiskinan kemungkinan-kemungkinan berliterasi.
Lewat strategi habituasi dan strategi etik, BIL Fest berupaya menggedor pintu struktural, agar ada pancuran harapan yang menghidupi komunitas-komunitas atau para personal praktisi literasi di lingkup wilayah ini. Yang paling konkret, tentu bukan hanya dukungan berupa apresiasi, pujian, atau hal-hal non-materiel semacam itu, melainkan pemberian dana sebagaimana sudah saya sitir sebelumnya, ada pada Yogya. Purwokerto memang bukan Yogya, tetapi setidak-tidaknya Purwokerto juga mesti rida dan dengan rendah hati berkenan belajar pada Yogya soal strategi memberi perhatian dan harapan hayat bagi para pelaku literasi.
Tahun 2019, dalam keterlibatan sebagai tim pers pada perhelatan Festival Sastra Yogyakarta (JOGLIT Fest) bertema “Gregah”—semula, nama event tersebut ialah Yogyakarta International Literary Festival, dan berbeda dengan perhelatan Festival Sastra Yogyakarta (FSY) yang terkini—saya mendapatkan informasi bahwa pemerintah mengucurkan dana senilai Rp 6 Milyar. Itu tidak lain dilakukan sebagai wujud komitmen pemerintah dalam menguatkan posisi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai daerah istimewa yang menempatkan budaya sebagai bagian penting di dalamnya, seperti dinyatakan Kepala Dinas Kebudayaan DIY saat itu, Aris Eko Nugroho.
Perhelatan literasi, eksistensi komunitas sastra, pertukaran pemikiran, dan produk-produk kebudayaan yang memberadabkan, membutuhkan dukungan struktural yang konkret untuk penyuburan dan penjamurannya. Dukungan yang konkret dari struktural, akan melahirkan militansi dari para penggerak sastra dan literasi. Militansi itu lahir karena adanya keyakinan dan harapan, bahwa literasi memang layak diperjuangkan, bahwa ia memang bisa menghidupkan. Dengan demikian, orang-orang di luar disiplin literasi dan sastra, kemudian mungkin tak lagi begitu sangsi dan abai pada fungsi dan peran keduanya. Ada muara berupa kelindan yang baik antara habituasi, etik, dan struktural di sana. Hal itu terjadi di Yogyakarta, namun belum terjadi di Purwokerto. Perjalanan Purwokerto, saya rasa masih panjang, dan BIL Fest hanyalah percik kecil yang dapat disebut sebagai pantikan.
Kelindan tiga aspek itulah yang barangkali coba dihidupkan oleh BIL Fest: dengan mewadahi praktisi literasi dan sastra sebagai wujud habituasi, menghadirkan diskusi dan talkshow sebagai strategi etik, juga sekaligus melontarkan “gugatan” pada pihak-pihak struktural agar lebih membukakan lumbung bagi bekal-bekal perhelatan yang serupa ke depannya. Apakah BIL Fest harus menggedor lumbung itu sendirian, dan apakah gedorannya bisa cukup kuat untuk didengarkan? Mungkin, inilah yang harus sama-sama kita pikirkan, mesti sama-sama kita kerjakan, agar realitas kita hari ini, memungkinkan sastra dan literasi ditempatkan sebagai tujuan yang vital, sakral, dan seadiluhung-adiluhungnya, oleh seluruh pihak yang berada di lingkup wilayah Banyumas Raya. Demikianlah setidaknya.
Wonosobo-Purwokerto, Juni 2025
[1] Saya menyematkan terma “mitos”, sebab bagi saya, ketika sosok Ahmad Tohari tidak lagi melahirkan karya-karya sastra terbaru, maka keadiluhungan kegiatan dan hasil sastranya tinggallah menjadi “angin di udara”, yang diterima oleh generasi terkini sebagai kehebatan masa lampau yang masih membayang-bayang aktivitas kreatif generasi terkini di Banyumas. Belum ada sesosok pun yang menandingi capaian Tohari di kancah Banyumas. Program pembenihan penulis sebagaimana dilakukan BIL Fest, benar-benar saya sepakati sebagai linimasa dari kiat regenerasi bagi sosok Tohari. Orang-orang Banyumas, khususnya praktisi, pemerhati, dan penikmat sastra, tidak boleh terbius pada satu sosok belaka, melainkan yang lebih urgent hari ini adalah proses pengupayaan kelahiran dan kehadiran sosok-sosok baru yang bisa melanjutkan estafet ketokohan Tohari. Siapa pun, boleh bersepakat dan mengkontra argumen ini.

Ilham Rabbani, pengajar sastra di kampus berwarna biru di Purwokerto. Dosen yang sebenarnya juga masih menjadi mahasiswa berpredikat “pria beristri dengan pengetahuan amat pas-pasan”. Omongan dan tulisannya kadang ‘ncen ra-nggenah blass. Untuk menjalin silaturahmi parsial dengannya, bisa via akun Instagram @_ilhamrabbani.




