Selain tim redaksi, pembaca juga dapat mengirimkan ulasan event atau komunitas. Sehingga dengan media ini, akan semakin tersebar luas informasi dan gagasan yang diperjuangkan. Salam Litetasi, Salam Budaya, Salam Rahayu.

Meskipun malam itu gerimis, namun tidak menyurutkan niat para pegiat literasi di Purwokerto untuk menghadiri acara Tukar Buku Tukar Cerita (TBTC) yang digelar pada hari Sabtu, 28 Juni 2025. Berlokasi di Unsoed Campus Café, Grendeng Purwokerto.
Sejak 18 Januari 2025, TBTC digagas oleh Rasman dari Komunitas Cipta Gembira dengan kolaborasi dengan Muhammad, founder TBM Kalimosodo. Acara tersebut digelar dua minggu sekali di tempat yang sama sejak pertama kali digelar. Unsoed Campus Café dipilih sebagai lokasi acara karena tempatnya yang strategis dan memiliki perlengkapan yang mendukung acara. Sekaligus pihak pengelola café tidak mematok minimal pembelian atau order saat acara berlangsung.
TBTC adalah forum yang terbuka dan siap berkolaborasi dengan komunitas manapun. Tujuannya adalah untuk membantu mempublikasikan acara yang akan digelar oleh sebuah komunitas atau organisasi. Juga menjadi forum untuk memperkenalkan komunitas kepada publik. Selain bedah buku, TBTC juga menghadirkan diskusi tematik, seperti tema literasi keuangan, lingkungan hidup, sastra dan lain sebagainya.
Saat TBTC berlangsung kita dapat membeli buku dengan harga murah. Bisa juga menukar buku kita dengan buku lain. Saat kita datang membawa buku, pengelola TBTC akan menerima buku yang kita bawa, kemudian akan memberikan token sesuai harga buku. Nilai token adalah 5 ribu rupiah. Dengan token itu, kita bisa menukar buku yang berjajar rapi di sana untuk kita bawa pulang. Selain itu TBTC juga menerima hibah buku dari pengunjung yang datang. Jika tidak membawa buku saat acara, kita juga bisa membeli buku yang kita inginkan, tentu dengan harga yang realtif murah.
Komunitas Cipta Gembira dan TBM Kalimosodo dalam menyelenggarakan TBTC tidak ingin mendefinisikan diri memiliki perbedaan dari komunitas lain dalam menyelenggarakan acara. Meskipun ada tukar buku yang dilakukan memakai token sehingga lebih murah. Namun TBTC lebih mengedepankan konsisten dalam menyelenggarakan acara. Selain itu, diskusi atau acara formal dilangsungkan tidak lama. Sehingga setelah itu, peserta yang datang dapat membuat kelompok kecil sendiri dan saling bertegur sapa dengan pengunjung yang lain. Saling tukar cerita dan diskusi.
Kini TBTC sudah edisi ke 10. Berkolaborasi dengan Kolektif Pentol Korek, TBTC menghadirkan diskusi dengan tajuk “Kenyataan dalam fiksi”. Acara tersebut merupakan road to dari peluncurkan buku “Rimbun Kamboja” karya Kalasenja –nama pena—yang diterbitkan oleh Matakalam.
Selain penulisnya, malam itu hadir juga Chaled Moedjaki dari Kolektif Pentol Korek, komunitas yang menjadi tempat Kalasenja melakukan proses kreatif menulisnya. Komunitas yang berbasis di Ajibarang, Banyumas ini yang sejak awal mendorong Kalasenja untuk menerbitkan tulisannya dalam sebuah buku. Pentol Korek juga akan membuat film dokumenter yang diadaptasi dari buku “Rimbun Kamboja”.
Kalasenja dalam diskusi malam itu menyampaikan bawah tulisannya berasal dari kisah nyata yang Ia alami. Kisah setelah suaminya wafat dan meninggalkannya saat mengandung dan kini menjadi orang tua tunggal. Dari suasana itulah akhirnya Kalasenja menulis hingga menjadi sebuah buku. Selama 4 tahun belakangan Kalasenja yang diselimuti kesedihan, menuliskan perasaan hatinya melalui media sosial. Baginya, dengan menulis adalah cara untuk menyampaikan perasaan yang tidak bisa diucapkan, karena jika diungkapkan dengan lisan, Ia takut dihakimi atas perasaan-perasaanya. Membangun karakter atau tokoh dalam tulisannya adalah upaya untuk Ia mengenang –almarhum suaminya. Harapannya dalam karya ini, Ia tetap bisa tumbuh meskipun sudah patah.
Menurut Chaled dari Kolektif Pentol Korek, Kalasenja adalah penulis pemula yang sungguh-sungguh. Karena ketika penerbit meminta untuk merevisi beberapa tulisannya, hanya dalam waktu 2 hari bisa selesai. Sehingga proses buku ini bisa segera sampai ke tangan pembaca.
Buku Rimbun Kamboja akan diluncurkan Sabtu, 5 Juli 2025 di Pring Zone Space, Ajibarang. Bersamaan dengan Screening Film garapan Kolektif Pentol Korek yang diadaptasi dari buku tersebut. Hadir juga Rasman selaku Ower Penerbit Matakalam sebagai pembicara. (red)

dari Banyumas menyapa Indonesia




