
Kebudayaan adalah suatu kebiasaan atau kegiatan yang dilakukan terus menerus dan diwarisi dari generasi lalu ke generasi yang baru. Perkembangan zaman membawa perubahan besar dalam cara masyarakat memandang dan mempraktikkan kebudayaan. Perubahan zaman, teknologi, dan budaya populer perlahan menggeser ruang hidup seni tradisional. Salah satu seni yang mengalami kondisi tersebut adalah Rodat Aksimuda Banyumas, kesenian rakyat yang dahulu hidup dan tumbuh di tengah masyarakat Banyumas namun kini mulai jarang terdengar gaungnya. Lunturnya keberadaan Aksimuda menjadi penanda bahwa seni tradisional membutuhkan perhatian serius agar tidak berhenti sebagai catatan sejarah semata.
Rodat merupakan kesenian rakyat yang bernafas Islam, berdasarkan pandangan integrasi budaya yang menyatakan bahwa karya seni itu tidak lepas dari pada pengaruh pola budaya zamannya (Projosemedi 1970), dapat dikatakan bahwa Rodat di Jawa Tengah muncul dan berkembang pada zaman pengaruh Islam masuk ke Jawa Tengah, kehidupan masyarakat di Banyumas, Aksimuda dulu sering di tampilkan di banyak acara sosial dan keagamaan. Kegiatan ini menjadi bagian dari ciri khas budaya sekaligus cara untuk meneruskan nilai-nilai dari orang tua kepada anak muda. Namun, peran ini sekarang semakin berkurang.
Aksimuda Banyumas adalah komunitas bergenre seni pertunjukan yang memadukan pencak silat, gerak tari, musik tradisional, dan unsur religi. Kesenian ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter. Nilai keberanian, kebersamaan, serta pengendalian diri tercermin dalam setiap gerakan yang ditampilkan. menurut (Mastikaningsih, 2017), Rodat Aksimuda merupakan kesenian rakyat bernuansa Islam yang mengintegrasikan unsur pencak silat dalam gerak tarinya.
Rodat Aksimuda Banyumas memiliki beberapa urutan dalam pertunjukkan terdapat tiga bagian yaitu bagian awal, bagian tengah dan bagian akhir. Bagian awal dari tampilan kesenian Rodat dimulai dengan bunyi musik sebagai tanda bahwa pertunjukan akan segera dimulai. Lagu yang dinyanyikan adalah lagu Sholawat Badar yang bertujuan untuk mengundang para penonton agar menyaksikan pertunjukan tersebut. Setelah itu, para penari juga melakukan doa-doa yang diyakini dapat memberikan karomah dari Allah Swt, sehingga tubuh mereka memiliki daya kekebalan. Doa-doa tersebut antara lain: innama amruhuu izaa arooda shai’an ai-yaquula lahoo kun fa-yakuun dan doa summum bukmum umyum fahum layar ji’un.
Pada bagian tengah, penari sudah berada di panggung dengan posisi berjajar dua kebelakang siap melakukan tarian. Gerakan tari berkembang mengikuti lagu yang dibawakan, seperti penggunaan gerak selingan keprak tangan pada lagu “Kasih Tahu”, gerak malangkerik ukel pada lagu “Ingat-ingat” dan “Ngajio”, serta gerak jalan di tempat dengan unsur tendangan pada lagu “Merah Putih Berkibar”. Sebagai penutup bagian tengah, pertunjukan dilanjutkan dengan aksi adu pencak silat secara improvisasi dalam kondisi tidak sadar yang disertai dengan atraksi kekebalan tubuh, seperti berguling di atas duri pohon salak dan pecahan kaca.
Bagian akhir di bagian akhir pertunjukan seni dari Rodat Grup Aksimuda, para penari tampil lagi sama seperti di awal. Mereka melakukan gerakan yang terlihat seperti bunga dari pencak silat dan ada gerakan tambahan 4, yaitu gerakan malangkerik tangan yang diluruskan. Gerakan pencak silat yang digunakan adalah sempok. Kemudian, ada gerakan tambahan 5, di mana tangan lurus bergerak dari pundak, dengan gerakan pencak silat yang disebut tangkis atas, sempok, dan pukulan ke depan. Setelah pertunjukan selesai, semua anggota Rodat Grup Aksimuda berkumpul untuk mengucapkan terima kasih. Mereka bersyukur karena pertunjukan di rumah hajat telah berjalan dengan baik dan setelah itu, mereka makan bersama. Setelah urutan pertunjukan dari Rodat Aksimuda, kita akan membahas tentang unsur-unsur yang mendukung pertunjukan tersebut.
Unsur-unsur pendukung bentuk gerak pertunjukan tari dari kesenian Rodat Aksimuda melibatkan gerakan kaki, tangan, dan kepala serta menggabungkan unsur gerak pencak silat dan gerakan selingan. Dalam menari, para penari harus selalu kompak dengan anggota kelompok lainnya, karena kesenian ini ditampilkan secara kelompok. Kekompakan sangat penting agar pertunjukan dapat berjalan lancar dan baik. Koreografi kelompok biasanya menggunakan gerakan yang tidak terlalu rumit dibandingkan dengan koreografi tunggal. Contohnya, ketika para penari berjalan di tempat dengan pola lantai berbaris berbanjar dua kebelakang, kemudian diikuti dengan gerakan pencak silat yang dikembangkan, misalnya gerakan pukulan ke depan yang diperkaya dengan ukelan tangan dan gerakan memutar badan. Gerak kesenian ini terbagi menjadi lima gerakan selingan, yaitu keprak tangan, gerak malang kerik ukel, jalan ditempat, gerak malang kerik tangan diluruskan, dan tangan lurus di pundak yang memuat sembilan unsur gerak pencak silat, yaitu tangkis atas, tangkis bawah, tendangan satu, tendangan dua, sempok, kunci depan dan belakang, pukulan ke depan, dobel kepala ke bawah, serta pukulan ke bawah yang dilakukan berulang-ulang.
Setelah selesai melakukan gerakan tari, penari melanjutkan dengan gerakan adu pencak silat antar anggota kelompok dan atraksi lain seperti berguling-guling di atas buah salak serta berguling-guling di atas kaca yang pecah. Gerakan kesenian ini disesuaikan dengan lagu yang dibawakan oleh pesinden. Apabila lagu masih belum selesai ditampilkan, para penari tetap melanjutkan gerakan dengan melakukan ulangan gerak yang sudah ditentukan. Gerak selingan pertama adalah keprak tangan, kemudian diikuti dengan gerak pencak silat yaitu pukulan ke depan dan dobel kepala ke bawah.
Penari merupakan hal yang penting dalam koreografi kelompok karena untuk mengetahui jumlah penari, jenis kelamin, dan postur tubuh penari penari kesenian Rodat Aksimuda merupakan masyarakat yang bersedia menari tanpa ada paksaan, namun ada beberapa persyaratan khusus untuk menjadi penari kesenian Rodat. Syaratnya adalah penari harus laki-laki, penari inti harus remaja dengan usia sekitar 16-18 tahun, sedangkan penari atraksi harus sudah dewasa dengan usia sekitar 55-60 tahun.Jumlah penari dalam kesenian Rodat Aksimuda adalah 11 orang, terdiri dari 8 penari inti dan 3 penari atraksi atau penari adu pencak silat. Ke-11 penari ini memiliki postur tubuh yang berbeda-beda, mulai dari postur pendek hingga tinggi.
Instrumen musik yang digunakan dalam kesenian Rodat Aksimuda adalah genjring (rebana), kecrik, kendang, dan bedhug. Musik tersebut juga dipadukan dengan syair-syair yang diambil dari kitab Al-barzanji, yang berisi ajakan agar manusia selalu mengingat Allah Swt dan Nabi Muhammad Saw. Selain itu, syair dalam lagu banyak menggunakan bahasa Indonesia karena dahulu bahasa Indonesia lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas dibandingkan bahasa Jawa atau Banyumas. Syair-syair dalam kesenian ini juga menggambarkan upaya mempertahankan bangsa Indonesia dan semangat pemuda Islam.
Lunturnya Aksimuda Banyumasan tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses yang panjang. Salah satu indikator paling nyata adalah sudah tidak aktifnya banyak kelompok kesenian Aksimuda. Kelompok yang dahulu rutin berlatih dan tampil kini berhenti karena minimnya anggota, keterbatasan dukungan, serta kurangnya regenerasi. Perubahan cara hidup orang-orang juga mempercepat keadaan ini. Anak-anak muda lebih berminat pada budaya yang sedang hits dan dianggap lebih kekinian serta praktis. Seni tradisional seperti Aksimuda dianggap kurang cocok dengan kebutuhan saat ini, sehingga menurun daya tariknya di masyarakat. Akibatnya, Aksimuda semakin terabaikan dan hanya terlihat dalam catatan atau ingatan mereka yang sudah lama terlibat.

Seiring berjalannya waktu Rodat Aksimuda Banyumas mengalami kemunduran bukan sekadar lenyapnya suatu jenis seni pertunjukan, tetapi juga kehilangan cara untuk menyampaikan budaya yang telah memainkan peran penting dalam membangun identitas masyarakat Banyumas. Pelestarian Aksimuda bukan hanya untuk menjaga seni itu sendiri, tetapi juga untuk menjaga budaya yang ada di dalamnya supaya tetap sesuai dengan kemajuan zaman. Oleh sebab itu, kita perlu cara baru yang bisa menghubungkan tradisi dengan hal-hal modern.
Langkah yang penting untuk menghidupkan kembali komunitas rodat Aksimuda. Menghidupkan bukan berarti hanya mengulang latihan atau pertunjukan, tetapi juga menciptakan kembali semangat bersama dalam komunitas. Kelompok seni perlu memiliki tempat untuk berlatih secara teratur, baik melalui fasilitas di desa, pusat budaya, maupun tempat umum yang bisa dijangkau oleh orang-orang. Dukungan ini sangat penting agar Aksimuda bisa muncul kembali sebagai kegiatan budaya yang nyata, bukan hanya sekadar tanda dari warisan.
Peran pemerintah daerah sangat penting dalam hal ini. Bantuan dalam bentuk kebijakan, dana, dan pengakuan resmi untuk Aksimuda Banyumas bisa memberikan dukungan dan semangat bagi para seniman. Program untuk melatih seni tradisional yang terus-menerus, bukan hanya sekadar acara seremonial, dapat membantu menghidupkan kembali komunitas seni yang sebelumnya tidak aktif. Dengan dukungan dari lembaga, aksi muda punya kesempatan untuk kembali menjadi bagian dari budaya masyarakat.
Selain dukungan dari pemerintah, pelestarian aksi muda juga perlu mencakup pendidikan tentang budaya. Menggabungkan Aksimuda Banyumasan dalam program pendidikan resmi dan tidak resmi bisa jadi cara yang baik untuk membentuk generasi baru. Sekolah dapat menjadi tempat pertama untuk mengenal seni tradisional, baik lewat pelajaran lokal, kegiatan ekstrakurikuler, atau kerja sama dengan seniman setempat. Dengan pendidikan, anak-anak muda tidak hanya melihat aksi muda sebagai sebuah pertunjukan, tetapi juga mengerti nilai dan makna yang ada di dalamnya.
Pemanfaatan media digital juga bisa menjadi bagian dari rencana untuk melestarikan budaya. Pertunjukan, latihan, serta cerita di balik Aksimuda Banyumas bisa dibagikan lewat platform digital dalam bentuk video. Walaupun media digital tidak bisa menggantikan pengalaman langsung, media ini bisa menjadi cara untuk mengenalkan dan menyimpan budaya. Dengan cara ini, Aksimuda bisa menjangkau anak muda yang lebih terbiasa dengan teknologi, tanpa mengurangi nilai-nilai tradisional yang ada.
Strategi ini untuk menjaga budaya juga harus memikirkan kesejahteraan orang-orang yang berkecimpung di bidang seni. Jika para pelaku seni merasa bahwa kegiatan budaya tidak memiliki manfaat finansial atau sosial, maka mereka akan kesulitan untuk terus bertahan. Oleh karena itu, penting untuk merancang sistem insentif, penghargaan, atau bentuk-bentuk dukungan lainnya yang bisa mendorong pelaku seni agar tetap berpartisipasi. Menjaga budaya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan orang-orang yang menjalankannya.
Menjaga Aksimuda Banyumasan tidak bisa dianggap sebagai usaha untuk mengenang masa lalu, tapi sebagai tanggung jawab untuk budaya di masa sekarang dan yang akan datang. Menghidupkan kembali kelompok seni, memperkuat pendidikan budaya, dukungan dari lembaga, dan menggunakan media modern harus dilakukan secara terus-menerus dan saling berkaitan. Pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan bersama, tidak hanya dari para seniman, tapi juga dari masyarakat, sekolah, dan pemerintah.
Menyadari bahwa tentang Aksimuda Banyumas masih kurang mendalam dan data yang ada juga terbatas. Namun, lewat esai ini, saya ingin menunjukkan kepedulian dan kecemasan saya sebagai anak muda terhadap menghilangnya salah satu seni tradisional Banyumas yang semakin kehilangan tempatnya. Tidak aktifnya kelompok Aksimuda menunjukkan bahwa budaya lokal perlu mendapat perhatian yang serius, terutama dari generasi yang akan mewariskannya.
Daftar Pustaka:
– Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyumas. (2019). Profil Kesenian Tradisional Banyumas. Banyumas: Disbudpar
– Mastikaningsih, R. (2017). UNSUR UNSUR GERAK PENCAK SILAT PADA KESENIAN RODAT GRUP AKSIMUDA BINTANG 09 DESA KLAPAGADING CITOMO KECAMATAN WANGON KABUPATEN BANYUMAS SKRIPSI.
– Projosemedi. “Kesenian Daerah Klasifikasi dan Pendekatan Masalahnya”, dalam majalah bulanan Basis, Edisi No. XIX-8. Jakarta: Percetakan Offset Kanisius, 1970
Ubay Zaiim Aufaa, mahasiswa Ilmu Komunikasi Amikom Purwokerto kelahiran Banyumas, tahun 2007. Di samping kesibukan akademiknya, pemuda asal Desa Gununglurah ini juga berdedikasi dalam organisasi Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Kamu dapat menjalin jejaring dan berdiskusi lebih lanjut dengannya melalui akun Instagram @ubay_zaim




