
Salah satu titik balik sejarah Indonesia pada masa pra kemerdekaan adalah politik etis yang dihadirkan oleh Pemerintah Belanda. Kebijakan kolonial yang juga dikenal sebagai politik balas budi. Pada awalnya, kebijakan ini hadir sebagai bentuk tanggungjawab atas penjajahan yang mengakibatkan jatuhnya taraf hidup masyarakat bumiputera. Politik etis ini dijalankan pemerintah belanda pada awal abad ke-20 yang terfokus pada tiga program besar, yakni 1) irigasi dan infrastruktur, 2) pendidikan, dan 3) transmigrasi. Politik etis memberikan dampak yang luar biasa pada kehidupan masyarakat bumiputera saat itu.
Bidang pendidikan memiliki dampak yang signifikan diantara dua program lainnya. Melalui sekolah-sekolah yang didirikan, masyarakat bumiputera mulai bisa membaca, menulis, berhitung, berbahasa belanda, hingga terpapar pemikiran-pemikiran barat. Singkat cerita, output kebijakan yang paling mengubah arah nasib masyarakat bumiputera datang dari kaum terpelajar yang tersadarkan. Sebutlah mereka Dr. Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Dr. Wahidin Soedirohoesodo, dan lainnya yang hadir mendirikan organisasi Boedi Oetomo. Organisasi yang mengawali arc pergerakan nasional menuju proklamasi kemerdekaan.
Kesempatan untuk mengakses pendidikan telah membuka, tidak hanya potensi manusia itu sendiri tetapi juga menimbulkan kesadaran tentang kondisi kehidupan. Begitulah fitrah pendidikan yang digambarkan oleh Paulo Freire dan konsep pendidikan taman siswa oleh Ki Hajar Dewantara. Pendidikan membuat pendiri bangsa memiliki sikap terhadap status quo, memiliki aspirasi untuk mengubahnya, dan akhirnya memiliki kapasitas untuk mewujudkannya. Pendidikan telah dan akan terus menjadi pintu perubahan.
Memperkenalkan Beasiswa Muda Purbalingga
Sebuah gerakan anak muda Purbalingga yang terinspirasi dari sejarah perjuangan bangsa hadir untuk mengentaskan keresahan yang sama, yaitu kondisi status quo khususnya di Purbalingga. Jika pada masa pergerakan nasional para pendiri bangsa dihadapkan dengan cengkeraman kuasa penjajah sebagai status quo. Pada saat ini, status quo yang berusaha ditantang oleh Beasiswa Muda Purbalingga yaitu, 1) Rata-rata lama sekolah di Purbalingga yang hanya 7,34 tahun, 2) Kabupaten termiskin ke-7 di Jawa Tengah dengan angka kemiskinan 14,18% pada tahun 2024, dan 3) Rata-rata penduduk Indonesia yang mampu merasakan pendidikan tinggi hanya kisaran 10%.
Fakta sejarah bangsa ini secara terang menunjukkan bahwa melalui pendidikan bangsa Indonesia bisa merdeka. Beasiswa Muda Purbalingga hadir dari keresahan yang valid, tergambar pada realitas saat ini dan masa lalu. Beasiswa Muda Purbalingga mencoba menyadarkan anak muda melalui pendidikan. Dengan mengeluarkan Purbalingga dari status quo sebagai visi besarnya, Beasiswa Muda Purbalingga mengambil jalan untuk memfasilitasi siswa kelas 12 SMA/Sederajat yang memiliki kehendak kuat untuk melanjutkan kuliah, tetapi menghadapi keraguan finansial atau lingkungan belajar yang kurang kondusif.
Beasiswa Muda Purbalingga mengawinkan tiga elemen sebagai motor penggeraknya, yaitu
Pertama, Semangat mencerdaskan kehidupan bangsa yang mana merupakan janji kemerdekaan negara. Yang mana sudah seharusnya warga negara Indonesia sama-sama mengamini dan bergotong-royong untuk mewujudkannya
Kedua, Wujud rasa syukur atas ilmu dan kesempatan yang diperoleh. Kaum terpelajar memiliki tanggungjawab moral untuk “pulang” dan berdampak kepada masyarakat. Sebagaimana fungsi mahasiswa sebagai agent of change.
Ketiga, Kehendak untuk bermanfaat. Berusaha “mengeksploitasi” dorongan hati manusia yang ingin terus bermanfaat untuk lingkungannya.
Tahun ini adalah tahun ketiga bagi Beasiswa Muda Purbalingga bergerak. Di umurnya yang masih balita ini, Beasiswa Muda Purbalingga telah banyak memberi dampak. Mulai dari 22 awardee atau penerima manfaat telah berproses bersama, belasan pihak berkolaborasi, puluhan relawan dan donatur tergerak, ratusan pelajar SMA/Sederajat tersosialisasi, dan ribuan orang menjadi saksi gerakan ini.
Ada beberapa kegiatan yang ditawarkan Beasiswa Muda Purbalingga kepada penerima manfaat, antara lain:
Pertama, Onboarding, yaitu penyamaan “suhu” atau semangat penerima beasiswa, orang tua, dan relawan. Dilakukan diawal proses pembelajaran, membantu penerima beasiswa beradaptasi lebih baik juga mengetahui hak dan kewajibannya sebagai penerima manfaat.
Kedua, Belajar Pekanan, yaitu menu utama yang dihidangkan kepada penerima beasiswa. Setiap hari Sabtu dan Minggu, sedari bulan November hingga pelaksanaan SNBT. Didampingi oleh relawan pengajar dari beragam latar.
Ketiga, Bootcamp, yaitu pembelajaran secara intensif bagi penerima beasiswa. Serangkaian pembelajaran dilakukan dalam kurun waktu 3 hari berturut-turut. Mulai dari simulasi ujian, sharing bersama alumni, hingga belajar seluruh sub-tes SNBT.
Keempat, Presentasi pemilihan jurusan. Tidak hanya belajar sub tes yang diujikan saja, penerima beasiswa juga diarahkan untuk memilih jurusan dan kampus yang tepat. Penerima beasiswa dibekali framework untuk memilih program studi dengan menakar kemauan, kemampuan, dan kebutuhan dunia.
Kelima, Kelas pengembangan diri. Penerima beasiswa juga dibekali peningkatan kapasitas diri yang diharapkan membangun kesiapan diri dengan dunia perguruan tinggi. Mulai dari manajemen diri hingga mengenalkan dunia riset.
Keenam, Graduation, yaitu seremonial kelulusan penerima beasiswa yang menandakan berakhirnya manfaat yang diberikan juga sebagai momen menyampaikan hasil yang telah dilakukan selama kurun waktu pembelajaran.
Membumikan Kawah Candradimuka untuk semua
Sebuah nasihat menarik dari kisah pewayangan dari sosok Gatotkaca dan Kawah Candradimuka. Sebagaimana kita ketahui, tokoh Gatotkaca memiliki perawakan yang luar biasa, digambarkan memiliki otot kawat dan tulang besi, selain itu juga sakti mandraguna. Tentu, kesaktian Gatotkaca tidak datang dengan cuma-cuma, akan tetapi melalui proses perjuangan melalui Kawah Candradimuka. Terdapat dua versi cerita Gatotkaca, versi pertama Gatotkaca diceburkan ke Kawah Candradimuka untuk menghilangkan sifat raksasa dan sifat jahatnya. Lalu versi kedua, Gatotkaca dilatih di Kawah Candradimuka oleh Batara Guru dan para dewa dengan meleburkan berbagai pusaka ke dalam tubuh Gatotkaca.
Sebagian orang melihat cerita Gatotkaca dengan menyorot tokoh Gatotkaca itu sendiri. Tapi coba bayangkan apa jadinya Gatotkaca tanpa Kawah Candradimuka. Bisa jadi dia akan jadi sosok raksasa yang penuh sifat jahat, bisa jadi menghancurkan apa yang telah Pandawa bangun dan perjuangkan. Memetik sudut pandang ini, kita jadi bisa melihat bahwa proses penempaan menjadi kunci penting yang tidak hanya mampu mengubah seseorang, tetapi juga menaikkan derajat seseorang.
Tentu, tokoh Gatotkaca memiliki privilege yang tidak dimiliki oleh sebagian besar masyarakat kita, dalam hal ini masyarakat Purbalingga. Tidak semua terlahir dari sosok “Werkudara” dan tidak semua punya akses belajar dengan “Batara Guru”. Begitulah perumpaan Beasiswa Muda Purbalingga yang hadir sebagai “Kawah Candradimuka” dalam versi terjangkau bagi kalangan yang kurang beruntung.
Sebagaimana Kawah Candradimuka yang menempa Gatotkaca menjadi sosok yang sakti. Beasiswa Muda Purbalingga membantu menjadi tempat penempaan putra-putri daerah Purbalingga untuk berkembang melalui pendidikan. Dengan harapan, semakin banyak sosok “Gatokaca Purbalingga” yang mampu mewujudkan tujuan akhir dari gerakan ini, yaitu mengeluarkan Purbalingga dari status quo. Sebagaimana Gatotkaca yang berperan membuka pintu kemenangan bagi pasukan Pandawa dalam Perang Bharatayudha.
Informasi mengenai Beasiswa Muda Purbalingga dapat dengan mudah diakses melalui media sosial Instagram, yaitu @muda.purbalingga. Beragam informasi pendidikan, kegiatan terkini, hingga kesempatan menjadi donatur dan kolaborator dapat ditemukan. Untuk mengetahui kilas dampak Beasiswa Muda Purbalingga bisa diakses melalui bit.ly/LAPORANFINAL25. Beasiswa Muda Purbalingga bukanlah milik sepihak, melainkan milik siapapun yang peduli tentang pendidikan. Menurut inisiator Beasiswa Muda Purbalingga, yaitu Mas Sidik Nur Rakhmat (alumni ITB 2016),
“Barangkali kita bisa sendirian melakukan perubahan. Tapi, bergerak ramai-ramai tentu akan lebih menyenangkan. Dan lagi, dampaknya bisa lebih dirasakan”
Muhamad Wafa Alvaroli Firdauz.
Mas Wafa, begitulah sapaan pemuda kelahiran 1999 itu. Berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi dengan gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Diponegoro. Di tengah kesibukannya sekarang, tidak menyurutkan semangat untuk aktif menghidupkan komunitas literasi di Purbalingga. Baginya, membaca dan menulis adalah cara paling asyik berimajinasi dan menuangkan rasa dan pikiran. Bisa disapa melalui Instagram @moch_wafaa.




