Dari Tombak Menjadi Kontrak

Maling zaman dahulu lebih terlihat ganas, angker seperti hantu karena membawa golok atau tombak dan wajahnya yang terlihat sangar karena dipenuhi brewok dan jenggot serta rambutnya yang urak-urakan. Pada zaman yang selalu bergerak dinamis ini, mengharuskan semua hal wajib bertransformasi. Mereka yang tidak bertransformasi akan terlahap oleh gelapnya zaman. Contoh saja, manusia zaman dahulu jika ingin membeli makanan maka ia harus ke pasar. Namun sekarang cukup tap-tap layar gawai maka driver akan muncul secepat kilat layaknya manusia super.

Semua hal harus bertransformasi, begitupula dengan maling. Maling zaman dahulu bisa jadi kaya raya sebab kegiatannya, tapi tidak mempunyai keinginan membeli peralatan untuk merias wajah dan pakaiannya. Maling zaman dahulu belum tentu semuanya berpendidikan, tapi sekarang semuanya bisa jadi telah mengenyam kewajiban berpendidikan, setidaknya kalau sekarang maksimal 12 tahun.

Pertanyaan besar, bagaimana perbedaan antara keduanya? Tentu saja salah satunya dalam mekanisme kerjanya. Maling zaman dahulu bisa dibilang pemberani, door to door membawa golok memasuki rumah orang atau menghadang di tengah jalan. Maling sekarang tentu lebih berani, senjata mereka hanya sebuah pulpen dan selembar dokumen. Barang yang dimalingi pun bukan hanya satu rumah, bisa jadi lebih dari 1 juta rumah atau bahkan sampai generasi selanjutnya. Merugikan segelintir orang bagi mereka adalah maling yang tidak memiliki integritas, apalagi di zaman 5.0.

“Maling sekarang tentu lebih berani, senjata mereka hanya sebuah pulpen dan selembar dokumen.”

Saya tidak perlu menyebut satu persatu dalam tulisan ini guna mendukung argumen yang sudah dijelaskan. Kamu hanya perlu pasang kata kunci korupsi di Google atau kalau malas membaca gunakan saja AI untuk membantu memahami persoalan korupsi yang ada di Negara Konoha. Anda tak perlu menjadi pintar untuk mengerti bahwa korupsi merupakan kegiatan yang paling buruk. Jika bom atom dan nuklir dikecam karena menimbulkan kerusakan yang sangat besar saat perang dunia, maka ketahuilah nuklir yang paling bahaya juga ada pada negara kita. Nuklir harus segera diatasi sebelum meledak dan menghancurkan peradaban.

Maling zaman dahulu ditakuti, tapi sekarang malah disegani bahkan disanjung dan mendapatkan fasilitas yang mumpuni. Makanan lezat, rumah mewah dan taman surga yang sudah mereka dapat tidak layak jika dibandingkan dengan rumah peyot di pinggir kali ala ala rumah pemulung. Jika kecerdasan menjadi faktor adanya korupsi, maka terkutuklah kecerdasan itu.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top