Orang Desa Tak Pakai Dolar, Tapi Kenapa Dipaksa Merasakan Efek Kenaikannya?

Ada kalimat pernyataan dari sosok pemimpin negeri yang saat ini ramai dibicarakan, “Rakyat desa tidak memakai dolar, jadi tidak perlu panik ketika kurs dolar naik”. Sekilas terdengar sederhana, bahkan mungkin dimaksudkan untuk menenangkan.

Namun bagi banyak rakyat kecil, kalimat seperti itu justru terasa menyakitkan. Bukan karena mereka memahami teori ekonomi tingkat tinggi, melainkan karena mereka hidup dalam kenyataan yang jauh lebih nyata. Harga kebutuhan pokok terus naik, sementara pendapatan tidak ikut bertambah, bahkan tak sedikit yang terkena PHK.

Memang benar, orang desa tidak bertransaksi menggunakan dolar. Petani di sawah tidak dibayar dengan mata uang Amerika. Pedagang sayur di pasar tradisional tidak menjual cabai dengan kurs internasional. Namun persoalannya, ekonomi tidak bekerja sesederhana itu, bung!

Ketika dolar naik, harga bahan bakar tertekan. Ongkos distribusi ikut naik. Pupuk mahal. Pakan ternak naik. Harga bahan baku industri meningkat. Semua efek itu merembet sampai ke warung kecil di desa-desa yang warganya tak pakai dolar. Pada akhirnya rakyat kecil tetap menjadi penerima efek pertama dan membayar dampaknya secara nyata, meski mereka bahkan mungkin tidak pernah melihat bentuk dolar secara langsung.

Rakyat hari ini bukan sedang panik karena angka kurs dolar yang santer dibicarakan. Mereka panik karena uang belanja terasa makin cepat habis. Mereka cemas karena harga kebutuhan harian perlahan bergerak naik sementara kehidupan terasa semakin sempit.

Hal yang membuat keadaan terasa ironis adalah ketika pemerintah justru sibuk memamerkan program-program besar yang diklaim pro rakyat, tetapi pelaksanaannya sering jauh dari harapan. Salah satu contoh yang paling ramai adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Nama “gratis” terdengar indah di telinga masyarakat. Namun publik tentu paham bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar gratis di dunia ini, termasuk dalam negara. Semua dibiayai oleh uang rakyat, dari pajak, utang negara, hingga pemotongan anggaran di sektor lain.

Pertanyaannya, apakah program sebesar itu benar-benar menjadi prioritas utama ketika banyak persoalan dasar yang lebih mendesak belum selesai?

Ironisnya, di tengah narasi tentang makanan bergizi untuk anak-anak, publik justru beberapa kali melihat menu yang dipertanyakan kualitas gizinya. Ada makanan ultra proses, bahkan makanan yang selama ini dikenal sebagai junk food. Hal ini memunculkan pertanyaan yang wajar, apakah program ini sungguh dirancang demi kesehatan generasi masa depan, atau sekadar proyek besar yang enak dijual secara politik dan menguntungkan beberapa pihak yang “bermain” di dalamnya?

Di negeri ini, terlalu sering kebijakan dibungkus slogan manis sementara rakyat diminta menerima tanpa banyak bertanya. Kritik dianggap gangguan. Keresahan dianggap pesimisme. Padahal justru pertanyaan-pertanyaan kritis itulah bentuk kepedulian terhadap masa depan bangsa.

Rakyat tidak menolak jika anak-anak diberikan makanan yang layak. Tidak ada orang waras yang menolak gizi yang baik untuk generasi muda. Namun rakyat berhak bertanya, mengapa negara begitu mudah menghamburkan dana besar untuk program populis, sementara petani masih kesulitan pupuk, pendidikan mahal, layanan kesehatan timpang, dan lapangan kerja yang semakin sempit?

Kita seperti hidup di negara yang sibuk membangun pencitraan, tetapi lupa membangun fondasi. Program diumumkan besar-besaran, baliho dipasang di mana-mana, pidato disampaikan penuh optimisme yang menggebu, tetapi kehidupan rakyat tetap berjalan dalam kecemasan sehari-hari.

Orang desa mungkin tidak memakai dolar. Tetapi mereka merasakan ketika harga solar naik. Mereka merasakan ketika pupuk sulit didapat. Mereka merasakan ketika harga sembako berubah setiap minggu. Mereka merasakan ketika uang seratus ribu yang dulu cukup untuk beberapa hari kini habis dalam sekali belanja.

Karena itu, persoalan sebenarnya bukan sekadar dolar atau bukan dolar. Persoalannya adalah apakah negara masih mau mendengar denyut kehidupan rakyat biasa, atau justru semakin jauh tenggelam dalam proyek-proyek ambisius yang megah di atas kertas namun rapuh dalam kenyataan.

Sebab pada akhirnya, rakyat tidak hidup dari slogan. Rakyat hidup dari harga kebutuhan yang terjangkau, pekerjaan yang layak, dan pemerintah yang benar-benar berpihak kepada mereka.

Pedagang sayur di pasar tradisional tidak menjual cabai dengan kurs internasional. Namun persoalannya, ekonomi tidak bekerja sesederhana itu, bung!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top