
“Farel, duduk! Atau keluar dari kelas saja!”
Suara nyaring terdengar dari luar kelas PAUD. Bunda guru merasa sudah kewalahan menghadapi sikap Farel yang setiap hari selalu saja berulah. Mulai dari berlarian di kelas, duduk di atas meja hingga berdiri di atas sound system.
Bunda guru tidak pernah kehabisan ide untuk menangani Farel. Pertama, bunda guru memberikan “iming-iming” hadiah bintang pada anak yang mau duduk tenang. Perlahan Farel mengikuti permintaan bunda guru. Kemudian dengan berbicara dari hati ke hati dengan Farel, bunda guru membuat kesepakatan dengannya.
“Kalau Farel selalu bisa selalu belajar dengan baik di kelas, bunda guru akan selalu kasih hadiah bintang untuk Farel. Farel mau?” tanya bunda guru.
“Iya! Iya! Iya!” jawab Farel dengan riang.
Apa yang dilakukan oleh bunda guru terhadap Farel merupakan salah satu trik untuk menanamkan karakter disiplin pada anak. Disiplin merupakan sebuah sikap taat dan patuh pada peraturan berdampak pada terbentuknya rasa tanggung jawab pada diri masing-masing orang. Disiplin juga dapat diartikan sebagai sikap menghormati, menghargai serta mampu mengendalikan diri untuk tidak menyalahi aturan yang telah disepakati.
Menanamkan karakter disiplin pada anak usia dini tidak bisa dilakukan secara cepat dan dalam kurun waktu yang singkat. Terlebih lagi di jenjang pendidikan usia dini seperti contoh cerita di atas. Masing-masing anak usia dini memiliki kemampuan pemahaman disiplin yang berbeda-beda. Ketelatenan, berbagai jurus dan usaha perlu dilakukan agar anak usia dini memahami betul apa itu disiplin tanpa harus melukai mereka dengan ancaman dan hukuman.
Air di Lantai
Menanamkan disiplin pada anak usia dini pasti akan ada banyak seni di dalamnya. Mulai seni drama anak menangis hingga seni musik suara nada tinggi seorang ibu yang marah. Seperti yang terjadi di rumah Bu Ari.
Siang itu Alif tak sengaja menumpahkan minumnya. Air pun membasahi lantai.
“Diam disitu! Jangan bergerak atau kamu akan jatuh terpeleset!”, kata Bu Ari dengan sangat keras.
Namun, nada keras yang diucapkan ibunya tak dipedulikan oleh Alif yang masing berusia dua setengah tahun. Ari tetap bergerak dan berjalan melewati genangan air di lantai. Lalu dia pergi meninggalkan ibunya yang marah.
Menanamkan disiplin pada anak tidak berarti harus dengan marah dan nada tinggj saat berbicara pada anak. Andai saja saat itu Bu Ari berkata pada Alif dengan sedikit lembut dan tegas misalnya,
“Ayo kita ambil kain untuk mengepel lantai agar kau tidak terpeleset!”
Tentu saja Alif akan lebih memahami sebuah aturan jika ada air di lantai maka harus segera dibersihkan agar tidak mencelakakan orang lain.
Hal pertama yang dapat dilakukan oleh setiap orang tua dalam menanamkan karakter disiplin pada anak yang masih berusia dini adalah mengubah nada bicara keras menjadi nada bicara yang lembut namun tegas bahwa ada aturan yang harus mereka lakukan.
Aku yang Cuci Sendiri!
Orang tua adalah panutan bagi anak usia dini. Tingkah laku anak yang masih berusia dini sering meniru apa yang dilakukan oleh orang tua mereka. Menerapkan kebiasaan yang rutin di depan anak tidak menutup kemungkinan akan membuat anak juga memiliki kebiasaan yang sama dengan orang tuanya.
Usai makan, Ibu Lani selalu menyuci piring dan sendok yang telah selesai dia pakai. Lalu dia letakkan piring dan sendok yang telah bersih di rak piring. Tanpa Bu Lani sadari, putri kecilnya yang berusia tiga tahun selalu mengamati kebiasaan ibunya tersebut. Hingga suatu hari, putrinya berkata usai makan siang.
“Bunda, aku mau cuci piring sendiri!”
Bu Lani membantu putrinya dengan mengangkatnya ke wastafel tempat mencuci piring. Usai mencuci piring dan sendok, putrinya meletakkan piring dan sendok miliknya yang sudah bersih di rak piring.
Menerapkan disiplin pada anak tidak selalu dengan menyuruh, membentak, atau memaksa anak untuk patuh pada aturan di rumah. Menerapkan serta mencontohkan berbagai kebiasaan baik di rumah menjadi trik yang jitu untuk membuat anak memahami pentingnya disiplin bagi dirinya.
Mengapa Harus Begitu?
Setiap anak butuh arahan-arahan positif dari orang tua. Dalam menyampaikan setiap arahan kepada anak, tidak melulu harus dengan perintah keras. Akan lebih baik jika melakukan arahan secara rutin dan konsisten kepada anak. Sehingga terbentuk sebuah rutinitas yang menjadi aturan bagi anak.
Ibu selalu melihat Dena yang masih TK meletakkan sepatunya di depan pintu. Tas miliknya pun sering Dena letakkan di atas kasur. Belum lagi baju seragam yang Dena lepaskan, tak segera digantung. Rasa risih sudah pasti ibu rasakan saat melihat Dena demikian setiap pulang sekolah. Namun, ibu sudah tidak ingin mengarahkan Dena dengan cara bentakkan.
“Bisa tolong ibu? Coba letakkan sepatumu di rak!”
“Simpan tasmu di atas meja dan ini gantungan untuk baju seragammu!”
Kalimat itu menjadi senjata ibu setiap hari. Ibu tidak pernah bosan menjadi “alarm” pengingat bagi Dena. Sampai suatu hari ibu melihat Dena merapikan sepatu, tas dan baju seragam seperti kebiasaan yang terapkan, tanpa harus mengingatkannya.
Pada dasarnya, anak-anak memerlukan sikap konsisten dari orang tua mereka. Sikap konsisten ini yang menjadi pondasi dalam menanamkan karakter disiplin pada anak. Jika orang tua sedang menerapkan sebuah aturan di rumah, maka orang tua wajib menjadi “alarm” pengingat bagi anak. Sehingga anak memahami bagaimana cara disiplin terhadap aturan yang diterapkan orang tua.
Menanamkan karakter disiplin di dalam keluarga adalah hal yang wajib dilakukan sebagai bekal kehidupan anak-anak kita kelak ketika mereka terjun di dunia masyarakat. Sehingga anak-anak kita kelak bisa tumbuh menjadi anak yang memiliki tanggung jawab serta berjiwa integritas.

Agustina Wulandari Sutoro. Setiap hari Ia mengabdikan diri di SMP N 4 Sumbang sebagai guru matematika dan juga sebagai tutor matematika di PKBM Rumah Kreatif Wadas Kelir. Hobinya adalah menulis. Ia tinggal di Kranji Purwokerto Timur. Dapat menghubungi saya melalui IG : agustina0890




