
Suatu sore, saat azan berkumandang. Seorang anak berusia tiga tahun menarik tangan neneknya. “Ayo ambil air wudhu, Uti!”, ajak anak itu. Sang nenek kemudian merespon ajakkan si balita dengan wajah tersenyum. Dia menuntun cucunya untuk mengambil air wudhu. setelahnya ambilkan mukena kecil kesukaan cucunya. Kemudian sang nenek pun mengajak cucunya beribadah bersama.
Sikap tanggap yang ditunjukkan balita di atas saat mendengar suara azan berkumandang, merupakan salah satu tanda bahwa karakter pada anak sudah mulai muncul sejak dini. Ajakkannya untuk mengambil air wudhu merupakan suatu pembelajaran bahwa dia tahu mendengar azan adalah tanda bahwa waktunya untuk menunaikan ibadah. Tanda – tanda kecil demikian wajib diberi umpan balik oleh setiap orang tua. Agar karakter religius dalam diri anak semakin terpupuk.
Religius memiliki kata dasar religi yang berarti memiliki sifat dekat dengan Tuhan. Religius merupakan salah satu karakter yang melekat pada seseorang kemudian dicerminkan melalui sikap taat beribadah sesuai ajaran agama yang dianut, saling menghormati antar pemeluk agama, serta mengasihi sesama makhluk ciptaan Tuhan. Karakter religius dibentuk dengan bersumber dari ajaran agama yang dianut masing – masing orang, kemudian diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Menanamkan karakter religius tidak sebatas anak mampu menunaikan ibadah dengan baik. Namun anak juga harus bisa memahami bahwa ada larangan yang ditentukan oleh Tuhan, bagaimana hidup bermasyarakat dengan berpedoman pada agama yang dianut.
Untuk bisa menanamkan karakter religius, tentu saja tidak secara instan dapat diajarkan –meskipun anak sudah sekolah. Akan tetapi lingkungan keluarga lah yang memiliki peran penting dalam menumbuhkan dan memupuk karakter religi di dalam diri setiap anak. Anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga. Maka memberikan contoh – contoh bagaimana orang tua mengamalkan setiap ajaran agama di dalam rumah adalah suatu tugas wajib.
Apa yang Ayah Baca?
Setiap agama tentu memiliki kitab suci masing – masing sebagai pedoman. Membiasakan diri untuk membaca kitab suci di depan anak lambat laun akan menggugah rasa penasaran dalam diri anak.
“Ayah baca apa?” tanya Alifa saat melihat ayahnya membaca Al Qur’an. Alifa terlihat mulai penasaran dengan yang ayahnya baca. “Ini apa yah?” jari kecilnya menunjuk sepenggal ayat. Sang ayah pun membacakannya di depan Alifa. Alifa semakin penasaran, lalu menunjuk potongan ayat di halaman lain.
Jika orang tua melihat anak mereka mulai penasaran dengan kitab suci, maka orang tua wajib mengajak anak membaca kitab suci bersama. Kitab suci bisa menjadi salah satu media dalam menanamkan karakter religious dalam diri anak. Bacakan satu ayat dalam kitab suci tersebut beserta artinya. Tak ada salahnya jika orang tua membacakan arti dari ayat suci tersebut dengan sebuah dongeng. Saya yakin anak akan lebih tertarik dan semakin ingin mengenal kitab suci agama kita masing – masing.
Aku Ikut, Ayah!
Dalam agama Islam, beribadah berjamaah di masjid sangat dianjurkan. Seperti yang dilakukan seorang ayah suatu pagi. Usai mendengar azan subuh, sang ayah terbangun dan bergegas mengambil air wudhu serta berganti pakaian. Tiba – tiba Dena, anaknya yang berusia dua tahun terbangun. “Ayah mau kemana?”, tanya Dena. “Ayah akan sholat berjamaah di masjid. “Dena mau ikut?”, tanya ayah. Dena mengangguk. Ayah mengganti pakaian Dena serta tak lupa mengenakan kerudung milik Dena. Kemudian mereka berjalan ke masjid.
Tempat ibadah bisa menjadi sumber ilmu dalam menguatkan karakter religius bagi anak. Menanamkan karakter religius dapat dipupuk dengan rutin mengajak anak ketempat beribadah bersama. Tempat ibadah juga merupakan salah satu sarana yang baik untuk mendekatkan anak dengan Tuhan. Di tempat ibadah anak dapat mengeksplorasi bermacam – macam hal. Mulai dari berbagi. Misalnya dengan mengisi kotak amal, mengenal tata cara beribadah, serta sebagai tempat mengenal asyiknya beribadah bersama – sama dengan orang lain.
Mengapa Ayah Mengajakku?
Hari libur menjadi hari yang selalu dinanti bagi anak. Terlebih lagi jika seorang anak yang kedua orang tuanya sama – sama berkarier. Seperti Hanum seorang anak berusia enam tahun. Akhir pekan menjadi hari yang sangat dia tunggu. Suatu pagi di akhir pekan ayah dan ibunya sudah berpakaian rapi. Ibu membangunkan Hanum dari tidurnya dan menyuruhnya untuk segera mandi. Ibu berkata bahwa akhir pekan kali ini mereka akan pergi ke desa. “Kita akan pergi kemana, Ibu?”, tanya Hanum penasaran. Sesampainya di tujuan, Hanum melihat seorang nenek tua yang sedang duduk di ruang tamu. “Ayo, cium tangan nenek buyutmu!”, pinta ibu kepada Hanum. Ibu dan ayah menjelaskan pada Hanum bahwa setiap akhir pekan dia akan rutin berkunjung ke rumah nenek buyut.
Menguatkan karakter religius dalam diri anak bisa juga ditambahkan dengan rutinitas menjenguk sanak saudara atau tetangga. Bersilaturahmi menjadi salah satu hal yang dianjurkan di setiap agama. Ajak anak untuk mendoakan orang yang kita jenguk. Sesekali minta anak untuk membawakan oleh-oleh dan biarkan anak yang memberikannya. Selain sebagai media bersosialisasi, membiasakan anak untuk bersilaturahmi sama artinya mengajarkan anak untuk berbagi tak hanya dengan uang.
Mengapa Memberi Mereka Makan?
Setiap sore nenek selalu menyirami semua tanaman di halaman rumahnya. “Kenapa pohonnya disiram, Uti?”, tanya cucu balitanya. Nenek pun menjelaskan kepada cucunya bahwa tanaman diciptakan oleh Tuhan. Tanaman bisa tumbuh besar seperti kita manusia, tetapi tanaman tidak bisa makan sendiri. Jadi kita yang harus membantu memberi makan tanaman ini agar tumbuh sehat.
Apa yang dilakukan nenek dan cucunya menjadi salah satu kegiatan yang mencerminkan penanaman karakter religius. Nenek sedang menanamkan pemahaman bahwa merawat tanaman itu berarti kita mencintai sesama makhluk ciptaan Tuhan. Tak hanya dengan merawat tanaman, aktivitas sehari-hari lainnya yang dapat memupuk rasa cinta kasih seama makhluk Tuhan sebagai media menanamkan karakter misalnya religius. Misalnya dengan rutin memberi makan hewan, seperti kucing liar. Ingatkan kepada anak bahwa hewan dan tumbuhan juga makhluk hidup ciptaan Tuhan yang wajib dirawat, dijaga dan disayang.
Menanamkan karakter religius pada anak usia dini bukan menjadi hal yang sulit bagi setiap orang tua. Melalui pembiasaan yang dilakukan di rumah bersama anak bisa menjadi ajang belajar yang mengasyikkan untuk anak.

Agustina Wulandari Sutoro. Setiap hari Ia mengabdikan diri di SMP N 4 Sumbang sebagai guru matematika dan juga sebagai tutor matematika di PKBM Rumah Kreatif Wadas Kelir. Hobinya adalah menulis. Ia tinggal di Kranji Purwokerto Timur. Dapat menghubungi saya melalui IG : agustina0890




