
Cakil, nama yang sudah tidak asing ditelinga, terutama kita yang menyukai dunia kesenian. Terutama tentang seni pertunjukan (wayang dan tari). Sang Cakil dikenal menjadi tokoh antagonis. Dianggap berwatak buruk dengan penggambaran seorang yang sulit mengontrol nafsu diri, yang muncul untuk menggangu para ksatria yang dia jumpai saat pengembaraan di hutan.
Sang Cakil muncul di babak yang dikenal dengan sebutan Babak Perang Kembang (dalam dunia pewayangan). Dalam babak tersebut, dia berperang melawan Arjuna namun tewas.
Selain itu Sang Cakil memiliki karakter lain. Dengan kecakapan dan keberanian dia berani tampil sendiri untuk melawan musuhnya. Dia sebagai sosok yang dapat dipercaya sebagai pemimpin pasukan dari para prajurit sebuah kerajaan, terutama kelompok Raksasa dan Buta. Karakternya tidak krubut kroyok dengan siapapun lawannya. Sebagai seorang pemimpin dia tetap bertangung jawab atas anggota kelompok. Dalam diri Cakil terdapat jiwa ksatria yang penuh kesetiaan, mengabdi dengan penuh totalitas terhadap orang yang diikutinya, memiliki semangat juang tinggi dan pantang mundur.
Adopsi dalam Sajian Bentuk yang Lain
Dalam dunia seni wayang yang terus berkembang, setiap tokoh wayang bisa diadobsi ke beberapa bentuk. Adopsinya ke salah satu bentuk, yaitu seni pertunjukan tari. Terkhusus pada seni budaya tari Lengger Wonosobo. Cakil masuk salah satu bagain dari pertunjukan tari. Dari alokasi waktu sekitar 2-3 jam, babak tari yang ada Cakil keluar pada urutan di sepertiga akhir durasi pentas dengan iringan interval gamelan pelog nem (pelog 6). Nama tari tersebut adalah Gondosuli.
Gondousli menjadi bagian yang favorit dalam tari topeng, termasuk bagian tari gagahan. Saat pementasan terdapat tiga klasifikasi tari topeng yaitu alusan, gagahan dan kasar. Tampil dengan gaya khas yang menampilkan kecakapan seorang dengan kemampuan gerak silat, dengan irama yang cakap dan lincah. Sang penari akan menampilkan keluwesan dan kecakapan dalam menggerakkan anggota tubuh (kepala, tangan, badan dan kaki) dengan ritme hitungan tertentu, yang menggambarkan seolah sedang mengadu ketangkasan perang.
Kostum yang dikenakan berupa topeng yang berbentuk cakilan, yang nyentrik, tidak ada warna pakem dari topeng karakter ini, tapi tiga warna dominan yang dipakai adalah merah, hitam dan putih, kelangkapan lain dengan kostum kain beludru dan sebilah keris sebagai pelengkap untuk pertunjukan. Dengan ritme gerak yang cukup sulit tari ini menjadi salah satu tari yang diperlombakan untuk menguji ketrampilan dari para penari bambangan cakil.
Dengan adanya seni pertunjukan kita bisa memahami sebuah cerita untuk dapat diambil sebagai pelajaran hidup, keluwesan hidup harus dibangun untuk menjadi pribadi yang tangguh, bukan sebagai seorang penjilat yang mengandalkan asal bapak senang. Tetapi dengan loyalitas dan kemampuan menghadapi sebuah tantangan, menyelesaikan problematikan yang ada dan tidak mudah menyerah. Rahayu.

Miftakhul Saleh adalah penulis yang berasal dari Wonosobo. Kini Ia menekuni pertanian organik.




