
Apakah dari kita ada yang pernah merasakan burnout? Apa ada yang belum tau istilah burnout?, bagi yang belum tau, menurut google, burnout adalah kondisi kelelahan ekstrem secara fisik, mental, dan emosional akibat stres kronis, seringkali dipicu oleh tekanan pekerjaan yang berlebihan dan tidak teratasi. Secara gampanngnya, burnout adalah kondisi di mana kita merasa tertekan dan jenuh atas apa yang sedang kita kerjakan.
Pemicu kehadirannya, biasanya datang karena kebanyakan tugas dan deadline yang berhimpitan. Tidak hanya itu, burnout juga kerap muncul dari pikiran–pikiran kita yang begitu panjang dan ruwet, biasanya seperti memikirkan masa depan dan karir di masa yang akan mendatang.
Saya kerap menjumpai dan mengalami kebanjiran tugas dan deadline yang terasa bergiliran untuk mengantri. Nah pada kondisi seperti itu, jika tidak cepat dipikirkan dan ditanggapi, maka akan menjadi pemicu burnout dan kecemasan dalam diri. Atau, nantinya akan terjadi peristiwa yang kerap anak muda namai SKS (Sistem Kebut Semalam) yang di mana tugas–tugas tersebut dikerjakan pada 1 hari sebelum pengumpulan. Jika hal itu terjadi, kebiasaan orang bahkan sampai melakukan begadang hingga pagi untuk menuntaskan dan menyelesaikan tugas tersebut.
SKS (Sistem Kebut Semalam) sangat tidak saya rekomendasikan, selain bisa mengakibatkan burnout, SKS ini juga kerap mengakibatkan kantuk pada esok harinya, yang sangat mengganggu kegiatan di hari itu. Pada esai kali ini saya akan sedikit membagikan pengalaman terkait bagaimana cara menyikapi sekaligus mengatur atau biasa menamainya dengan sebutan manajemen tugas.
Dari fenomena yang saya namai kebanjiran tugas, di mana tugas–tugas silih berdatangan dengan begitu cepat, saya mempunyai cara dalam menyikapinya. Yakni yang harus saya tekankan adalah mulai sedari awal mungkin untuk mengerjakan tugas tersebut. Misal di hari senin saya mendapatkan tugas untuk membuat makalah tentang mata kuliah A, sebisa mungkin di hari tersebut saya mipil untuk menyelesaikan tugas tersebut. Bisa diartikan terus bergerak walau lambat tapi progres tetap jalan.
Pada paragraf sebelumnya adalah cara yang saya terapkan dalam menyikapi fenomena kebanjiran tugas. Nah, bagian ini saya akan berbagi pengalaman saya dalam mengatur atau manage tugas yang datang kepada saya. Cara yang pertama, saya melakukan scheduling atau penataan jadwal, biasanya saya mengatur dalam range 3–7 hari kedepan. Saya menggunakan laman internet yang berbasis aplikasi untuk membuat penjadwalan secara teratur. Aplikasi yang biasa saya pergunakan adalah Google Calender, karena keunggulan aplikasi tersebut ialah bisa memunculkan notifikasi kepada user, dan bisa di setting atas kebebasan dan kemauan user itu sendiri.
Selain itu, karena aplikasi tersebut keluaran atau berlisensi google, aplikasi–aplikasi yang berlisensi google bisa disambungkan dan diintegrasikan secara bersamaan dengan google calender. Contoh di hari senin pada pukul 09.00 wib saya ada meeting online dengan klien menggunakan G-meet, untuk memudahkan saya, saya menautkan link G-meet tersebut pada google calender dan mengatur memunculkan notifikasi 5 menit sebelum acara tersebut berlangsung sehingga saya dapat mengakses rapat tersebut dengan hanya melihat notifikasi yang ada di layar 5 menit sebelum rapat tersebut dimulai. Sangat memudahkan bukan?
Kedua, selain menggunakan bantuan aplikasi, saya juga menanamkan mindset “kalau bisa selesai di hari ini, kenapa harus nunggu besok?”. Karena saya berkeyakinan bahwa dihari esok pasti ada tugas–tugas yang datang tanpa kita panggil dan sering kali kita tidak menyadari akan hal tersebut, tau–tau udah mepet deadline aja dan berakhir SKS (Sistem Kebut Semalam).
Ketiga, saya menerapkan ilmu yang dibagikan pada buku “Rehat Sejedak” karya mas Danang Giri Sadewa tentang konsep golden hour, menurut google golden hours ialah waktu emas (atau golden hour/golden age) merujuk pada periode krusial atau momen terbaik dalam berbagai bidang yang memiliki nilai sangat tinggi karena tidak dapat terulang kembali. Bisa saya sederhanakan golden hour merupakan seni mengalokasikan waktu dengan produktif.
Golden hour dihasilkan dari karakteristik (tipe biologis) individu masing–masing. Antara lain, Larks (si pagi) dengan waktu emas biasanya antara jam 07:00 hingga 10:00 pagi, selanjutnya Owls (si malam) dengan waktu emas baru muncul di sore hari atau larut malam saat suasana tenang, dan yang terakhir Hummingbirds yang berada di antaranya, seringkali memiliki puncak energi di pertengahan hari.
Dengan memahami karakteristik atau tipe individu dari kita, kita dapat memahami waktu golden hour masing–masing. Setelah kita paham, barulah kita dapat memetakan waktu pada tugas–tugas kita. Saya biasa memetakan waktu dengan komposisi pembebanan tugas ringan pada awal permulaan yang selanjutnya dilanjut dengan tugas besar di pertengahan dan ditutup dengan tugas kecil di akhir.
Nah, terakhir cara saya dalam mengatur fenomena kebanjiran tugas ini adalah dengan membedakan fungsi dan kegunaan suatu tempat. Strategi ini saya dapatkan dari beliau James Clear melalui bukunya Atomic Habits, beliau menegaskan agar ada sekat dan pembatasan agar habits kita tidak terganggu.
Saya mengartikannya dengan fenomena ini ialah agar bisa membedakan dan mengkategorikan tempat sesuai dengan peruntukan aktivitasnya. Bagi saya strategi ini sangat krusial dalam mengatur dan mengendalikan burnout tersebut, pasalnya jika saya tidak mengatur tempat sesuai peruntukannya, bagi saya itu akan mencampuradukan semua pikiran dan tugas–tugas saya. Contohnya saya menganggap ruang tamu sebagai ruangan untuk belajar, sehingga pada saat di ruang tamu saya akan banyak mengerjakan tugas dan kewajiban–kewajiban sekolah saya. Lain tempat misalnya pada kamar tidur, saya memperuntukannya untuk rehat dari aktivitas belajar, sehingga saat berada pada kamar tidur saya tidak diperkenankan dan dilarang memikirkan perihal yang beraliran santai dan rileks. Alhasil pikiran saya bisa terbagi–bagi sesuai peruntukan tempatnya, tidak tercampur aduk yang mana bisa memicu burnout. Hasil lainnya, saya bisa memanfaatkan tempat tersebut dengan maksimal.
Fenomena kebanjiran data tersebut alhamdulillah bisa saya kendalikan dengan sikap dan strategi yang saya bagikan di atas. Hikmahnya saya bisa tetap enjoy dan merasa rileks dalam menjalani hari–harinya, tidak ada yang namanya stres dengan tugas, saya juga dapat belajar lebih leluasa karena ada penjadwalan terstruktur tersebut, dan yang terpenting saya masih bisa main, bercengkrama, dan berdiskusi dengan enak tanpa memikirkan beban tugas.
Jadi begitu teman–teman sepercik pengalaman dan strategi saya dalam mengendalikan fenomena kebanjiran tugas itu, semoga pengalaman ini bisa mengajak teman–teman yang sedang burnout untuk bisa pulih, dan semoga tulisan ini bisa menjadi jalan keluar bagi teman–teman yang sedang mengalami kebuntuan, kejenuhan, dan stres akan fenomena kebanjiran tugas. Akhir kata dari penulis, terimakasih sudah mau membaca sampai ke penghujung pembahasan, kritik, dan saran positif dari teman–teman sangat dinanti yang akan menjadi bahan evaluasi kedepannya. Thank you…..
Guntur Awal berasal dari Sokaraja, Banyumas-sebuah kota yang terkenal dengan getuk, soto, dan mendoannya yang legendaris. Saat ini ia merupakan mahasiswa aktif di UIN SAIZU Purwokerto pada Program Studi Manajemen Dakwah. Sapa langsung di Instagram: @Gunsss_03.




