
Di minggu pagi, pada tahun lalu kiranya, usai Subuh menyapa langit kota Jogja, di sebuah joglo tua yang bersahaja, beliau duduk bersila—tenang seperti embun di ujung daun, membuka lembar Tafsir Jalalain dengan suara serupa doa yang mengalir. Ratusan santri mengelilinginya dengan penuh khidmat menjadi saksi bagi rutinitas ilmu yang tak pernah usang. Inilah aktivitas K.H. Imam Aziz, sebelum beliau dipanggil Tuhan yang “rindu” dengan sosoknya pada sabtu 12 Juli 2025.
Di antara aroma kayu jati dan desir angin yang menerobos joglo, suara yang lembut nan wibawa itu membacakan Tafsir Jalalain tepat pada surat ‘Abasa. Pagi itu aku sangat beruntung karena dapat duduk bersimpuh bersama para santri mendengarkan ayat dibaca dengan perlahan seolah mengetuk pintu hatiku. Kisahnya tentang teguran illahi pada sang Nabi, bukan sekadar cela, melainkan kasih yang mendidik. Saat itu, Nabi yang “lelah” berdakwah pada pembesar Quraisy, sekilas mengabaikan Abdullah bin Maktum, seorang tunanetra yang datang membawa ketulusan, bukan harta—melainkan kerinduan pada kebenaran sejati.
Melalui tafsir yang dibaca, Pak Kyai Imam Aziz mengajarkan bahwa Islam bukan hanya milik kaum elit, melainkan juga berpihak pada yang terisisih dan terpinggirkan, pada mereka yang tak memiliki pengaruh, tapi menyimpan iman yang kokoh dalam dada. Pagi itu, sembari menahan rasa kantuk dan dingin, aku menyaksikan—betapa mulianya ajaran ini, yang menempatkan hati sebagai ukuran terdekat kepada-Nya. Aku pun tersadar satu hal, bahwa pesantren yang beliau dirikan yaitu Bumi Cendekia di Yogyakarta juga memiliki cita-cita dan warisan pengetahuan yang bersumber dari ajaran mulia ini.
Di Pesantren Bumi Cendekia, setiap santri memiliki kesempatan yang sama. Setiap santri adalah benih yang unik—ditanam dengan harapan, disiram dengan ilmu, dan disinari oleh kasih serta dukungan.
Tak ada yang bodoh di tanah ini, hanya ladang-ladang yang tumbuh dengan musim yang berbeda. Sebagian telah berbuah karena sempat bertemu hujan lebih dulu, sementara yang lain masih menunggu cahaya yang cukup untuk merekah.
Di sini, setiap perjuangan dihargai, setiap langkah dianggap berarti. Karena kami percaya: kecemerlangan bukan soal siapa yang tercepat tumbuh, tapi siapa yang paling setia merawat potensi dalam dirinya. Semangat ini yang diwariskan oleh Pak Kyai Imam Aziz dari kacamatanya dalam melihat santri dengan penuh kasih sayang.
Semangat lain yang beliau tanamkan adalah kesadaran bahwa kita hidup dalam lingkungan yang heterogen namun harmonis. Kesadaran itu yang menumbuhkan sikap toleransi antar budaya, golongan, bahkan agama dalam jiwa santri. Oleh beliau, santri diajak melangkah keluar, menjejak lantai rumah ibadah yang berbeda, mendengar do’a dengan bahasa lain, dan belajar mencintai perbedaan tanpa rasa takut. Bahkan lebih dari itu, pesantren ini memetik nilai dari lembaga yang berbeda keyakinan, meraciknya menjadi hikmah untuk tumbuh bersama. Karena di sini, keberagaman bukan ancaman—melainkan taman indah yang dijaga dengan kasih dan pengertian.
Pak Kyai Imam Aziz adalah sosok yang berani berjalan di jalur sunyi, membawa semangat yang tak selalu seirama dengan arus yang lazim. Ketika para santri sebaris bersarung dan berpeci, beliau kadang hadir dengan celana rapi dan topi sederhana, seolah ingin berkata: bahwa identitas bukan sekadar tampilan, melainkan arah pikiran yang melampaui kebiasaan.
Beliau tak memaksa setiap santri menjadi ulama, tapi merancang masa depan di mana santri juga bisa menjadi teknokrat, berdiri di tengah laboratorium, ruang riset, atau mimbar akademik, dengan tetap membawa cahaya dari kitab-kitab kuning. Para santri disiapkan untuk zaman yang bergerak cepat dan bisa menjawab realitas dengan ilmu yang membumi dan iman yang menjulang.
Kini, sosok yang dulu menjadi cahaya kehidupan telah tiada. Namun, jejak pemikirannya tak pernah benar-benar hilang—ia menetap dalam dada santri lewat ayat yang pernah beliau tafsirkan, dalam ruang belajar yang pernah dulu beliau nyalakan. Tulisan ini hanya setetes pengetahuan dan pengalaman hidupnya, sebagai ikhtiar untuk memantik bara dari obor yang beliau tinggalkan. Harapannya adalah bisa menjadi suluh bagi para santri dan orang-orang yang mencintainya.

Gilang Inggit Maulana. Ia seorang pendidik yang menyukai sastra, seni dan bola. Dapat disapa melalui Instagram miliknya glnginggit_ atau di X @glnginggit__




