
Mungkin ini kekurangan, tapi secara pribadi, aku lebih sering merasa nyambung dan nyaman berteman dengan mereka yang lebih muda. Sepertinya karena semangat dan cara pandang mereka terasa lebih segar, lebih lentur, dan lebih banyak tawa recehnya. Hampir semua teman dekatku usianya di bawahku. Entah kenapa, berteman dengan yang lebih tua sering kali terasa penuh kehati-hatian, seperti ada jarak yang tak selalu bisa kuterobos dengan santai.
Tapi tahun 2023, semesta memperkenalkan seseorang yang berbeda. Seorang perempuan, baru saja purnatugas sebagai Pegawai Negeri Sipil, memutuskan untuk membuka ruang (secara harfiah dan simbolik). Sebuah kafe yang berpadu dengan buku, tempat ngopi, diskusi, dan berjejaring. Tempat ide-ide tumbuh dan pikiran berputar, tak hanya dalam cangkir kopi, tapi juga dalam obrolan dan mimpi-mimpi literasi.
Namanya Hikmandari. Tapi banyak yang memanggilnya dengan sebutan lain: Bu Iik, Budhe, dan yang paling baru -dan mungkin paling jenaka- “Bunda Literasi”.
Panggilan ini terlontar begitu saja dariku, saat Raras sedang memberikan sambutan dalam diskusi buku “Kaki Matahari”, Sabtu 12 Juli 2025 lalu. Spontan, refleks, setengah bercanda. Tapi alih-alih ditolak atau dianggap berlebihan, panggilan itu justru disambut senyuman dan anggukan seluruh yang hadir dalam diskusi: ya, dialah sosok yang selama ini diam-diam menjadi rumah bagi banyak pegiat literasi di Banyumas.
“Aku tuh sempat trauma dengan istilah bunda-bundaan”, katanya, saat aku mengkonfirmasi kembali panggilan itu, “yang kadang..” dia melanjutkan ucapannya, “terasa simbolik, formal, bahkan politis”. Aku sangat sepakat dengannya, tapi aku dan juga teman-teman yang lain sangat sepakat bahwa Ia hadir bukan untuk memberi petuah, tapi untuk membuka pintu. Ia tidak menggurui, tapi mendampingi. Ia mendengar, bukan menghakimi. Ia bukan hanya bagian dari ekosistem literasi, tapi salah satu akar yang menopangnya. Sebuah arti yang seharusnya dimiliki oleh Bunda Literasi. Sampai tulisan ini diangkat, dia masih merasa geli dengan istilah itu.
Tumbuh Sebagai Orang yang Suka Belajar
Bu Iik lahir di Purbalingga, sebagai anak kedua dari tujuh bersaudara. Usianya genap 61 tahun pada 16 Juli kemarin, dan seperti biasanya, ulang tahunnya dirayakan tanpa riuh. Hanya ucapan-ucapan sederhana di sosial media dari orang yang mencintainya. Dalam obrolan santai, ia pernah bilang bahwa sejak kecil ia sudah terbiasa berpikir, merenung, mengamati. Bisa dibilang, ia adalah tipe pemikir sejak dini.
Ia menghabiskan masa kecilnya di Kebumen, tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkannya arti tanggung jawab sejak muda. Tahun 1982, ia merantau untuk kuliah di Akademi Kesehatan Lingkungan. Pilihan yang pada masa itu sangat visioner bagi perempuan muda. Setelah lulus, ia mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil di Kementerian Kesehatan. Dunia birokrasi adalah rumah profesionalnya selama lebih dari tiga dekade.
Namun, seperti yang ia bilang sendiri, “belajar itu bukan soal sekolah atau jabatan, tapi soal terus mau membuka diri.” Dan semangat itulah yang membawanya ke fase berikutnya dalam hidup, fase yang tidak banyak orang pilih: membangun coffee dari rumah sendiri, pasca pensiun, dengan pengalaman bisnis yang bisa dibilang nol.
Coffee at Home: Ruang Baru Pasca Purnatugas
Agustus 2022, Bu Iik resmi pensiun. Banyak orang mungkin akan menganggap ini sebagai titik henti, tapi tidak bagi dia. Seperti kebanyakan pecinta buku, rak-rak di rumahnya sudah terlalu penuh, terlalu sesak oleh koleksi pribadi yang terus bertambah. Maka muncul ide sederhana: membuka perpustakaan kecil di rumah.
Namun ide itu tumbuh, beranak-pinak, seperti benih yang menemukan tanah subur. Kenapa tidak sekalian dijadikan tempat berkumpul? Kenapa tidak ditambah kopi biar lebih akrab? Maka lahirlah Coffee at Home, perpustakaan rumahan yang sekaligus menyajikan seduhan kopi.
Padahal, kalau boleh jujur, Bu Iik bukanlah pebisnis. Dunia kopi, peralatan brewing, perhitungan modal, bahkan cara menyambut pelanggan, semua itu asing baginya. Tapi satu hal yang tidak asing: belajar. Dan seperti biasa, ia menyambut ketidaktahuan itu bukan dengan rasa takut, tapi dengan keingintahuan.
Ia mulai belajar langsung dari para pemilik kafe di Purwokerto, bertanya, mencatat, mengamati. Ia tidak malu mengakui bahwa dirinya masih awam. Tapi dari situlah kekuatannya justru muncul. Coffee at Home resmi beroperasi pada 29 Januari 2023, dan sejak saat itu, rumah Bu Iik tak pernah sepi dari cerita, diskusi, dan canda tawa dari para pengunjung, baik yang datang untuk membaca buku, menyeruput kopi, atau sekadar berbincang. Bu Iik adalah contoh bahwa pensiun bukan berarti berhenti, tapi justru bisa menjadi titik balik. Dalam diamnya, Ia menganyam hubungan antar-komunitas, menyimpan buku-buku yang menjadi pintu bagi anak-anak muda, dan menjadikan kafenya sebagai semacam pos ronda budaya, tempat siapa pun bisa mampir, mengobrol, dan tumbuh.
Coffee at Home, yang Magic
Entah bagaimana, Coffee at Home selalu berhasil menghadirkan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata: kehangatan. Padahal kalau dilihat dari luar, ia hanyalah rumah biasa yang disulap jadi ruang baca dan tempat ngopi. Tapi bagi banyak orang yang pernah mampir, tempat ini terasa seperti ruang pulih. Ada sesuatu di sana, yang lebih dalam dari kopi, lebih jernih dari buku-buku di rak, dan lebih nyata dari dekorasi interiornya.
Aku sendiri kadang heran, kenapa banyak orang bilang mereka merasa “dipeluk” saat datang ke Coffee at Home. Sebagian besar bahkan datang bukan untuk membaca atau ngopi, tapi hanya ingin duduk diam. Merenung. Menghela napas. Menjeda.
Mungkin karena Bu Iik melalui coffee nya tidak hanya menyajikan kopi, tapi juga menyeduh ketulusan dalam setiap percakapan (jika beruntung bertemu dengannya). Ia tidak memaksa siapa pun untuk bicara, tapi kehadirannya mengundang kejujuran. Tidak semua orang datang dalam kondisi baik-baik saja, ada yang pusing dengan skripsi, ada yang patah hati, ada yang bahkan kehilangan arah dalam hidupnya. Tapi tempat ini tidak menuntut mereka untuk “sembuh”. Cukup hadir. Cukup duduk. Cukup menjadi manusia yang sedang berusaha bertahan.
Dan keajaiban itu tidak bisa direkayasa. Ia tumbuh dari niat tulus, dari energi yang konsisten, dan dari keterbukaan untuk menerima siapa pun yang datang. Coffee at Home jadi semacam ruang transisi: dari lelah menuju lega, dari patah menuju pulih. Mungkin inilah bentuk “literasi yang hidup”. Bukan sekadar membaca teks, tapi membaca manusia. Bukan sekadar menyusun kata, tapi menyusun kembali harapan.
Sebagai salah satu dari sedikit teman yang usianya jauh di atas ku, aku menyadari bahwa, usia hanyalah angka. Karena pertemananku dengan Bu Iik bukan tentang jarak umur, tapi tentang frekuensi jiwa yang sama: mencintai literasi dan percaya pada kekuatan ruang yang hangat dan terbuka.

Penggagas Banyumas International Literacy Festival dan pendiri Penerbit Omera Pustaka. Ia aktif mengembangkan ruang-ruang literasi berbasis komunitas dan ekonomi kreatif, termasuk program-program seperti Wayang Bebek, Panggung Penulis & Sastrawan Banyumas, dan Sekolah Melukis. Dalam kesehariannya, Rahmi sangat berminat dengan ide dan gagasan manusia, baik di panggung maupun dalam obrolan, baginya menarik untuk didengar dan dibagikan. Temui Rahmi di Instagram: @rahmiwijayanti




