
Di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi, berbagai informasi tersaji dengan cepat dan mudah diakses. Era digital telah melahirkan generasi yang terjebak dan terjerumus dengan segala ke-instan-an. Era saat mindset dan proses telah tergantikan oleh algoritma, serta makna perjuangan perlahan memudar di balik layar. Di era saat ini, kesuksesan seolah mempunyai definisi dan makna yang baru, yaitu cepat, mudah seperti yang ada di layar beranda sosial media. Tidak seperti dahulu yang selalu dikaitkan dengan besarnya usaha dan jerih payah sebagai tolak ukur.
Kini di layar ponsel kita saat ini, seakan telah menjadi altar, panggung modern bagi manusia dalam menaruh harapannya, dan kadang juga disertai dengan kebodohannya. Di antaranya, berbagai ribuan iklan, testimoni, ulasan dan motivasi palsu, yang di-setting untuk menggiring dan mendorong pengguna sosmed untuk percaya bahwa bisa mencapai keberhasilan dengan cara yang instan melalui sekali klik dalam aplikasi layanan trading. Hal itu membuat banyak yang tergiur, dengan embel-embel investasi “Biarkanlah uang yang bekerja untuk kita”. Padahal untuk mencapai hal tersebut tidaklah semudah omongan iklan sales dan motivator, karena perlu adanya proses dan tahap pembelajaran. Karena banyak yang tergiur, tanpa memikirkan proses dan ilmu, akhirnya banyak yang terjun ke market trading dengan arah spekulasi tanpa ilmu. Padahal dalam realitanya, sering kali kitalah yang terjebak dalam sistem dan menjadi budak dari grafik-grafik market yang tidak mengenal belas kasihan.
Trading, Investasi, dan Ilusi
Di berbagai belahan dunia saat ini, termasuk Indonesia, istilah trading, investasi bukanlah sebuah hal yang asing didengar. Sering kali kita mendengarkan kata tersebut, entah di sosial media, di tongkrongan dan banyak tempat lainnya. Berbagai aplikasi paltform layanan trading dan investasi seperti exness, indodax, ajaib, dll, kini bisa diunduh dan diakses dengan mudah. Trading dan investasi kini telah menjadi topik yang sangat populer di kalangan muda saat ini. Sebenarnya trading dan investasi itu baik dan bagus, selama dilakukan dengan ilmu dan kesabaran. Namun realitanya sebagian besar yang terjun ke dalam market, adalah mereka yang memiliki pemahaman yang dirasa masih kurang. Yaitu mereka yang tergoda dengan janji cuan yang instan, tapi belum siap untuk menghadapi resiko kehilangan.
Dilansir dari website SATGAS PASTI, milik OJK bahwasanya sejak tahun 2017 s.d. 31 Mei 2025, Satgas PASTI telah menghentikan 13.228 entitas keuangan ilegal yang terdiri dari 11.166 entitas pinjaman online ilegal, 1.811 entitas investasi ilegal, dan 251 entitas gadai ilegal. Fenomena yang terjadi ini telah menunjukkan bahwa mentalitas instan lebih cepat menyebar dan merebak dibandingkan literasi keuangan. Menurut laporan BPS dan OJK Mei 2025, tingkat literasi keuangan di Indonesia telah menempatkan di kuartil menengah, yakni di angka 66,46 %. Literasi keuangan sangat penting dalam hidup ini. Namun ironisnya, masih banyak orang yang terjebak menginginkan hasil, tapi tidak ingin menempuh proses belajar.
Sementara di sisi lain, instrumen investasi lainnya yang ke arah aset riil seperti reksadana, saham, deposito dan obligasi dianggap kurang menarik dan terlalu lambat untuk memperoleh return. Padahal yang perlu kita pahami bahwa investasi bukan hanya tentang seberapa cepat untung, tapi seberapa sabar kita untuk menumbuhkan nilai dan mencapai tujuan. Ya karena perlu diingat bahwa tujuan investasi adalah untuk mewujudkan tujuan dan harapan yang kita inginkan, seperti pendidikan, liburan dll, serta untuk melindungi nilai rupiah agar tidak termakan inflasi. Namun di dunia saat ini yang mana pemikiran dan mindset sudah dipengaruhi oleh algoritma, kesabaran dianggap sebagai sesuatu yang telah kuno dan usang.
Budak Candlestick, Krisis Ketenangan
Di balik gemerlapnya narasi dan opini “cuan cepat”. Terdapat generasi yang kelelahan memandangi layar dan grafik. Tarik garis sana-sini dan selalu memandanginya tiap waktu, saat bangun tidur, saat makan dan di manapun dan kapanpun itu. Sebut saja “Budak Candlestick”. Karena seolah mereka itu telah menjadi objek yang telah ditaklukkan dan dikendalikan oleh sistem. Mereka bukan lagi sekadar berdagang nilai dengan membeli barang di harga rendah terus menjualnya di saat harga naik, tapi kini lebih dari itu yakni memperdagangkan harapan dan terjebak dalam angan-angannya.
Saya tidak menyalahkan dan menjudge mereka, karena diri sendiri ini juga masih terjebak dalam lingkaran setan tersebut, dan akan tetap berusaha untuk terus belajar ilmunya dan melatih mental. Karena setiap isi garis dalam grafiknya mempunyai makna. Setiap garis yang berwarna hijau akan memberi dan berefek euforia bagi pelakunya, namun ketika garis merah itu muncul, terasa seperti adanya bara api yang menyalakan kekhawatiran dan ketakutan yang menggerogoti mental. Yang naik tak hanya nilai dan harga, tetapi detak jantung dan emosi. Ketika turun, tak hanya lah nilai dan saldo, tapi mental dan kepercayaan diri. Hidupnya itu seolah berputar di antara naik dan turunnya grafik serta nasibnya itu digantung pada jajaran angka yang berada dalam layar tanpa adanya kepastian.
Aspek Psikologi dan Moral
Fenomena ini bukan lagi menyangkut soal ekonomi, tetapi juga telah merambah ke ranah psikologi dan moral. Terdapat sesuatu yang mendorong dalam pikiran dan batinnya, untuk bisa segera kaya tanpa proses, bisa instan, tanpa mengeluarkan jerih payah tenaga dan keringat, dan waktu yang singkat. Hal ini merupakan salah satu bentuk keangkuhan manusia yang ingin melampaui hukum kausalitas (sebab-akibat). Bayangkan ada yang ingin panen tanpa perlu menanam, ingin hasil tanpa adanya proses. Sungguh ironi dan diluar nalar. Menginginkan sesuatu tanpa perlu adanya proses. Makanya tak heran, jikalau saat ini banyak sekali yang terjerumus dan terjebak dalam lingkaran candu ini.
Mengapa hal ini disebut candu? Ya karena ketika mendapatkan euforia, otak melepaskan dopamin, neurotransmitter yang menciptakan perasaan senang. Akhirnya mendorong untuk terus terlibat dan mencoba terus. Efek dalam trading ini hampir mirip dengan kecanduan judi. Makanya agar terhindar dari spekulasi ini, perlu adanya ilmu. Karena jika tidak disertai ilmu, trading kini menjelma seperti judi yang dilegalkan dan dibungkus rapi, modern dengan istilah investasi.
Melihat kondisi realita saat ini, saya baru berfikir memang benar apa yang dikatakan oleh beberapa narasumber dalam hal investasi yang pernah saya ikuti kegiatannya, baik seminar, talk show dan sekolah pasar modal. Mereka itu lebih menekankan untuk pentingnya investasi dari leher ke atas, maksudnya yaitu untuk senantiasa belajar sebelum terjun. Agar ketika sudah terjun, kita sudah menerima bekal pengetahuan yang cukup.
Dimensi Agama
Dalam perspektif Islam konsep rezeki sangat berkaitan dengan usaha yang dikeluarkan,dan dikorbankan untuk mencapai hasil. Sebagaimana firman Allah SWT :
وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ ٣٩
Artinya : bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya (Q.S. An-Najm : 39)
Dari ayat tersebut secara jelas menjelaskan bahwasanya manusia hanya akan memperoleh sesuatu berdasarkan apa yang telah diusahakan dan dikorbankan untuk mencapai yang diinginkan. Karena hasil itu sangat bergantung pada seberapa besar usaha dan jerih payah yang telah dilakukan. Dalam islam kita mungkin sudah cukup familiar dengan maqolah الأجر على قدر التعب “Al ajru ala qodri ta’ab”, yang artinya pahala (atau hasil) itu sebanding dengan jerih payah usahanya.
Berkaitan dengan rezeki, memang sebenarnya rezeki telah dijamin oleh Allah SWT, tetapi manusia tetap diperintahkan untuk berusaha semaksimal mungkin. Semakin besar usaha dan kesulitan yang dihadapi dalam prosesnya, semakin besar pula potensi hasil yang akan diperoleh. Hal ini secara langsung mendorong dan memotivasi manusia untuk tidak bermalas-malasan dan senantiasa untuk berusaha demi apa yang diinginkannya, termasuk rezeki. Namun. Realitas yang terjadi hari ini sering mengabaikan nilai tersebut, terutama mengenai proses dan jerih payah. Banyak yang menganggap di era yang serba instan ini, kecepatan itu lebih penting dari prosesnya. Seolah waktu untuk proses di sini dianggap sebagai penghambat. Fenomena ini menggambarkan ketimpangan antara aspek spiritualitas dan modernitas yakni melalaikan ikhtiar.
Menemukan Nilai Kembali
Hidup ini adalah sebuah permainan, ketika kita tidak bisa bermain di dalamnya kita akan dipermainkan. Terkadang kita sering lupa bahwa hidup bukan hanya sekadar tentang seberapa cepat kita tiba di garis finish, tetapi tentang bagaimana kita bisa menjalani setiap gerak langkah dengan kesadaran dalam mencapai tujuannya. Di tengah derasnya arus yang menuntut kecepatan dan hasil, kita sering kali kehilangan arah dan terjebak dalam angka dan lingkaran harapan beserta ambisi yang tak akan pernah selesai. Selalu ingin merasa lebih, namun tak pernah memiliki rasa cukup. Keinginan untuk selalu menang, tanpa ingin mengetahui dan memahami apa arti dan makna kalah itu sendiri.
Perlahan, seiring berjalannya waktu kita akan menjadi asing karena telah menukar kedamaian, waktu dengan sesuatu yang menghasilkan kekhawatiran dan kecemasan. Di tengah hiruk pikuknya terdapat setitik keheningan yang menunggu untuk di dengar : sebisik suara kecil dalam diri ini yang bertanya, apakah semua ini yang telah dilakukan memang benar-benar membuat bahagia atau menjebak.
Muhamad Annas Musta’in, merupakan mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto. Ia sekarang berdomisili di Purwokerto. Di luar perkuliahan, Annas aktif berorganisasi sebagai anggota KSPM FEBI, Staf Muda Kementerian Sosial dan Politik DEMA, dan kader HMI Komisariat FEBI UIN SAIZU. Semangat belajarnya tercermin dari kiprahnya di berbagai bidang, dengan tekad untuk terus berkembang dan berkontribusi, yang dapat diikuti melalui akun Instagram-nya @Nassz_04.





Pingback: Game Online Seru, Tapi Jangan Sampai Kebablasan - nribun.com