Gunung Prau: Badai dan Keikhlasan

Di tengah dinginnya Desember, sebuah petualangan baru menanti. Setelah sekadar mencicipi keindahan sunrise di Gunung Slamet, kini saatnya menaklukkan puncak Gunung Prau sepenuhnya. Pendakian ini bukan hanya menutup akhir tahun, tapi juga melengkapi lembaran pengalaman hidup dengan cerita yang tak terlupakan.

Aku dan tiga teman berangkat ke Basecamp Patak Banteng pada sore hari. Kami tiba di Basecamp sekitar pukul 21.00 WIB. Malam itu sangat dingin. Kami mencari tempat untuk beristirahat sambil menyiapkan trekking di hari berikutnya. Setelah menemukan tempat tersebut, kami berbincang dengan dua pendaki asal Jakarta. Mereka adalah pria yang memanfaatkan waktu libur untuk berkunjung ke Prau.

Setelah bercakap-cakap, sekitar pukul 22.00 WIB, kami tidur. Malam itu, hujan turun dan angin bertiup kencang. Sulit untuk membayangkan betapa dinginnya. Untungnya, kami mengenakan jaket dan sleeping bag yang tebal. Kami beristirahat untuk persiapan trekking di pagi hari. Pukul 03.00 WIB kami bangun karena suhu semakin dingin dan badai semakin hebat.

Beberapa pendaki telah mendaftar, dan kami tidak ingin ketinggalan untuk melakukan registrasi. Kami rencana untuk memulai pendakian sekitar pukul 04.30 WIB setelah salat subuh. Setelah mengurus registrasi, kami mencari warung untuk sarapan sebelum berangkat. Suasana dingin kembali terasa saat badai datang dengan begitu kuat. Kami pun pergi ke salah satu warung di basecamp. Minuman panas yang kami pesan berubah dingin dengan cepat. Kami segera meminumnya dan syukurlah masih tetap agak hangat. Hal itu cukup membantu menghangatkan tubuh kami.

Di warung tersebut, kami juga menghangatkan badan di dekat kompor kecil milik warung. Kami berada di sana selama sekitar satu jam. Suara azan terdengar dan kami melaksanakan ibadah terlebih dahulu. Menjelang subuh, badai belum menunjukkan tanda-tanda reda. Pihak basecamp menganjurkan agar pendaki menunggu untuk memulai trekking hingga badai sedikit mereda.

Setelah beribadah, kami menunda pendakian demi keselamatan. Badai mulai reda sekitar pukul 05.00 WIB. Kami pun berdoa sebelum melanjutkan perjalanan.      Perjalanan dimulai dan kami perlu melanjutkan perjalanan agar terhindar dari hipo di jalan. Oh, kami memulai pendakian dengan dua pria dari Jakarta. Kami tek-tok, sementara mereka akan camp. Setelah melewati tangga menuju pos 1, kami merasa lelah. Kami beristirahat sekitar 5 menit. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 1, tetapi kedua pria itu memilih untuk turun, mungkin mereka ingin kembali ke Jakarta sebelum harus bekerja besok.

Dengan segenap usaha melewati tanjakan, akhirnya kami tiba di pos 1. Saat itu, angin badai mulai mereda. Kami pun memutuskan untuk beristirahat lagi. Maklum, kami adalah pendaki yang masih baru. Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2. Di sana, kami berhenti di sebuah warung untuk membeli sepotong semangka. Setelah menikmati makanan, kami kembali melanjutkan ke pos 2.

Setelah melewati pos 2, saat sedang berada di anak tangga menuju pos 3, badai mulai datang lagi. Kami bertiga mulai mempercepat langkah agar bisa segera sampai di tempat yang datar. Ketika tiba di area yang datar, kami berlindung di bawah sebuah pohon. Karena panik dengan situasi tersebut, kami memilih untuk berlindung di bawah pohon yang sebenarnya bisa berisiko. Kami bertemu dengan tiga pria pendaki lainnya, dan ketika melihat kami berlindung di bawah pohon, mereka datang menghampiri dan memberi saran untuk segera turun. Mereka menjelaskan bahwa badai yang sangat kencang sedang melanda dan tidak mungkin untuk mencapai puncak. “Tempat berlindung pun sudah penuh,” kata salah satu dari mereka.

Setelah mendapatkan saran tersebut, kami bertiga tetap berada di bawah pohon kecil saat itu, sementara mereka turun karena sudah mencapai puncak sejak cukup lama. Di tengah angin kencang, kami ngobrol dan berdiskusi apakah akan melanjutkan perjalanan atau turun. Keputusan yang kami buat adalah untuk turun. Kami memilih untuk kembali demi keselamatan, karena puncak akan tetap berada di sana kapan saja. Kami memutuskan untuk turun setelah badai mulai mereda.

Saat badai berkurang, sebenarnya kami ingin melanjutkan ke puncak, tetapi cuaca saat itu kurang bersahabat dan matahari tidak terlihat. Akhirnya, sebelum turun, kami mengambil beberapa foto di sekitar pos 3. Kami berpose dengan bunga Daisy khas Prau sambil mengabadikan momen berkabut yang terasa sangat indah. Saat kami berfoto, sepasang suami istri datang mendekati kami dan meminta tolong untuk memotret mereka.

Setelah berfoto, mereka mengobrol dengan kami dan bertanya tentang asal kami. Ternyata mereka berasal dari luar pulau Jawa, sepertinya dari Sumatra yang mereka katakan saat itu. Mereka adalah pasangan muda yang senang berpetualang. Kami juga berfoto bersama, dan suami kakaknya yang mengambil foto kami. Setelah merasa puas dengan hasil foto, kami pun memutuskan untuk turun. Saat itu, suasananya berkabut, dingin, dan sangat tenang. Kami turun dengan hati-hati karena kabut yang tebal dan angin mulai terasa semakin kencang.

Sesampainya di pos 1 dan mendapati sinyal, aku mulai memeriksa notifikasi WA yang masuk. Tanpa disangka, temanku mengirim pesan yang sangat menyayat hatiku. Dia yang katanya tak akan berbalik kepada masa lalu, ternyata semua itu omong kosong. Mereka menjalin hubungan kembali. Dan yah, air mata ini menetes saat aku turun dari pos 1. Teman-temanku ada di depan bersama pasangan tadi. Jadi, aku bisa menangis dan melihat betapa indahnya pemandangan di sana.

Dalam heningnya Wonosobo yang memeluk dingin, Tuhan melukiskan keagungan-Nya di hadapanku. Dari ketinggian, potret Wonosobo terhampar laksana permadani kedamaian, menenangkan gejolak di hati. Aku melepaskan segala beban dan pasrah pada takdir, berharap angin akan membawa kesempatan baru di kemudian hari. Prau, kini kau menjadi kanvas bisu bagi lukisan patah hatiku. Dipeluk badai, diselimuti selimut dingin Wonosobo, dan dibalut luka hati, perjalanan ini menjadi simfoni pilu yang tak terlupakan.

Sebelum tiba di basecamp, aku sempat berhenti sejenak untuk mengambil foto pemandangan sambil meneteskan air mata. “Mengapa patah hati ini harus terjadi lagi?’ pikirku. Aku melanjutkan perjalanan ke basecamp. Setibanya di basecamp, kami  beristirahat selama sekitar 15 menit untuk membersihkan diri sebelum pulang.

Perjalanan ke Prau kali ini adalah kado yang tak kutunggu, namun semesta menghadiahkannya padaku. Semua itu kuhadapi sendiri dan Wonosobo saat itu menyembuhkan beberapa luka yang telah berlalu. Sekarang aku melanjutkan hidupku, merapikan diri dan membiarkan segalanya berjalan sesuai dengan rencana semesta. Terima kasih untuk perjalanan ini kepada mereka dan juga untuk diriku sendiri.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top