Suatu Hari di Samarinda dan Puisi Lainnya

Catetan

Sore melepaskan begitu banyak isyarat
Ia menyusun sebuah dongeng tentang warna-warni kota
Juga selembar danau yang melebar di antaranya
Dan kehidupan membentang bagai padang buah yang luas.
Tetapi aku tidak bisa menunda pulang
Mengingatmu telah lama belajar menerima
Merayakan tiap kisah seorang diri
Menunggu wajah yang selalu ingin kau sapa dengan bibir terus mengalun suara merdu yang lebih indah dari suara penyanyi mana pun.

Kau mengendus semesta seperti mimpi lama yang belum mampu kau beli.
Sore ini aku akan pulang,
Menemukanmu tersenyum sambil masih menimang “kapan”
Dan kau mengakhiri segala rahasia dengan ketabahan yang selamanya tidak bisa membaca arah datang.

Purwokerto, 2021

***

Fiksasi
Buat: Nonik

Dan napasku berlarian-berputar mengasingi degup debar jantungmu
Lapisan biru laut di matamu
Gelap parsial di wajahmu
Dan senyum yang tercermin kosong melihat tanda para pendusta
Raja-raja penuh luka.
Ceritakanlah lagi lewat nyanyimu
Berkatalah sekali lagi
Dalam penjaramu ini aku betah berlama-lama: mendengarkan bising kota, pelbagai jamuan, temu manusia dan segala tari tanpa makna.
Aku meminjam hausmu. Meminjam segala yang cukup buatku.

Purwokerto, 2025

***

Isme

Di ujung sana: napas orang-orang terjungkal
Merakit bom dalam diri masing-masing
Kebahagiaan mereka terjebak dalam mesin pengering sebagai aroma yang diuapkan cuma-cuma.

Purwokerto, 2025

***

Museum Analog

Antara kamu dan tukang jahit tidak ada tukang becak
Antara kamu dan sekarung beras tidak ada tukang becak
Antara kamu dan tamasya tidak ada tukang becak
Antara kamu dan perut laparmu tidak ada tukang becak
Antara tukang becak dan tukang ojek ada sinisme
Antara tukang becak dan tukang ojek tidak ada kamu dan aku
Antara aku-kamu dan perut lapar kita ada ojol
Antara aku-kamu dan nostalgia ada museum becak

Purwokerto, 2023

***

Suatu Hari di Samarinda
Ingatan tentang bandara

Semalam kutabur benih dalam tamasyaku.
Di pemberhentian yang ke sekian ini
Aku masih berkuasa atas mimpiku sendiri
Kutitipkan ia dalam bingkai berwarna biru danau.

(Seorang porter berlari)
Sepasang lebah tak mau kehilangan detik.
Lewat mimpi: aku menginginkan mereka mengeja masing-masing nama
Membiarkan mereka penuh dan kulai memimpikan taman bunga.

Nyanyi announcer terhenti.
Mampus! Seorang porter lagi,
berlari membawa bingkai biru danau.
Aku dan sepasang lebah telah kehilangan mimpi kami.

Samarinda, 2019

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top