
“Saya di sini biasa dipanggil Wali”, begitu ucap Walter Sebastián Viltes Sánchez, salah satu penampil hari kedua, Minggu 24 Agustus 2025 di Bisik Serayu Festival 2025 (BSF). Dia adalah Mahasiswa Darmasiswa di ISI Surakarta asal Argentina. Dia menekuni karawitan dan tari jawa, sekaligus aktif di Sanggar Sang Bagaskara.
Di hari kedua BSF 2025 dia menjadi salah satu penampil yang mempersembahkan sebagai wujud apresiasinya terhadap budaya Jawa. Sebuah momen lintas benua yang menjadi suguhan ke penonton dengan memadukan seni lokal dan pemain global.
Wali dengan tubuh tinggi tegap dan berkumis tebal, dipadukan dengan kecintaanya pada budaya Jawa -yang telah menyatu dalam tubuhnya- menjadikan magnet tersendiri bagi penoton di BSF 2025 hari kedua. Dia sangat cocok memerankan karakter gagah yang menggambarkan seorang Prabu.
Dia menampilkan tari asal Solo Jawa Tengah. Tarian ini lebih fokus menggambarkan perjalanan seorang tokoh yang sedang jatuh cinta pada Dewi Sekartaji, yaitu Prabu Kelana. Artinya tokoh Dewi Sekartaji merupakan tokoh imajinasi yang selalu dalam bayangan dan lamunan Prabu Kelana yang dalam sajiannya tidak dimunculkan. Gerakan tarinya juga menggambarkan imajinatif pengaguman kepada orang yang dicintai dan dikagumi.
Saat menari, sebagaimana pakemnya, Wali menggunakan topeng khas Tari Kelana Solo, yaitu menggunakan topeng berwarna merah dan hitam. Lengkap dengan penutup kepala dan hiasan dada, selendang dan hiasan pada tangan dan kaki.
Awal di Indonesia Wali belajar tentang karawitan atau musik gamelan. Setelah melihat berbagai pertunjukan seni tari di Indonesia, ternyata banyak penonton antusias, akhirnya dia juga mempelajari seni tari. Dia juga pernah pentas di Festival Lima Gunung ke 24. FLG ke 24 dilangsungkan mulai tanggal 9 Juli sampai 13 Juli 2025 di Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, atau di kawasan lereng Gunung Merapi.
Saat di temui setelah pentas di BSF 2025, dia mengatakan kebahagiaannya karena ini adalah hari terakhir dia di Indonesia karena ada kenangan yang sangat membekas dalam hatinya. “Hari Senin besok saya sudah pulang ke Argentina, terima kasih Mas Rianto, dan Banyumas. Banyak pelajaran tentang budaya Indonesia yang bisa saya bawa pulang ke Argentina. Thank’s Bisik Serayu”, ucapnya.
Hasan Ghozali, orang biasa yang membaca dan menulis.




