
Aku cuma follower yang numpang baca quotes di akun Instagram-nya Bang J.S. Khairen. Sebenarnya mungkin bukan belum mampu beli ya, tapi memang tidak ada niatan untuk menyisihkan uang untuk beli buku, apalagi bukunya Bang J.S. Khairen yang kebanyakan harganya hmmm . . .
Sebenarnya setelah baca quotes di postingannya Bang J.S. Khairen, beberapa kali aku iseng baca caption beliau yang panjangnya bisa kayak kata pengantar makalah mahasiswa UIN -kata pengantar makalah saja banyak yang cuma satu paragraf. Ketika lewat beranda postingan dengan caption “Daftar Pangkat Followers J.S. Khairen. . . selengkapnya”, lancar sekali jempolku menekan kata selengkapnya yang langsung menampilkan caption bernomor itu. Baru di nomor 2, aku sudah menciut, sindiran pemilik akun @jskhairen itu tepat sasaran ternyata.
Kira-kira dua belas bulan setelahnya, aku mulai meniatkan untuk membeli buku satu bulan sekali. Di bulan pertama, aku memutuskan untuk menuju Gramedia terdekat dari asrama, Gramedia Gelora Indah Purwokerto. Kemudian meminang novel Kado Terbaik karya Jombang Santani Khairen -widih . . . tak aku singkat ya, Bang, namanya, biar orang tahu nama aslimu. Aku juga beli buku berjudul Animal Farm karya George Orwell. Sebenarnya ini kubeli karena budget tinggal atau masih Rp50.000,00 untuk membeli buku, dan harga novel ini waktu itu tertera Rp45.000,00, sisanya buat parkir hahaha.
Kulahap novel-novel itu dalam 31 hari. Lama ya, maklum newbie. Ketagihan rupanya aku dengan novel Bang J.S. Khairen itu, meskipun ending-nya agak menyebalkan. Kuceritakan pada kawan jauh tentang novel yang “sedikit menyebalkan” itu, eh. . . tidak tahunya dikirimlah 2 buku novel karya Bang J.S. Khairen, Dompet Ayah Sepatu Ibu dan Bungkam Suara, sebagai kado ulang tahunku. Kulahap pula buku itu. Tidak 31 hari, tapi berbulan-bulan baru selesai; hey, bukan karena aku malas, tapi tugas kuliahku terus melambai-lambai, minta segera upload ke Edlink.
Ya intinya aku jadi suka dengan karya-karya Bang Jombang ini lah. Panjang sekali ternyata pengantar tulisan ini ya. Maaf kan ya, aku masih penulis amatiran hehehe. Jadi sebenarnya aku diberi tugas oleh dosen di mata kuliah Produksi Siaran Televisi, untuk buat liputan televisi 3-5 menit, bebas mau meliput apa saja. Nah, malamnya beranda Instagramku seperti mengirimkan isyarat Tuhan untuk mempermudah tugas liputan. Akun Instagram @gramedia_gor_purwokerto membagikan postingan berisi informasi jumpa penulis bersama Jombang Santani Khairen pada hari Sabtu, 08 Desember 2025.
“Widih, ini buat liputan bisa nih, sekalian mau caper ah ke Bang J.S. Khairen”, batinku.
Di hari acara, aku sudah persiapan untuk datang. Sudah kusiapkan satu teman untuk menemani, dan satu lagi teman menawarkan dini untuk membantu mengambil video. Tidak kusangka-sangka, siang itu hujan lebat sekali. Kalau mengikuti otak, aku akan memilih tidur di kasur asrama. Aku mantapkan niat. Lalu aku hubungi teman-temanku, barangkali mereka tidak mau menemani dengan alasan hujan. Alhamdulillah mereka tetap mau menemani, memang setia kali kawan-kawanku ini.
Kawanku sudah di depan asrama, aku bergegas keluar agar mereka tak menunggu lama.
Slraaaak. . . bugggg. . .
Kalian kira suara apa itu? Sudah pasti suara gempar menggelegar. Mungkin karena aku baru selesai baca novel Kami (bukan) Sarjana Kertas jadi tertular malangnya Ogi -semoga ada yang tahu maksudku. Aula komplek asramaku ternyata banjir karena atapnya bocor. Sebenarnya aku tidak lari, tapi memang jalan sedikit cepat, ya kalian tahu lah apa yang terjadi selanjutnya, aku terpeleset, tidak terlalu sakit, tapi rok yang kukenakan basah.
“Ya Allah, sakjane kulo pareng mangkat nopo mboten? huhuhu” (Ya Allah, sebenarnya aku boleh berangkat apa tidak?) sedikit ragu untuk berangkat, tapi ya sudahlah, apalagi temanku sudah nangkring di atas motor depan asrama. Masa dibatalkan, kan ini untuk tugasku? Aku bergegas mengganti rok coklat susu yang basah dengan rok hitam pekat.
Oke singkat cerita, kita sampai di Gramedia, rupanya sudah banyak orang duduk mengitari sosok berambut panjang di tengahnya. Aku dan kawanku sebut ia mas-mas gondrong, hehehe. . . punten. Berkaos pendek berwarna hitam, celananya? Aishh. . . tidak nampak, tertutup para pengunjung yang di depan. Aku dan kawanku duduk di pinggir sebelah rak buku, tapi tak lama kemudian, aku disuruh bergeser, bergeser, maju, maju, bergeser sampai akhirnya aku tepat di depan mas-mas gondrong a.k.a Jombang Santani Khairen.
“Bang Khairen, aku kurang puas nih sama ending Kado Terbaik. Kenapa Riski enggak dapat kado terbaik, Bang? Harus jelasin sekarang Riski di mana? Kerja apa? Jadi apa?!” Salah satu pertanyaan pemantik diskusi dilontarkan salah satu pengunjung. Si mas-mas gondrong mempersilakan pengunjung lain untuk menanggapi dan menjawab. Malah jadi moderator tuh penulis, hahaha. Tapi setelah tidak ada yang menanggapi, ia jawab dan diluruskan sendiri.
“Novel Remaja Islami Terbaik, bebas, Bos!” pungkasnya sambil menunjuk logo berwarna keemasan di bagian bawah sampul novel dengan agak sombong -untung memang terbaik, jadi agak bisa diterima.
Diskusi berlanjut cukup panjang. Kalau ditanya seru apa tidak? Tentu saja jawabannya SERUU PAKE BANGETTTT!!!. Ini tidak seperti jumpa penulis yang kukira. Aku pikir seperti bedah buku pada umumnya, setelah pemaparan dari penulis, hanya ada beberapa pertanyaan dan tanggapan yang bisa disampaikan oleh para pengunjung. Tapi di sini, aku, kamu, dia, dan semua orang yang hadir diberi kesempatan untuk menanggapi, berkeluh kesah saat membaca, menjawab sebagai penulis, dan hal seru semacamnya.
***
Tugas liputanku mengharuskan ada 3 narasumber, penulis, penyelenggara, dan pengunjung. Penulis sudah pasti aku akan menjadikan Bang J.S. Khairen sebagai narasumber utama, mau siapa lagi? Tapi, tapi, tapi. . . manusia introvert sepertiku ini banyak takutnya.
“Bagaimana kalau Bang J.S. Khairen buru-buru, dan tidak mau ditanya-tanya?”
“Bagaimana kalau penyelenggara tidak mengizinkan?”
“Bagaimana kalau anu?”
“Bagaimana kalau itu?”
“Bagaimanaaa????”
Baiklah, kuyakinkan diriku. Kususun strategi agar aku bisa menanyakan satu atau dua pertanyaan.
Aku memutuskan meminta tanda tangan Bang J.S. Khairen di antrian paling akhir agar mendapat waktu sedikit lebih santai untuk liputan. Sembari menunggu, aku wawancara narasumber ke-2 dan ke-3. Dari penyelenggara aku wawancara langsung dengan Manager Gramedia Gelora Indah Purwokerto, Kak Febi. Kalau untuk pengunjung, aku wawancarai 2 orang, Mas Alwi Hakim dan Mas Fajrul Alam. Fun Factnya, salah satu dari mereka adalah redaktur bilfest.id lho. . . Yang mana? Search sendiri lah ya.
Tiba masanya aku bertatap muka dengan Bang J.S. Khairen si mas-mas gondrong itu. Jantungku berdenyut lebih kencang dari sebelumnya. Pikiranku berisik sekali.
“Pertanyaan yang mana dulu ini?”
“Tanya sekarang atau nanti?”
“Kak, pesan buat pembaca yang baru menulis”, saking gugupnya aku, sampai tak karuan susunan ucapanku, aduh malunya.
Tapi syukurnya, Bang J.S. Khairen tak sejahat itu rupanya. Ia jawab pertanyaanku sambil menghadap ke kamera yang dipegang temanku.
Ia lalu berbicara, “Bacalah dua buku setiap bulan, satu fiksi satu nonfiksi; fiksi untuk hati, nonfiksi untuk kepala. Semoga ada seratus juta keluarga yang punya perpustakaan kecil di rumahnya.”
Spontan kujawab, “Aamiin.”
Nafisatun Niswah, perempuan yang lebih sering tenggelam di bacaan fun fact daripada gosip ini lahir dan tinggal di Plangkapan, Kecamatan Tambak, Kabupaten Banyumas. Bisa di hallo lewat Instagram @nafniswah__ atau @reynswr__.




