
Pagi yang cerah mewarnai Purwokerto saat itu. Tepatnya pada Sabtu 25 April 2026. Langit biru bercorak putih awan menyajikan seporsi semangat untuk beraktivitas. Kali ini saya bersama teman meluncur ke Stasiun Purwokerto untuk menjemput maestro cerpen yang pada 2023 mendapatkan penghargaan Cerpen Pilihan Terbaik Kompas 2023 dengan judul cerpen “Istri Sempurna”. Dia tak lain adalah Aveus Har, namanya. Penghargaan mutakhir beliau adalah Juara 2 dalam Lomba Penulisan Skenario Film Panjang SINEMA yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2026.
Kedatangan Aveus Har ke Purwokerto bukanlah untuk wisata sebagaimana orang pada umumnya, melainkan untuk keperluan mengisi kelas Inkubasi Penulis Banyumas 2026 yang diadakan oleh BIL Fest. Program Inkubasi Penulis Banyumas itu sendiri merupakan bagian dari rangkaian event literasi tahunan yang diadakan oleh BIL Fest. Nantinya event ini akan digelar sepuluh hari sepuluh malam, mulai dari 11-20 Juni 2026 di Hetero Space Banyumas.
Sebagaimana menunggu pesanan seporsi mie ayam, kami tak butuh waktu lama untuk menanti kedatangan Mas Aveus Har. Meski sebenarnya sudahlah bapak-bapak, namun kita sebut “mas” saja. Supaya lebih akrab dan bisa sedikit menyenangkan beliau jika dipanggil “mas”. Wkwkwk. Beliau ini, selain menulis cerpen, novel, puisi, dan skenario film, juga menjadi seorang CEO Mie Ayam di Pekalongan. Kesehariannya dia habiskan untuk bergulat dengan kata-kata dan alunan bunyi mangkuk dengan sendok, garpu, dan sepasang sumpitnya.
Akan panjang jadinya – sebagaimana mie ayam yang menjuntai – jika biografi berikut karya-karya beliau dihidangkan sepenuhnya dalam semangkuk tulisan ini. Di sisi lain, barangkali bagi Mas Aveus Har sendiri lebih suka dan lebih ingin dikenal karyanya bukan dikenal orangnya. Mungkin juga sama satu lagi, ingin dikenal usaha mie ayamnya yang berada di Kota Batik, Pekalongan. Bisa jadi mie ayam beliau mengandung banyak metafora, plotwist, dan cita rasa puitik yang tak kalah epic dengan karya-karya tulisnya. Wkwkwk.
Jadi kali ini, saya hanya akan menuliskan sedikit yang bisa saya telan selama duduk bersama Aveus Har. Sebenarnya banyak yang saya cerna dan sudah membuat saya cukup kenyang akan hal ihwal yang menarik dari obrolan bersama beliau. Namun tidak semuanya bisa saya tuliskan di sini, salah satu alasannya karena keterbatasan saya sendiri.
Dari Buku Catatan, Sepuluh Jari Buta, Hingga Sebilah Gawai
Aveus Har dalam proses menuliskan cerpen-cerpennya dan karya-karya lainnya mengalami beranekaragam gurih-kecutnya tersendiri. Meski begitu, beliau tak urungkan kemauan dan semangatnya dalam menulis. Bagi saya, Aveus Har adalah sosok yang mencintai sebuah proses dan menikmatinya serta tidak terpaku semata pada output dari kerja-kerja kreatif menulisnya. Bahkan mungkin dia tidak memikirkan akan bagaimana nanti hasil dari ketekunannya menulis. Ketika menulis, yang ada dalam benaknya bisa jadi hanyalah bagaimana dia bisa memaksimalkan setiap langkah-langkah dalam menulis (proses). Dia menikmati prosesnya. Sementara kebanyakan dari kita enggan untuk menikmati dan mencintai sebuah proses.
Beliau mengenyam fase menulis mulai dari buku catatan, sepuluh jari buta di komputer, hingga dengan dua ibu jari di sebilah gawai. Menurut saya, perpindahan kebiasaan menulis dari satu perangkat ke perangkat menulis lainnya tidaklah semudah itu ferguso. Kita bisa rasakan sendiri perbedaan menulis di buku, menulis di laptop atau komputer, dan menulis di gawai. Seorang penulis harus merekonstruksi kebiasaannya yang sudah terbangun pada proses menulis di perangkat sebelumnya. Tapi hal ini akan runtuh seketika jika ditantang dengan semangat garis keras penulisnya. (Sayangnya sebagian dari kita semangatnya masih garis lemah-gemulai dan garis putus-putus).
“Saya ngalamin nulis di buku tulis juga mas, kemudian di pindah ke komputer dan nulisnya dulu bisa sepuluh jari buta. Lah sekarang harus bisa nulis pake dua jempol” ungkap Aveus Har saat obrolan kami sewaktu di dalam mobil. Dalam postingan instagram-nya, Aveus Har juga menuliskan ceritanya dalam bentuk carousel, “Jika kau punya banyak kendala untuk menulis, kau mungkin perlu tau ini: Pada 2014 orang ini menulis di HP layar 3 inci sambil menunggui warung dan momong anak sulung. Pada 2026 orang ini menjadi juara 2 lomba menulis skenario film panjang. Jadi, kau boleh memilih untuk berjuang menerabas batas.” Tulis beliau dilengkapi dengan foto dirinya saat menulis di warung ditemani anak sulungnya dan fotonya saat meraih Juara 2 dalam Lomba Penulisan Skenario Film Panjang SINEMA dengan judul naskah “Pertaruhan Sunyi”.
Sebelum Tersaji Seporsi Mie Ayam
Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa Mas Suharso atau Aveus Har (nama penanya), dalam proses kreatif menulisnya tidak lantas menunaikan permenungan di atas bukit atau tempat-tempat sunyi pertapaan atau di sudut kamar. Beliau menulis bahkan di sela-sela ibadah jualan mie ayamnya. Sewaktu menunggu pembeli, ia gunakan waktu tersebut untuk menulis. Boleh dibilang proses kreatif menulisnya juga lahir dari rahim warung mie ayam. Setidaknya ini bisa buat motivasi untuk kita agar lebih semangat dalam menunaikan kerja-kerja kepenulisan maupun hal positif lainnya. Meski dalam kondisi kecamuk sekalipun, sebenarnya kita masih bisa ambil kopling dan tancap gas.
“Karena menulis di sela-sela jualan mie ayam, pernah saya lalai dalam melayani pembeli, mas. Mintanya dibungkus tapi saya sajikan di mangkuk, atau sebaliknya. Kalau ngga gitu, ya kadang tulisannya yang mendadak kehilangan alur cerita, karena terjeda melayani pelanggan yang datang. Sering juga ide itu muncul sewaktu memasak dan menyajikan mie ayam. Jadi di kepala tuh ada pergulatan ide.” Demikian kurang lebih tutur beliau sewaktu ngobrol sesaat sebelum mengisi materi pada Inkubasi Penulis Banyumas 2026.
Sebelum tersaji seporsi mie ayam di hadapan pembeli, Aveus Har berjibaku dengan kata-kata dan alur cerita. Sebelum tersaji cerpen di hadapan pembaca, Aveus Har berjibaku dengan mie ayam, sumpit, panas api, minyak, dan mangkuk mie ayam yang biasanya ada cap ayam jagonya. Beliau juga bercerita di mana sewaktu dulu ia masih menulis di buku tulis, sering kali saat jeda menulis karena ada pembeli, lembar tulisnya yang mengandung tulisan beliau dibuat coret-coretan sama anaknya. Walhasil hasil tulisannya menuntut untuk dikasih perhatian khusus supaya lebih teliti membaca atau menuliskan ulang kembali di lembaran baru.
“Jadi, kau boleh memilih untuk berjuang menerabas batas.” – Suharso (Aveus Har)
Fajrul Alam. Penyair muda dan aktif di dunia literasi Purwokerto, ia juga telah menerbitkan sejumlah karya puisi yang tersebar di berbagai media cetak dan digital. Buku antologi puisi pribadinya berjudul “Resep Bahagia” (JP: 2025). Bisa disapa via IG: fajrulalam_




