
Nazam atau disebut dengan nadzom merupakan syair dalam sastra Arab dan Persia yang ditujukan untuk keperluan pendidikan (Syi’r Ta’limi). Isi syair menyajikan kaidah, rumus, juga sejarah. Bentuk pengucapan puitik nazam terikat pada aturan tertentu yang membentuk kekhasannya. Susunan lariknya terikat oleh dua belas pemenggalan suku kata, dan umumnya memiliki pola sajak akhir berima a-a-a-a.
Di Indonesia, nazam telah menjadi tradisi didaktik sekaligus estetik yang berkembang seiring dengan eksistensi pesantren. Pertama, nazam dalam konteks didaktik menjadi bagian penting dari pengajaran sekaligus menghafal kitab-kitab agama Islam menyangkut fiqih, aqidah, adab, kaidah bahasa Arab, juga tajwid atau cara membaca Al-Qur’an. Kedua, nazam sebagai bagian tradisi estetik di pesantren dipraktikkan dengan cara dinyanyikan baik secara perseorangan atau komunal oleh para santri sebagai metode menghafal.
Dalam jejak sejarah pesantren di Indonesia, sejumlah ulama menerjemahkan dan menyadur kitab-kitab agama dalam bentuk nazam untuk bahan pengajaran. Syekh Mahmud Mukhtar Al-Bode, ulama dari Cirebon misalnya, menerjemahkan dan menyadur kitab Matan Al-Ajuruymiyyah karya ulama besar Maroko yaitu Syekh Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad Ibnu Ajrum As-Shanhaji (672 H-723 H). Kitab itu diterjemahkan dan disadur dalam bentuk syair berbahasa Jawa dan ditujukan untuk pengajaran bagi pelajar Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau berarti dimaksudkan bagi anak-anak setara sekolah dasar.
Saat ini praktik penerjemahan serta penyaduran kitab-kitab agama dalam bahasa Indonesia dengan metode bentuk nazam giat dilakukan oleh Ustadz Barkah Syuhada di Dusun Bendagede, Desa Sarwadadi, Kecamatan Kawunganten, Kabupaten Cilacap. Dari tahun 2021 sampai 2025, Ustadz Barkah telah menerjemahkan dan menyadur 6 kitab yakni secara berurutan kitab Jurumiyah menyangkut kaidah bahasa Arab di tahun 2021, Matan Al-Bina Wal Asas terkait tajwid atau cara membaca Al-Qur’an di tahun 2021, Safinatun Najah menyangkut fiqih di tahun 2022, Aqidatul Awam menyangkut aqidah di tahun 2023, Hidayatus Sibyan menyangkut tajwid dasar di tahun 2023, dan Taisirul Kholaq menyangkut adab di tahun 2025.
Enam buku tersebut banyak diminati oleh berbagai kalangan serta berkembang sebagai program-program pelatihan metode nidzomi di lembaga-lembaga pendidikan yang meluaskan jaringan Ustadz Barkah sampai ke Banyumas, Bekasi, dan Tuban. Jangkauan estetik nazam juga tampil menjadi bagian budaya populer seperti lagu “Kisah Singkat Nabi Muhammad (2024)” yang lirik lagunya ditulis oleh Ustadz Barkah dari penggalan kitab Agidatul Awam lalu dinyanyikan oleh penyanyi religi Nissa Sabyan dengan iringan musik pop.
Praktik estetik pelantunan syair memang punya jejak panjang di Nusantara dan melibatkan ulama-ulama unggul yang produktif melakukan penulisan kreatif. Teks syair-syair tasawuf Abdul Jamal, penyair dan sufi Melayu yang hidup di Barus dan Aceh pada abad ke-17 biasa dilantunkan sebagai bagian ajaran dari konsep wahdat yakni martabat kedua (martabat kejadian ruh idlafi) dalam ajaran “martabat tujuh”.
Ta’ayyun awwal wujud yang jamii
Pertama nyata di sana ruh idlafi
Semesta ‘alam sana lagi ijmali
Itulah bernama Haqiqat Muhammad al-Nabi
Ta’ayyun tsani wujud yang tamyizi
Di sana terperi sekalian ruhi
Semesta ‘alam sana tafshil yang mujmali
Itulah bernama haqiqat insani
Di sisi lain, tumbuh kembangnya pendidikan Islam seiring dengan peran para ulama yang gemar melakukan kegiatan penulisan kreatif melalui karya-karya yang ditulis menggunakan bahasa Arab, bahasa ilmu dan bahasa internasional dunia Islam, bahasa lokal dan bahasa nasional. Penulisan kreatif dalam bahasa lokal, contohnya Jawa, dapat ditengok misalnya dalam Kitab Syi’ir Ngudi Susilo karya Kiai Bisri Musthofa (1915–1977). Kitab ini menganjurkan pengajaran akhlak dan sopan santun sejak dini pada anak-anak, baik laki-laki dan perempuan, mulai usia 7 tahun.
Kita perlu pula mengingat, Syekh Nawawi Banten (1813-1897), yang telah menulis puluhan –konon seratus lebih—kitab tentang fiqih, akhlak, tauhid, tasawuf, dan tafsir yang semuanya dalam bahasa Arab. Kita perlu berbangga, bahwa seorang ulama kelahiran Tanara, Banten, di abad ke-19 itu sangat produktif menulis karya keilmuan dan memperoleh otoritas keilmuannya secara internasional. Wajar adanya, Syekh Nawawi Banten menyandang gelar prestisius sebagai Sayyidu ‘Ulamail Hijaz (Mahaguru atau Guru Besar Ulama Hijaz) dan puluhan kitabnya masih diajarkan hingga sekarang di banyak pesantren di Indonesia. Meski tinggal di Mekah, Syekh Nawawi selalu menyebut Tanara sebagai tempat pertumbuhan dan rumahnya (at-tanari mansya-an wa dar-an) sebagaimana ia sebut dalam kitab Kasyifat-u ‘s-Saja.
Kitab-kitab agama sebagai bagian tradisi tulis para ulama di Indonesia adalah bahtera yang menampung muatan sejarah literasi para ulama mengembangkan produk ilmiah untuk menyampaikan keterjalinan teologi dengan peradaban pembentuk adab dan kebudayaan masyarakat. Indahnya, bahtera itu juga kerap berlayar dalam gelombang tradisi estetik. Kepengrajinan mengolah bahasa sebagai bagian kreatifitas mengajar agama dan berdakwah yang beberapa di antaranya, nazam atau nadzom sebagai salah satu contoh, lalu dipelajari dan dihayati dengan cara-cara khas berbentuk orkestrasi rohani dalam bentuk alunan suara bernada.
Di Indonesia, nazam telah menjadi tradisi didaktik sekaligus estetik yang berkembang seiring dengan eksistensi pesantren.
Abdul Aziz Rasjid, Warga Dusun Bendagede, Bantarsari, Cilacap. Buku yang ia tulis: Sebelum Lampu Padam, Esai-Esai Sastra (2020) dan Renjana, Dongeng Kehidupan Maestro Lengger Dariah (2026).




