
Salam sejahtera untuk teman-teman bilfest.id yang budiman dan yang tabah membaca denyut kehidupan dalam sebuah tulisan. Dalam mozaik kanon kali ini, kita berjumpa dengan selembar cerpen dari Setyo W. Nugroho yang berjudul “Lung Wening Asmaraningrat Pangruwating Sunya”, kemudian sekuntum puisi dari penyair Sumenep-Madura, Farhan Sagara yang terhimpun dalam “Sebuah Bunga dan Puisi Lainnya”, dan segelas puisi racikan Abdul Wachid BS yang dapat dinikmati dalam “Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 8)”. Ketiga karya tersebut terbit di bilfest.id pada 28 dan 29 Maret 2026.
Kegiatan tulis-menulis tak ubahnya sebuah upaya dari menjaga eksistensi. Bentuk usaha keberwujudan dan kerja-kerja kebermanfaatan. Tak jarang atau mungkin kebanyakan orang yang melakukan laku menulis sewaktu ditanya: “Buat apa kamu menulis?”, maka jawaban yang terbit di antaranya adalah supaya namanya abadi, agar sekalipun diri ini sudah tiada namun ide dan pikiran kita tetap mengada, untuk dikenang, untuk menyuarakan perlawanan, dan agar menghibur dll. Jawaban-jawaban tersebut jika dirangkum dalam satu kata, maka andai seumpama sel, “eksistensi” adalah nukleusnya.
Boleh jadi setiap penulis terilhami akan ujar-ujar yang dahsyat dari penulis tetralogi Pulau Buru, Pramoedya Ananta Toer. Beliau berujar, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Tak perlu nunggu jadi penulis, pembaca saja yang membaca itu, mungkin seperti menyentuh panci yang panas: nyoss… maknyus. Ada sebuah rasa yang belum pernah ada. Wkwkwk
Sudah menjadi fitrahnya manusia, bahwa keberadaanya ingin diakui, dikenang dan tidak mudah dilupakan, menghadirkan nilai positif di lingkungannya, dan memberikan dampak manfaat sebisa mungkin, meski terlihat kecil. Ketiga penulis ini, sama sama membawa spirit “Sebaik-baik manusia adalah ia yang bermanfaat untuk sesamanya”. Seekor ayam saja, berbagi makanan kepada sesamanya, maka manusia berbagi tulisan kepada sesamanya.
Sebuah usaha untuk dikenang
Dalam cerpen seorang mas-mas kelahiran 1991 (pastinya enggan disebut bapak-bapak) dari Klaten, yang berjudul Lung Wening Asmaraningrat Pangruwating Sunya kita diajak menyimak dan menonton Sukesi (perempuan) dan Wisrawa (laki-laki) bekerja. Semacam kerja-kerja penelitian. Mereka berdua sedang dihadapkan dengan buku tentang atlas bintang dari abad ke-22. Hanya mereka berdua dalam ruangan tersebut. Lantas adegan apa yang dilakukan selanjutnya? Silakan disimak selengkapnya dalam Lung Wening Asmaraningrat Pangruwating Sunya.
Barangkali bagi orang yang notabenenya bukan Jawa atau asing akan dialek Jawa, mereka akan setidaknya me-replay dalam membaca judul cerpen ini. Bahkan bisa jadi orang yang Jawa pun membacanya tak hanya sekali. Bagi kami penulis sudah menang di awal: membuat orang penasaran dan membaca ulang judul cerpennya. Seperti melihat buah alpukat yang bentukanya agak lain. Membuat mata kembali melihat dan membacanya dengan saksama. Jika diartikan bebas (tapi mohon dikoreksi), Lung Wening Asmaraningrat Pangruwating Sunya kurang lebih adalah Perjalanan menuju kejernihan batin melalui cinta, yang meruwat diri dalam keheningan.
Cerpen ini adalah cerpen romance yang dicampur dengan genre sci-fi. Sebuah genre fiksi spekulatif yang mengeksplorasi imajinasi berbasis sains, teknologi canggih, perjalanan waktu, luar angkasa, atau kehidupan futuristik. Kami tertarik untuk menayangkan cerpen ini karena ada kebaruan yang barangkali bagi pembaca bisa menikmatinya dengan saksama. Walaupun sebenarnya untuk membaca cerpen ini perlu perhatian khusus. Setidaknya ini bisa dijadikan untuk bahan referensi menulis cerpen dengan gaya yang berbeda dari biasanya.
Semesta boleh sebegitu gaduhnya, seperti kabar artis papan atas yang ternyata makanan favoritnya adalah jengkol dan pete, atau kabar selebriti yang selingkuh sama bini orang, atau tutorial mengehemat gas dari seorang menteri dan kabar greget lainnya. Tapi yang tidak boleh tidak, adalah kita dikenang walau hanya oleh seorang saja. Sekurang-kurangnya cerpen ini membawa nilai semacam itu. Sebagaimana dialog Sukesi dan Wisrawa di akhir cerita.
Lanskap upaya mengenang
Selanjutnya kita menyesap puisi-puisi dari Farhan Sagara yang terhimpun dalam Sebuah Bunga dan Puisi Lainnya. Terbuat dari lima puisi yang judulnya, Kidung Buat Silvia, Sebuah Bunga, Akirnya Bulan, Rebahlah Kepundakku, dan Aku Ingin Bercerita Sebagai Masa Depan. Kelima puisi ini, oleh pujangga asal Madura diproyeksikan sebagai pengejawantahan perasaannya yang sudah tidak ada keraguan sama sekali terhadap kekasihnya. // Kau adalah kekasih yang mampu mengiris sisa sisa / ragu di dadaku //.
Puisi-puisi ini semacam upaya untuk mengenang seseorang tersayang. Prosesi mengenang tidak semata diperuntukkan kepada orang yang sudah meninggal. Tapi bisa juga diperuntukkan kepada orang yang secara fisik jauh namun dekat di hati. Kerja mengenang tak ubahnya sebagaimana merindukan. // Dan semenjak itulah aku akan terus bersaksi: / meski begitu lama musim menenangkan kemarau / kupastikan tuhan senantiasa membimbing cinta kita / keharibaan yang lebih kekal. //.
Wajar adanya jika orang Madura pandai bersyair dan membuat puisi. Sepertinya culture atau ekosistem membaca cum menulis baik puisi atau karya lainnya sudah terbentuk sedemikian rupa di sana. Dari Madura terlahir banyak penyair kawakan, seumpama Abdul Hadi WM, D. Zawawi Imran, M.Faizi, dan masih banyak penyair lainnya.
Dalam segelas kenangan
Dalam Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 8) yang ditulis Abdul Wachid BS, di sini tercantum lima butir puisi yang berjudul: Segelas Teh Tanpa Gula, Menata Nafas Merapikan Hati, Gerak yang Pelan Tapi Penuh Makna, Tubuh Adalah Taman yang Harus Dirawat, dan Selembar Daun yang Jatuh Tanpa Isak. Di sini terdapat judul yang menjadi judul series puisi Abdul Wachid BS, Segelas Teh Tanpa Gula. Setelah melalui beberapa episode, pada episode ke delapan ini, penyair menampilkan puisi gongnya.
// Pagi ini, aku duduk sendiri / dengan segelas teh tanpa gula, / seperti hatiku / yang kau tinggalkan / tanpa pelukan, / tanpa alasan. //. Rupa-rupanya puisi judul Segelas Teh Tanpa Gula menggambarkan aku lirik yang sedang dilanda ke-anyeban dalam hidup. Tentang kenangan akan hatinya yang ditinggal begitu saja tanpa pelukan, / tanpa alasan. Serupa segelas teh yang hambar tak sekalipun rasa manis menyambar.
Akan tetapi kehambaran atau bahkan kepahitan dalam hidup akan terasa nikmat jika bersama orang yang tepat. // Kadang aku berharap / kau duduk di seberang, / menyesap rasa ini bersamaku, / agar kau tahu / betapa pahit bisa jadi indah / jika kita rela / menjadikannya puisi. //. Jika dimaknai lebih religius lagi, kepahitan di dunia tak seberapa jika dibanding dengan manisnya kehidupan di akhirat. Boleh dibilang, berpahit-pahit dahulu, bermanis-manis kemudian. Karena untuk mendapatkan manisnya surga salah satu jalannya adalah dengan menyesap pahitnya ibadah.
Tabik,
Tim Redaksi

dari Banyumas menyapa Indonesia




