Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 8)

Supaya lebih utuh seluruh, bacalah terlebih dulu:
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 1)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 2)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 3)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 4)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 5)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 6)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 7)

Segelas Teh Tanpa Gula

Pagi ini, aku duduk sendiri
dengan segelas teh tanpa gula,
seperti hatiku
yang kau tinggalkan
tanpa pelukan,
tanpa alasan.

Teh ini pahit,
tapi jujur.
Ia tak berusaha menyenangkan siapa pun,
hanya menjadi dirinya sendiri,
seperti rinduku
yang tak bisa disembunyikan
di balik senyuman yang kutambal
dengan doa-doa yang tak pernah kau dengar.

Kadang aku berharap
kau duduk di seberang,
menyesap rasa ini bersamaku,
agar kau tahu
betapa pahit bisa jadi indah
jika kita rela
menjadikannya puisi.

Dan teh ini pun
tak meminta gula,
sebab dalam setiap pahitnya,
tersimpan zikir
tentang kesetiaan
yang diam-diam
tetap hangat
di antara kita.

2025

***

Menata Nafas,
Merapikan Hati

Aku duduk di sudut malam,
menatap nafas yang terengah,
seperti cinta yang telah lama terlupakan,
seperti kata-kata yang tak pernah terucap.

Setiap tarikan adalah kenangan
yang membasahi pipi tanpa suara,
seperti rindu yang tersembunyi
di balik senyuman palsu.

Hati ini,
adalah taman yang telah lama kering,
merindukan hujan yang tak pernah datang,
merindukan kehadiran
yang tak mungkin kembali.

Aku merapikan hatiku,
dengan doa yang kupintal dalam diam,
dengan air mata yang mengalir perlahan
seperti sungai
yang tak pernah lelah mencari laut.

Nafasku adalah jejak-jejak yang hilang,
terlupakan di antara jalan-jalan yang berdebu,
tapi di setiap helaan,
aku mencoba menemukan kembali cinta
yang telah hilang di antara kata-kata
yang tak sempurna.

Aku merapikan hatiku,
bukan untuk orang lain,
tapi untuk diriku sendiri,
untuk bisa mencintai dengan utuh,
meski dunia terus berlari meninggalkanku.

2025

***

Gerak yang Pelan
Tapi Penuh Makna

Gerak ini,
terlambat,
seperti jejak yang terlupakan
di permukaan bumi yang tak kenal waktu.
Setiap langkahnya
adalah batu yang dilemparkan
ke laut sunyi,
menggugurkan riak-riak
di kedalaman yang tak bisa dilihat.

Aku bergerak,
seperti matahari yang melintas
di balik langit
yang tak lagi memancarkan cahaya.
Kehadiranku tak bisa diukur dengan waktu,
tetapi dalam ketidakhadirannya
tersembunyi kepingan kehidupan
yang terlewatkan.

Dan meskipun aku tak berlari,
kecepatan tak lagi bermakna.
Aku ada,
seperti tubuh yang dipenuhi tanah
yang tak bisa berteriak,
namun menyimpan rahasia seluruh alam.

Kaki ini menapaki jejak
yang tak bisa dilupakan,
bukan untuk tiba,
tetapi untuk merasakan setiap kekosongan
dalam langkah yang tersembunyi
di antara bayang-bayang yang hilang.

2025

***

Tubuh Adalah Taman
yang Harus Dirawat

Tubuh ini,
lebih dari sekadar kulit dan tulang,
ia adalah taman yang penuh rahasia,
tempat bunga-bunga waktu mekar tanpa suara,
di mana akar kenangan menembus ke dalam,
mengikatkan diri pada tanah yang tersembunyi.

Setiap langkah adalah
jejak yang tak akan hilang,
seperti rindu yang tumbuh di sela-sela nafas.
Kadang tubuh ini merintih,
karena tak tahu bagaimana cara merawatnya,
karena di dalamnya
ada suara-suara yang terlupakan,
penuh nyanyian yang hanya bisa
didengar oleh hati.

Namun,
seperti taman yang tetap hijau
meski musim berganti,
tubuh ini memelihara dirinya sendiri.
Dengan luka-luka yang menjadi pupuk,
dengan kelembutan
yang menjadi air kehidupan,
dan dengan doa yang tumbuh di setiap sel,
tubuh ini belajar untuk hidup kembali.

Ia bukan milik kita,
tapi milik semesta,
yang dengan sabar mengajarkan kita
cara merawatnya.
Dalam setiap pori-pori,
terdapat kisah tentang ketahanan,
dan dalam setiap detik,
terdapat peluang untuk bertumbuh.

2025

***

Selembar Daun
yang Jatuh Tanpa Isak

Selembar daun jatuh
dari pohon yang sudah lupa
bagaimana caranya berbicara
dengan angin yang lewat.

Tak ada isak,
hanya bisu yang mengisi ruang di sekelilingnya.
Daun itu mengalir ke tanah,
tubuhnya yang rapuh
menanggung seluruh berat musim,
menyentuh bumi tanpa perlawanan.

Kehilangan bukan lagi kesedihan yang berlarut,
tapi sebuah perjalanan yang tak pernah selesai.
Aku menatap daun itu,
menggenggamnya dalam diam,
dan merasakannya
seperti luka yang menunggu waktu
untuk sembuh.

Ia jatuh tanpa rintihan,
seperti aku yang belajar menerima
kepergian yang tak pernah bisa dijelaskan
oleh kata-kata.

Namun, di setiap jejak yang ditinggalkannya,
ada sesuatu yang tetap tumbuh
di dalam jantungku:
keteguhan untuk terus berdiri,
meski tak ada yang tahu
kapan aku akan jatuh.

2025

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top