Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 6)

Supaya lebih utuh seluruh, bacalah terlebih dulu:
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 1)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 2)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 3)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 4)

Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 5)

Tikar yang Menjadi Langit

Tikar ini,
pernah menjadi altar
bagi tangan-tangan letih
yang menyuap harapan
ke mulut-mulut yang
belum sempat mengeja Tuhan.

Ia menyimpan jejak kaki
anak-anak yang belajar menapak
di tengah rerintik doa
dan nafas ibu
yang menjahit hari
dengan benang sabar.

Di atasnya,
manusia duduk melingkar
seperti planet-planet kecil
mengitari matahari
yang lupa namanya sendiri.

Namun suatu pagi, tikar ini
tidak lagi bersentuhan dengan lantai,
ia melayang,
menjadi langit yang menampung
segala tangis
yang tak sempat dimaknai.

Dan di bawah langit yang baru itu,
manusia bersujud,
bukan lagi di atas bumi,
tapi di dalam kesadaran
bahwa setiap tapak ingatan
adalah jalan menuju Allah.

2025

***

Zikir yang Gugup

Aku menyebut nama-Mu
dengan bibir yang masih basah
oleh sisa keluh dan luka.

Bukan karena aku khusyuk,
tapi karena tak ada lagi yang kupeluk
selain bayang-Mu
yang menyala
di reruntuhan jiwaku.

Zikir ini gugup,
seperti cinta yang pertama kali
mengucapkan rindu,
gemetar
takut ditolak
tapi tak bisa diam.

Tuhan,
ajari aku berdoa
tanpa rumus,
tanpa jeda,
seperti angin yang meniup
nama-Mu
ke daun-daun yang lelah.

Dan jika suaraku patah
di tengah zikir,
biarkan air mataku
melanjutkannya
dengan bahasa yang tak pernah
dibohongi kata-kata.

2025

***

Doa dalam Irama Nafas

Aku tak lagi menghafal doa
seperti puisi masa kecil
yang ditanam di dinding masjid.
Kini, setiap tarikan nafas
adalah lafaz yang gugup
menyebut nama-Mu
di antara dengung sel darah
dan desir sunyi paru-paru.

Dalam lengkung rusukku,
ada sajadah kecil
yang setiap malam terbentang
oleh rindu
yang tak bisa ditidurkan.

Tuhan,
jika aku lupa ayat-ayat-Mu,
jangan hapuskan irama
yang telah Kau ukir
pada irama nafasku.
Biarlah aku menyebut-Mu
meski tanpa suara,
sebab cinta yang sejati
selalu tumbuh
dalam diam
dan detak
yang setia.

2025

***

Cahaya Tanpa Bunyi

Cahaya ini
datang tanpa bunyi,
seperti doa ibu
yang diam-diam menyapu malam
dengan air mata yang hangat.

Ia tak membentak gelap,
hanya membuka jendela kecil
di dalam dada,
dan menyalakan harapan
dari sumbu luka
yang lama padam.

Aku tak tahu
apakah ini cahaya
dari langit
atau hanya sisa pelita
yang lupa padam di ubun-ubun.

Tapi ia mengajariku satu hal:
bahwa terang tak selalu butuh suara,
kadang cukup kelembutan
yang menjilati retakan jiwamu
hingga kau percaya lagi
pada hidup.

2025

***

Senyum yang Menyembuhkan

Senyummu
adalah obat yang tak pernah teruji oleh waktu,
seperti embun yang diam-diam menghapus debu
di jendela hati yang terjaga sepanjang malam.

Di balik senyum itu,
aku melihat langit yang tenang,
seperti laut yang terjaga,
menggulung gelombang dalam sunyi.

Kau tak berbicara banyak,
namun ada getaran halus yang merasuk,
lebih dalam dari kata-kata yang pernah kususun
di atas kertas yang terkulai.

Senyummu adalah penyembuhan
yang tak perlu alasan,
karena ia datang tanpa permintaan,
seperti hujan yang mengalirkan kehidupan
di tanah kering yang lupa akan musim.

Aku tak tahu bagaimana kau
menemukan kekuatan itu,
tapi senyummu mengajarkanku
bahwa hidup, meski penuh luka,
masih menyisakan ruang untuk bahagia,
seperti bunga yang mekar di atas abu.

2025

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top