
Kata Sabrang kira-kira begini, “tanda orang yang belajar dan siap menerima ilmu itu memiliki formulasi pertanyaan. Sehingga dia punya wadah untuk menerima ilmu itu”.
Kita coba pelan-pelan menerapkan tesis itu ketika diri kita sedang belajar -saat kita memposisikan diri sebagai murid. Jika kita punya kesempatan tahu lebih dahulu akan sebuah ilmu, lalu menjadi guru, coba ajak murid kita untuk menerapkan tesis itu. Ajak mereka membangun formulasi pertanyaan dalam kepalanya sebelum mempelajari sesuatu. Sehingga pada saat proses belajar, ada ketercapaian ilmu. Dan jika akhirnya belum tercapai, ada langkah evaluasi yang dilakukan. Sehingga tujuan belajar untuk mendapatkan ilmu dan menjadikan manusia itu tumbuh, bisa tercapai.
Mozaik Pekanan kali ini, merespon tulisan yang tayang tanggal 9-13 Maret 2026. Ditulis oleh berbagai generasi. Genrenya sama, tentang pendidikan. Hanya saja permainan melodi katanya berbeda. Nadanya disetem sesuai dengan zaman dan usia penulisnya. Sehingga pekan kedua bulan Maret ini, kita bisa bersama-sama belajar, tentang belajar dari mereka.
Namun, tim redaksi tidak hanya menjadi pembaca pertama atas notulen zaman yang mereka tuliskan, namun memberikan sedikit kritik. Supaya menjadi jamu. Supaya juga menjadi balance atas sebuah fakta kehidupan yang semuanya tidak bertepuk tangan atas apa yang kita lakukan.
Fokus dari penulis tentang permasalahan di dunia pendidikan saat ini adalah proses pendidikan ikut cepat di era yang serba cepat. Namun jika penulis lebih melebarkan fokusnya lagi dalam melihat realitas dan problematika pendidikan di Indonesia, sesungguhnya adalah ketimpangan. Atau sebenarnya penulis memiliki batasan, pendidikan di mana yang begitu serba cepat? Penulis perlu memperjelas batasan atas tulisannya.
Jika tulisan ini tentang pendidikan yang menyeluruh di Indonesia, sebenarnya seperti yang tertulis di atas, permasalahan pendidikan yang lebih utama di Indonesia adalah ketimpangan. Sehingga, penulis lebih bisa mengajak pembaca untuk melihat problematika pendidikan yang bersifat lokal, regional maupun nasional. Sehingga dapat memberikan saran atau masukan yang lebih tepat. Karena tidak semua saran bisa diterapkan. Tergantung keadaan, kebutuhan dan jenis permasalahannya.
Tim Redaksi menyoroti pendahuluan yang dipakai untuk memberikan informasi tentang burnout. Menjadikan Google (mesin pencari) sebagai dasar, kurang begitu tepat. Penulis bisa mengutip dari ahli dari literatur tertentu tentang istilah tersebut. Sehingga narasi yang dibangun lebih kuat.
Saran lain dari tim redaksi adalah penulis kembali memahami tentang konsep “golden hour”. Sehingga dapat menggunakan teori itu dalam membedah sebuah masalah, dalam hal ini menghadapi burnout. Perkaya lagi bacaan, sehingga penulis memiliki berbagai macam perspektif. Sehingga ketika memberikan saran, tidak klise. Ada hal baru yang bisa ditawarkan kepada pembaca.
Rintik Hujan Di Atas Buku Harian
Esai hari Rabu, 11 Maret 2026 tidak berdiri sendiri. Esai itu adalah bagian tak terpisahkan dari puisi Rintik Hujan di atas Buku Harian yang tayang secara periodik selama 7 pekan. Pembaca bisa mengawalinya dengan membaca puisi tersebut. Esai ini adalah manifes dari maestro kepenyairan Abdul Wachid B.S. yang sudah matang.
Meskipun ini esai tentang proses kreatif, Abdul Wachid B.S. tidak hanya bercerita tentang tulisannya dan cara ia menulis, namun tentang mengapa ia harus menulis puisi Rintik Hujan di atas Buku Harian.
Seni Mengembangkan Diri dalam Belajar Matematika
Segmentasi pembaca yang dibangun oleh penulis sudah jelas. Namun di satu sisi, penulis juga harus memikirkan, pembacanya tidak hanya dari kalangan mahasiswa yang belajar Matematika.
Sehingga narasi yang ditulis oleh penulis, ada narasi-narasi penjembatan, antara pembaca nonmatematika untuk bisa masuk ke dunia pembelajar matematika. Dan hal ini, tim redaksi belum menemukannya. Penulis baru menyampaikan tentang konsep-konsep dasar dalam belajar. Esai ini bisa diperdalam lagi. Sehingga ada strategi yang terkesan khas dalam belajar matematika yang ditawarkan.
Esai kritis yang ditulis oleh Fikri Kuncen bukan berasal dari jarak yang jauh. Namun kedekatan penulis dengan isu tersebutlah yang menjadikan narasi itu terbangun. Atau bisa jadi, memang penulis menjadi bagian di belakang layar atas sebuah proses pendidikan di lembaga tertentu.
Namun, kritik yang kritis harus diperjelas juga. Karena tidak bisa digeneralisir, semua proses pendidikan berbasis Al-Qur’an hanya sebagai branding. Esai ini bisa menjadi cambuk kecil bagi pendidik. Namun juga masih bisa dibantah dengan gagasan yang setara supaya ada pembanding. Semoga ada esai yang “menjawab” atas esai ini.

dari Banyumas menyapa Indonesia




