Mozaik Pekanan: Bangsa Altruisme

Seperti biasa, tim redaksi berusaha mencari payung besar untuk menaungi tulisan yang tayang, khususnya dari hari Senin sampai Jum’at, 2-5 Maret 2026. Namun alih-alih menemukannya, kami teringat kembali, bahwa tulisan yang tayang merupakan jari-jari yang saling menyokong, ada yang berperan jadi kain antiairnya, ada pula yang jadi gagangnya. Lalu membentuk dirinya sendiri. Kemudian “megar payung” dan bisa dinikmati pembaca.

Di bawah “megar payung” itu, ada satu rasa kesamaan yang bisa dilihat. Baik itu kesamaan rasa riwayat penulisnya maupun apa yang dituliskan. Mereka adalah para Bangsa Altruisme. Bangsa mana lagi itu? Apakah mereka sezaman dengan Bangsa Romawi? Atau Bangsa Maica-nya Toto Rahardjo? Temannya atau malah musuhnya?

Barang tentu, Bangsa Altruisme yang kami sematkan pada para penulis maupun tulisannya pekan ini, bukan Bangsa Romawi. Bukan pula teman para Bangsa Maica. Lalu mereka bangsa apa dan muncul dari mana?

Para penulis -sesuai riwayatnya, bukan orang yang merasa berjalan sendiri dan hidup untuk diri sendiri. Melainkan mengambil peran-peran kemanusiaan dalam hidupnya. Untuk orang lain, makhluk lain dan bangsa lain. Menebar senyum, kebaikan dan kebahagiaan, tuk dirinya dan orang lain. Mereka punya empati, dan jiwa memberinya tinggi.

Jangan Kehilangan Sifat Dasar Manusia

Bangsa Altruisme bukan manusia dalam bentuk lain. Mereka adalah manusia pada umumnya. Punya hati, punya jiwa sebagai sifat dasar. Namun semakin bertumbuhnya manusia, egoisme dan serakah juga turut tumbuh, rasa empati jadi runtuh. Merasa paling hebat dari liyan.

Maka dari itu, kegelisahan akan tanda-tanda itu ditangkap oleh Deka Aepama. Sebagai bagian dari manusia yang punya hati dan kesadaran, ia menuliskan tentang kritik sayang kepada pemerintah, yang merupakan bagian dalam hidupnya. Kan pemerintah sama-sama manusia juga? Bisa juga dulu dilahirkan oleh Bangsa Altruisme juga.

“. . . pemerintahan sering tampak seperti mesin besar yang bekerja tanpa empati. Di tengah dunia yang berubah cepat, struktur yang terlalu rapi justru kehilangan kemampuan beradaptasi.”

“Ketika layanan publik terlalu tunduk pada prosedur, regulasi, dan citra formal, ia justru berisiko kehilangan kejujuran paling dasarnya: keberpihakan pada manusia.”

Jangan sampai, anak-anak yang lahir dari Bangsa Altruisme, meletakkan sifat dasar manusia, ketika mendapatkan amanah atau jabatan sebagai pemerintah. Entah di level dan posisi manapun, padahal tetap manusia, apakah hatinya sejenak ditanggalkan?

Mendengarkan dengan Cara yang Berbeda

Ciri lain dari Bangsa Altruisme adalah mampu menemukan titik indah dalam diri manusia. Baik dari dalam dirinya sendiri, maupun yang lain. Sehingga sudah lepas dari takdir perbedaan fisik dan gender -yang memang di luar kendali manusia.

Jika kita membaca tulisan dari Nur Fadhilah Rizqi, kita akan menemukan bahwa justru bersama teman Tuli, dirinya mendapatkan ilmu baru, pengalaman baru dan cara baru dalam mendengarkan dunia.

Ia menjadi telinga bagi teman Tuli. Menyimak cerita dan kehidupan mereka. Lalu membawanya dalam sebuah panggung 90 menit. Ia menjadi router antara teman Tuli dan teman Dengar bersama JBI (Juru Bahasa Isyarat).

Hal yang harus kita sadari adalah, dunia Tuli dan dunia Dengar bukanlah dua dunia yang berbeda. Pencipta manusia tidak membedakan hal itu secara fisik. Perbedaanya adalah pada “cara”. Justru dengan perbedaan “cara” itu, kita akan menemukan keindahan yang lainnya. Keindahan yang hanya bisa ditemukan saat dunia Tuli dan dunia Dengar ada titik temu. Dan para Bangsa Altruisme mampu menjadi titik temunya.

Bangsa yang Lahir Sporadis

Kami tidak bertanya kepada Laeli Linastussa’adah, apa yang ia tuliskan dalam “Survival Mode” berangkat darimana. Kami menjaga jarak akan hal itu. Tapi kami hanya menyentuh ke ranah teknis penulisan saja.

Namun, para pembaca akan bertanya, apakah ini berangkat dari yang penulis alami? Atau teman dari penulis, atau penulis melihatnya di mana?. “Perempuan” dalam tulisan “Survival Mode” adalah realitas tak nampak di sekitar kita. Bisa jadi dekat namun karena di pelupuk mata, jadi seperti kehidupan perempuan pada umumnya.

“Perempuan” dalam tulisan Laeli, jika ia berhasil dalam hidupnya, ia akan menjadi bagian dari Bangsa Altruisme. Lalu bagaimana jika “perempuan” itu tidak berhasil? Barang tentu, akan ada Bangsa Altruisme di sekitarnya, yang menjadi pelindung dan penjaga. Para Bangsa Altruisme tidak akan membiarkan “perempuan” itu sendirian. Mereka ada di mana-mana, bertebaran, dan jumlahnya meningkat. Bangsa Altruisme lahir dan tumbuh secara sporadis karena itu adalah alamiah manusia.

Para Perantau dan Harapan sebagai Kerangka Kehidupan

DNA perantau jelas DNA Bangsa Altruisme. Ia mengorbankan kenyamanan diri, demi kelak mendapatkan kehidupan yang lebih baik saat ada orang yang hidup bersamanya. Menjadi perantau bukan ambisi pribadi. Perantau adalah ambisi kehidupan yang kelak berkecukupan bersama keluarga. Motif perantau adalah kesejahteraan diri dan orang lain (other-regarding interest).

Menekan ego untuk menjalani hidup semaunya sendiri, lalu memilih menjadi perantau yang jauh dari rumah adalah keputusan yang tidak mudah. Azkiya dalam tulisannya kali ini, mengajak para perantau untuk tetap merawat harapan dengan do’a-do’a. Seolah ingin berkata, nikmati dan jalani, sambil ngeplay lagu dari Perunggu.

Dan perlu dipahami bersama, bahwa Bangsa Altruisme itu bebas kelas. Mereka bukan di kelas pekerja, kelas menengah atau kelas manapun. Ada di kota juga ada di desa. Ia ada dalam DNA semua kelas sosial masyarakat. Tidak hanya masyarakat yang lembur naik KRL.

Altruisme Religius

Terakhir adalah tulisan dari Devon yang kami tayangkan pada pekan ini. Sebelum beralih ke hari Sabtu yang tayang tuDalam praktik zakat, tidak ada penyangkalan atau pertentangan bahwa zakat adalah salah satu perbuatan Bangsa Altruisme. Narasinya dan ajaranya sudah dipahami dan diterapkan dengan baik.

Saran dari tim redaksi adalah bagaimana konsep zakat ini, maupun kedermawanan yang lain, menjadi solusi struktural terhadap realitas kemiskinan dan penangkal pemiskinan. Ada sistem yang dibentuk sebagai cara untuk mengikis kemiskinan dan pemiskinan. Dan sistem itu hanya bisa dijalankan oleh para Bangsa Altruisme yang mendapatkan kesempatan menjadi pengelola struktural dan pengambil kebijakan. Sehingga zakat dan bentuk derma lain, tidak menjadikan ketergantungan hanya menerima dan menegadah. Melainkan ada proses penyadaran, pemberdayaan dan pemandirian.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top