Konklusi dan Puisi Lainnya

Kera Kursi Penguasa

Kau pikir kau sangar
Kau pun tak pernah istighfar
Beragam aduan menjadi ratusan eksemplar
Kau anggap semua hanya kelakar

Sampai kapan kita menunggu
Dunia kini tengah terpuruk
Nyawa mereka sedang terbelenggu
Nyali kita malah seperti kerupuk

Dengarlah ia mengerang
Tuhan kini berang
Alam yang akan turun tangan
Kini tinggal menunggu giliran

***

Selamat Datang

Gilirannya tiba
Selamat datang,
Dariku yang tak pernah istirahat,
Yang dipaksa untuk membutakan

Terbelenggu,
Tak bisa membantu
Kadang basah asin
Namun lebih sering basah anyir

Makin lihai petugas itu
Sukarela mencambuk sukma di atas dingin
Menggali informasi demi menjilat sang tuan

Maafkanku yang bisu
Kuharap si penjilat mampus

***

Mampus

Masih patuh saja petugas itu
Sok asik ia menyeretmu
Baru dua kilometer sudah ngos-ngosan
Kalah denganmu yang dipaksa buta demi keadilan

Dibawanya kau entah ke mana
Samar-samar tercium aroma asin
Indah, sayang kau lagi buta
Elok sekali negerimu
Sayang petingginya sedang mabuk kecubung

Dilepaskannya aku darimu
Sekejap,
Kau habis oleh si zalim
Sial—
Ternyata kau yang mampus.
Kembali lagi diriku ke kantung Jahannam.

***

Konklusi

Tubuh lunglai terbaring
Kepala telah melepas pening
Semak pahala telah menguning
Sumur rezeki telah mengering

Nyawa belum merunding
Telinga sesak berdenging
Doa kian bersaing
Wangi kafan jadi tak asing

Dulu pongah menjadi penting
Sekarang senyap tersisa puing
Menggonggong meringking
Mengemis bagai anjing

***

1 komentar untuk “Konklusi dan Puisi Lainnya”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top