
Di Persimpangan Rindu
nasib lampau rekatkan kita
dalam warna madu di selatan tanah pusaka
setelahnya kita menganyam harapan
merakit hari di pundak waktu
lalu angin dari utara mengusapkan idealisme
menghantamkan warna marah di selat itu
tempat negara membuang jasad seseorang
dan dalam retak pelukmu
harapan dari tanah pusaka dikuburkan
tempat kita dulu mengumbar janji
saling menjaga: saling menyayangi
hingga hari ini sayang,
negara tak kunjung kenyang
menghantam tulang-tulang, sedang kita
tak lagi saling menyayang
Kebumen, Juli 2025.
***
Dentang Denting Tanah Genting
di gelap langit pada ujung pagi
basah mendentum celah batu-batu
distraksi menggema
dentang denting tanah genting
yang dirampas dari petani
yang ditanami api
yang digali
dari tubuh
dari tabah
yang digali
yang ditanami api
yang dihempas dari diri
mendentang denting tanah genting
gelap menggema
ribuan bilah kabar yang dibungkam
oleh gemerlap akbar suatu negara
Kebumen, Juli 2025.
***
Cokelat Senja Desaku
desaku sore ini
dipeluk dingin
tanahnya basah
oleh hujan dari pagi
bebatuan lelap
dibelai angin lembab
bukit-bukit di utara
menggugus siluet abu-abu
samar serupa bayang
dari masa lalu
bocah-bocah menyanyikan
nada-nada tawa
di halaman masjid
dengan bunyian sederhana
berlarian di tabah batu-batu
para ibu
mengantar mereka dengan doa
puluhan pasang matanya
menyala cahaya pusaka
demi jalan panjang mereka
di pundak bumi
demi senyum matahari
di ufuk hati
demi sebuah janji
memberi teduh di tengah gaduh
desaku sore ini
dipeluk dingin
lengan-lengan kabut
perlahan lembut
dari punggung waktu
menuju sawah-sawah
menyapa hutan di utara
memberi kabar pada desa
bocah-bocah membasah
dalam peluk orang tua
Kebumen, Juli 2025.
***
Dapur Ibu Pabrik Cinta Bersama Ayah
untuk Mama dan Bapa
dan ibu menanak keringat ayah di dapur
pagi ini,
menjadi aliran tawa kita,
riang matahari sepanjang hari.
dan di pabrik ayah berbekal peluk ibu
kemarin sore,
bersama tangis di dada,
serta pijar matanya yang tua.
dan kita tak bisa mengerti barang sebentar
meski cinta,
bekerja dengan sederhana.
Kebumen, Agustus 2025.
***
Idez Adhie Aksarra, lahir di Kebumen, 24 Februari. Aktif di Perpustakaan Jalanan Kebumen dan menulis dengan semangat “Mengakar merindanglah”. Karyanya antara lain Keffiyeh Menjala Air Mata, Di Bawah Selimut Demokrasi (Elorazine, 2024), serta Pulang ke Jampang Kulon, Bandung Sore Hari (Apajake Media, 2024).




