
Baladah Bahureksa
Tanah mengering di pesisir utara Mataram
Jeritan lapar rakyat jelata akibat kemarau panjang
Sultan Agung membuka lumbung keraton
Hasil dibagi, harapan menggantung di udara
Turunlah titah kepada Patih Sindorejo
“Bendunglah Sungai Sambong yang tak pernah kering
Alirkan airnya ke sawah yang mati
Agar rakyatku kembali hidup”
Patih menembus hutan sunyi
Siang malam membangun bendungan
Namun saat fajar tiba, bendungan runtuh
Ulah siluman Belut Putih penjaga sungai keramat
Pertempuran di tepian Sambong
Pasukan Mataram kalah dan pulang
Sayembara besar-besaran oleh sang sultan
Siapa menaklukkan sungai akan mendapat ganjaran
Seorang pemuda Raden Bahureksa
Putra Ki Ageng Cempaluk yang sakti
Dari desa pengasingan Kasesi
Berangkat menghadapi penjaga gaib
Ia bertapa di tepi sungai memanggil penguasa
Sang Belut Putih menolak dan menantang perang
Pertempuran kembali sengit di arus deras
Hingga siluman takluk di tangan Bahureksa
Bendungan dibangun, air mengalir
Rakyat Mataram menepis kemarau dan lapar
Pujian keberanian dari sang sultan
Namun tugas baru kembali diberikan
“Bukalah Hutan Gambiran di pantai utara
Jadikan tanah liar itu menjadi tempat kehidupan”
Bahureksa berjalan seorang diri
Di hutan rimba menyesatkan jalan manusia
Cuaca yang kacau
Oleh tipu alam gaib
Tekadnya tak surut
Tapa kidang dan tapa kalong
Empat puluh hari bertapa
Menghadapi sang penjaga
Pertarungan mengguncang rimba gambiran
Hingga tunduk dan membuka hutan
Pemukiman berdiri
Tanah baru lahir dari keberanian
Tempat tapa ngalong sang pahlawan
Kelak dikenal sebagai kota “Pekalongan”
***
Mata Tersenyum
Mata tersenyum, menyebut nama yang lain,
Ada kebahagiaan di balik mata yang gemerlap.
Tatapannya memandang yang lain,
Air mata tak lagi turun, hati kecewa.
Tersirat, tapi aku bisa memahami.
Enggan untuk menyatakan, diam tertelan bumi,
Rupanya lahir kupu-kupu dalam perutnya,
Senyuman salah tingkahnya membuat gundah.
Entah bagaimana, reruntuhan lahir bersama luka,
Namaku pada gadis lain.
Yang ku kejar tiada hasil.
Ujung hati habis menjadi ampas pahit,
Memaksa menelan ampas kenangan pahit.
***
Tarot
Kartu-kartu menentukan nasib di ujung kuku,
Baik buruk menerka-nerka,
Terbaliknya kartu menjadi penanda,
Tragedi esok menimpamu.
Kartu baik terasa candu,
Kartu buruk menggerogoti pikiran,
Menunggu hari tiba,
Kartu itu merangkak liar memenuhi kepala.
Kebenaran menetas,
Cangkang terbuka perlahan,
Pikiran seperti lorong sempit,
Cemas berlarian sepanjang malam.
Bagai akar-akar yang merayap kaki,
Meraup diri menguasai pikiran.
Menggeluti lara yang teramat.
Hingga kini, kau dibungkus oleh kartu.
***
Pria Bertopeng dalam Tubuh yang Kosong
Perempuan pada tubuh yang kosong, tanpa sehelai kain,
Darah menetes sepanjang jalurnya, ia hiraukan,
Uang uang dan uang dalam angannya,
Pria-pria bertopeng mengembara lekuk tubuh dengan liar.
Membeli jajan pada perempuan-perempuan di gubuk tua.
Pria bertopeng bermalam hingga istri menjemput,
Menjambak dan menyeret para suami-suami yang sedang jajan,
Perempuan-perempuan dengan tatapan dingin.
Sebelum benar-benar pulang, membayar malamnya.
Melayani hingga subuh sangatlah lelah.
Berbalik istri-istri didorong oleh suami itu.
Memberikan sejumlah uang untuk membayar jajannya.
Mengecup punggung tangan sang perempuan, berkata,
“tunggu aku esok petang”
Kecupan kembali mendarat pada punggung tangan perempuan.
Sang istri hanya menunggu rutinitas harinya,
Sejak kawin itulah rutinitas malamnya.
Menjemput masuk ke dalam gubuk tua.
“Pria bertopeng” adalah julukan suaminya sejak 1635.
Dompetnya memperkaya Perempuan gubuk tua.
Rutinitas malam yang liar,
Peduli setan apa kata orang,
Uang adalah segala-galanya.
Malu tergantikan oleh uang.
Harga diri tergantikan oleh uang.
***

Pasha Aisy Ramadhani merupakan mahasiswi Sastra Indonesia di Universitas Jenderal Soedirman. Menulis puisi dan cerpen merupakan caranya untuk mengabadikan hal-hal yang tidak mampu diucapkan secara langsung. Karya-karyanya kerap lahir dari pengalaman pribadi dan imajinasinya dengan nuansa melankolis. Bisa disapa melalui Instagram @icy.pshaa.




