
Peri Subuh
Aku suka kau menghalau sunyi di mata pagi
Gelap yang tertegun mengetahuimu
Lantas yatim piatu kala cahaya terkubur dalam satu ketukkan jari
Engkau menari-nari di paru-paru rumah yang kusebut dapur
Residu kantuk masih bergelantungan
Aku selalu melihatmu dari belakang bagai peri subuh
Bersayap daster dengan ombak terurai rambut panjang
Nyanyian kukila di atas ranting
Embun yang kehilangan tubuh hujan
Menuntun langkahku kepadamu
Aku seperti hidup kembali dari mati suri
Bahwa perut rindu telah tersihir cinta oleh masakan mantramu
Membuat pagi terasa abadi
Sebelum aku panggul keluar rumah, lagi
Padang, 2026
***
Angan Pohon Randu
Bertahun-tahun aku tegak kukuh
sebagai penopang napas hutan waktu
Berkali-kali melewati semi hijau rimbun
dan kuning gugur daun hati
Bagi yang tersesat, aku hanyalah penanda asal mula
Bagi yang kerap singgah, aku hanyalah naungan sementara untuk merebah
Malam demi malam aku tiada henti menyulam gema sunyi
Udara silih berganti memberi kabar soal putri negeri seberang
Entah kapan takdir pengelana membawa kitab sakral dari raja semesta
Sebuah gulungan berisi seorang permata lahir atas Tuhan melihat Adam kesepian
Tak sengaja jatuh di kaki akarku
Hingga satu lonceng usia akhirnya berdendang
Di sana, burung-burung cendrawasih berdansa
Menampilkan koreografi bunga-bunga di dahan jantungku
Lalu sekejap aku seperti pohon randu memekar kapas
Saat menyaksikan engkau bagai tarian sufi: menakjubkan
Maka teluk memandu ombak merayakan pertemuan
Dengan sungai bersabda alir sepakat
Terimalah kepingan surga itu dalam peluk rongga kayu lengan ranting-rantingmu
Padang, 2026
***
Merpati
Di sebuah gudang yang dipenuhi barang-barang
Sekali ingat, sekali butuh
Bergelantungan sangkar berpakaian jaring-jaring sepi
Sudah lama kosong seperti kehilangan jantung
Setiap pagi cahaya menyusup mata jendela
Memandang malang sangkar merindukan detak merpati
Berharap ketika kelopak kaca itu berkedip membuka
Pulang merpati membawa hikayat cinta
Tapi kini, hanya angin dingin gigil semata singgah
Hingga malam pun jatuh pada teras rumah
Apakah pintu tirai itu diketuk kembali
Ataukah tetap menjadi rahasia elegi
Wahai merpati bermata binar purnama
Selalu menganga pintu hati mungil ini untukmu
Ingatlah pulang jika dunia kerap mematahkan sayapmu
Atau dunia lain telah memberimu sangkar paling mewah
Yang tak kunjung bisa aku penuhi, lekas
Padang, 2026
***
Kijang Patah Kaki
Kamar ini tidak ada celah untukku bersembunyi dari sepi
Aku seperti kijang patah kaki yang diburu detak waktu
Panah demi panah jarum jam melayang lintas di hatiku
Bagaimanapun aku mengelak
Tetap saja menggores semata lara
Dalam usaha pelarian yang melewati pohon-pohon angan
Aku selalu dihadapkan dengan puing-puing bangunan mimpi
Hingga tak tampak tergeletak batang kayu harapan
Membuatku tersandung ke lumpur rindu hitam
Aku tak mampu mengajak kakiku berlari lagi
Terkelungkup menengadah ke atas langit rahasia
Semakin aku melawan, semakin sakit itu merasuk
Dan di kamar ini, aku menjadi bangkai kijang malang
Lenyap digerus waktu
Membiarkan dagingku digerogoti ulat nestapa
Lalu tulang belulangku kehilangan siapa diriku sendiri
Keras putih pucat, mati tanpa nama untuk dikenang, sesaat
Padang, 2026
***
Sampan Senyum dan Mata Bulan Sabit
Malam membawa selimut
Membaluti tubuhku yang gigil
Sebelum sempat merasa gagal
Aku hendak menemui lautan
Berdiri di teras pantai
Menyaksikan engkau datang
Seperti angin laut barat menyejukkan
Dan aku bergeming sejenak
Betapa manis sampan senyum mungil itu saat melintas
Lalu di atasnya indah sepasang mata bulan sabit terbalik
Seperti cekung menyimpan cahaya, tenang
Padang, 2026
***
Zikri Amanda Hidayat dapat dipanggil secara akrab Izik. Lahir di Koto Rawang, Pesisir Selatan tahun 1999. Punya hobi menulis, membaca dan bulu tangkis. Buku yang telah terbit Sehimpun Rasa (Gupedia, 2021), Rentetan Tulisan Tentang Konsekuensi Cinta (Guepedia, 2021), Tak Benar-benar Utuh (An-Nur Media, 2022) dan Mata Waktu (Diandra Kreatif, 2025). Bisa disapa melalui Instagram @bhang_izhik.




