
Re, Dalam Diriku Cinta Itu Nyata
Re, dalam lembar – lembar doa
Aku menyatakan perihal dirimu yang menenggelamkan keangkuhanku di hadapan cinta
Cinta, reika, bagiku adalah hal mengganggu, dan mengungkapkan adalah cara terbaik mengundang kelam takdir
Tetapi, Setelah melihat matamu, keimananku bertambah
Sebab wajah cantik seperti itu tak terletak di bumi
Ia hanya ada di sorga, atau mitos dewi – dewi pada kitab sansakerta
Dan cinta itu reika, dalam diriku nyata walau tak kau ketahui bentuknya
Setiap hari Bagiku, tempat tidur Adalah sandaran ternyaman setelah Tuhan dan ibu
Tapi, ku tambahkan hal – hal lain
Misal fotomu yang ada di genggamanku dan tak kau sadari itu
Aku ingin sekali melupakan apapun yang berkaitan denganmu
Lagumu, tingkahmu, suaramu
Untuk sekedar saja membuat malamku tenang tanpa beban
Dan ketika langkah itu kulakukan hatiku terasa kelu dan tak mau bila kubujuk untuk tanggal
Aku bisa saja meminum anggur dan tertidur
Tetapi, ridhakah hati yang ada namamu menyatu dengan barang haram dari Tuhanku ?
Re, untuk sekali lagi, harus ku apakan kupu – kupu dalam tubuhku ini
Bila waktu melarangku memelukmu ?
Desember, 2025
***
Bulan Tergambar di Wajahmu yang Samar
Kepada: Re
Malam tadi, ia bertamu
Dengan wajah cantik dan anggun
Kelihatan berbeda
Bulan yang tak hilang
Walau kegelapan bertemu
Di dekatnya
Aku adalah kedamaian
Di bawah sifat agama
Tapi, ia dilindungi tuhan
Dan aku sebagai hamba
Dilarang bercengkerama
Dini hari begitu dingin
Tapi tidak dengan bersamanya
Aku melihat air mata dalam tawa
Rindu yang mungkin tak pernah berhenti
Malang,
***
Suatu Hari Re
Ada suatu hari perempuan bunga berada di sisi
Tanpa dia tau bahwa dia sedang disukai
Ada suatu hari perempuan berkerudung anggur
tertawa dan bertanya bagaimana kabarku
Tanpa dia tau bahwa segala keadaanku terbuat darinya
Ada wajah yang kudamba
Wajah yang tak resmi kumiliki
Wajah yang tak ada
Dan tak pernah ada setelah kisah itu mati
Kemudian suatu ketika
Ada yang janggal di hati
Sebuah tawa yang tak hilang bagai noda
Tapi bedanya dia noda yang suci
Malang,
***
Re, yang Indah
Aku tidak punya kalimat yang cocok
Bila dirimu lewat dan mustahil bagiku tidak melirik
Izinkan aku menjadikanmu bingkai suci
Serupa nama – nama nabi
Yang dibicarakan bersama keindahan
Izinkan aku memberimu nama
Nama yang nyaman dan tentram
Ketika gelisah bersandar padaku yang lelah
Lalu engkau menjelma sajadah
Tempat segala resah tumpah
Dan ketika engkau gundah
Izinkan aku menjadi bahu
Yang senantiasa menopangmu
Tatkala rasamu labil
Dan badanmu menggigil
Malang,
***
Mata Reika
Masih berbakatkah aku dalam menulis puisi
Bila segala keindahan telah kaurenggut?
Masih pantaskah puisi kutulis
Bila kepadatan makna tak mampu menampung bagaimana megah cintaku?
Masih adakah kitab cinta, bila isi di dalamnya telah usang
Dan tak mampu menjelaskan barunya cintaku?
Reika, matamu adalah lautan, tempat tenggelam paling nyaman
Desember, 2025
***
Safari Maulidi adalah mahasiswa Universitas Islam Malang. Ia Alumni Pondok Pesantren Annuqayah. Berasal dari Desa Guluk-Guluk Barat, Sumenep Madura. Lahir di Pamekasan, dan tumbuh di Sumenep. Penyuka sastra yang sedang belajar berkarya. Puisi-puisinya tersiar di beberapa media online. Sapa saja di Instagram @safari_maulidi




