Mari Berdo’a dengan Sepi

Sabtu

Selamat merayakan sabtu
ketika satu dari tujuh
mulai menyapa

Melumat segala sepi
yang berapi-api
seluruhku remuk
habis dimaki-maki

Kubawa kembali sunyi
yang tak lekas pergi

Wahai sabtuku yang antik
ditemani bunyi-bunyian hujan rintik
semoga dirimu selalu cantik.

***

Ironi Rindu

Rindu datang tanpa aba-aba
menghantam mata dan dada
kenangan lama kembali meraja
menyentuh luka yang belum reda

Rindu datang tanpa permisi
memeluk sepi dimalam sunyi
namun sialnya bersembunyi dan menjadi yang tak terhenti

***

Merawat Lara

Bertahun-tahun lamanya
menjelajah isi kepala
hanya ada dusta semata
bersumpah pada doa

Mengeja berjuta-juta kata
menggolok tiap raga
hampir tak kudapati
rasa memar bahagia.

***

Usang

Kau tidak akan menemukanku
di atas tumpukan
tumpukan cemas
yang kau remas
agar anumu segera ringkas
juga di sela-sela doa tak beraturan jemarimu

Aku hanya bayangan
yang bertengger di usang dahimu
bersama rentetan waktu terakhir
kali kita bertemu

Tetapi aku adalah jiwa-jiwa
yang mendobrak
rasa itu

Dan detak jam rumahku
menghitung laba rindu
setiap kali kujanggalkan jemariku
menuju indahmu yang layu
dalam ingatanku.

***

Separuh Rasa Segala Doa

Terselip suka pada duka
separuh rasa segala luka
malam mendekap seluruhnya
tak ada kata hanya doa

Harapan tak pernah dingin
separuh rasa yang tak berkesudahan
namun tak pernah ada jawaban melegakan.

***

Menziarahi Luka

Di balik kamar sisa duka yang membangkang
mengusap sesal yang mengangkang
air mata jatuh berlalu layang
di dinding kamar berbisik memandang

Menziarahi luka di pojokan kamar
memahat retak yang tak pudar
hening sunyi menjadi pendengar
segala sesal yang mengakar

***

Di sini Ramai

Ruang-ruang bekas ledakan
asap tebal melucuti impian
tertinggal bisu dikeramaian

Cahaya redup semakin membuncah
serupa tersandung serpihan sejarah
arah sedang mencari arah

Ledakan sunyi tanpa suara yang menggugah
di balik ruang luka perih
semoga harap perlahan berbenih.

***

Putih

Saat tiba waktunya
akupun ikut merayakannya
kini aku saatnya juga
akhirnya usai sudah

Melukiskan bunga mawar
diingatan tubuhku pucat pasi
menjadi saksi

Ditimbun tanah
terhampar batu diiringi doa
diselak kesepian.

***

2 komentar untuk “Mari Berdo’a dengan Sepi”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top