Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 7)

Supaya lebih utuh seluruh, bacalah terlebih dulu:
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 1)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 2)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 3)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 4)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 5)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 6)

Langkah yang Belajar Kembali

Langkah ini,
sebuah aksara yang dulu tergesa
meninggalkan guratan di tubuh bumi
tanpa sempat menoleh
ke bisik rerumputan
atau tangis kerikil yang tak terbaca.

Ia kini pulang,
membawa sunyi yang baru ditafsir,
menyentuh debu seperti menyentuh firman
yang turun bukan dari langit,
melainkan dari rasa sakit
yang ditanam di sela-sela tulang.

Di dalam lutut
ada kitab tak terlihat,
yang huruf-hurufnya disusun
oleh percakapan antara nadi dan waktu.

Setiap gerak
adalah perjamuan rahasia
antara kesadaran dan tubuh
yang mencoba memahami ulang
makna ‘berdiri’.

Dan ketika aku melangkah,
aku bukan berjalan ke depan,
tapi mengais serpih diriku
yang tercecer
di lorong yang dulu
kusangka jalan terang.

2025

***

Menyapa Diri di Cermin

Aku berdiri di hadapan cermin,
seperti ziarah ke wajah
yang telah lama kutinggalkan
di tengah musim sibuk
dan percakapan yang tak pernah selesai
dengan dunia.

Cermin itu bukan kaca,
melainkan halaman kitab
yang menampung jejak doa
yang tak sempat selesai
kubaca saat demam
memeluk tubuh seperti kekasih yang murka.

Ada kerut
yang tiba-tiba berubah menjadi ayat.
Ada sorot mata
yang menampung ribuan tanya
tentang usia,
tentang luka yang memilih diam
daripada menjelaskan asalnya.

Dan aku berkata pada bayangku:
“Siapakah engkau hari ini,
tawadhu’ di dahi
atau sisa ego yang belum mengering?”

Cermin tak menjawab.
Ia hanya menggigil
seperti langit yang menampung
rahasia tubuh
yang tak sempat selesai
membaca makna “sujud.”

2025

***

Kembali ke Tangga
yang Dulu Tak Dihitung

Tangga ini
dulu kulalui seperti angin lewat di sela doa,
tak kuhitung,
tak kupahami sebagai tanda
bahwa setiap langkah
adalah perjalanan kembali
kepada luka yang menyimpan makna.

Kini,
tangga-tangga itu bicara
dengan detak lutut
dan desir nafas
yang tak sekuat dulu.
Setiap anak tangga
menjadi bait
dari kitab tubuhku sendiri
yang mulai jujur
dalam letih.

Aku menaikinya
dengan zikir di dada,
bukan lagi kecepatan
melainkan kesadaran
bahwa naik adalah kembali,
kepada kesunyian
yang pernah kutertawakan
di usia muda.

Tangga ini
dulu kusangka cuma benda,
ternyata ia adalah ayat,
ia adalah waktu
yang tak pernah lelah
mengulang pesan
agar aku belajar membaca
tanpa tergesa.

2025

***

Penyembuh Tanpa Resep

Ia datang
bukan dari apotek,
bukan dari tangan dokter
atau catatan laboratorium,
tapi dari ruang yang tak bernama
di dalam dada.

Penyembuh itu
kadang berupa senyum
yang retak,
kadang berupa angin
yang membelai luka
tanpa menyentuh.

Ia menyusup
melalui doa yang gagal dilafalkan,
melalui kenangan yang bersujud
di tengah malam
saat semua cahaya
menolak bicara.

Tak ada dosis,
tak ada formula,
hanya getar halus
yang mengerti bahasa sel-sel
lebih dalam
dari ilmu mana pun.

Penyembuh itu
mungkin adalah Tuhan
yang sedang menyamar
menjadi pelukan,
atau menjadi sepi
yang mengantar kita
kembali kepada diri
yang nyaris kita tinggalkan.

2025

***

Aku Belajar dari Kursi Plastik

Kursi plastik ini,
diam di sudut ruang
dengan kesabaran
yang tak pernah dicatat oleh pujangga.

Ia menyangga tubuh-tubuh lelah
tanpa bertanya:
“Siapa namamu?”
atau “Berapa berat hidupmu hari ini?”

Aku belajar darinya
tentang menerima beban
tanpa gumam,
tentang kesetiaan
yang tak pernah menuntut tepuk tangan.

Kaki-kakinya rapuh,
tapi ia tak menyangkal fungsinya.
Ia tahu,
di dunia yang terburu-buru,
keteguhan tak selalu bersuara.

Kursi ini
tidak tahu ilmu filsafat,
tak pernah membaca kitab,
namun ia menyampaikan satu hikmah:
bahwa menjadi tempat istirahat
juga bentuk ibadah
bagi siapa saja yang letih menanggung dunia.

2025

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top