
Supaya lebih utuh seluruh, bacalah terlebih dulu:
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 1)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 2)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 3)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 4)
Ruang Tunggu dan Sajadah Sunyi
Aku duduk
di kursi yang tak pernah belajar
tentang harapan.
Ruang tunggu ini seperti dada perempuan
yang memeluk luka
tanpa pernah bertanya
kenapa ia selalu datang.
Jam dinding berdetak
seperti cinta yang tak selesai ditulis.
Setiap detik
mengiris pelan
apa yang kusembunyikan
di balik jas hujan dan doa-doa.
Aku tak sedang menunggu kabar baik,
aku hanya ingin tahu
kenapa Tuhan menaruh sajadah
di tempat yang penuh bau obat
dan air mata?
Seorang perempuan tua menggenggam tasbih
seperti menggenggam tubuh anaknya
yang tak lagi bisa dipeluk.
Dan aku
membaca matanya
seperti membaca puisi yang
huruf-hurufnya
basah oleh keikhlasan.
Ruang ini tidak sunyi,
ia hanya sedang menulis
sebuah cinta
yang tak perlu diumumkan.
2025
***
Detak Zikir
Aku mendengar detak dalam dadaku
seperti bilangan yang mengulang nama-Mu
mulai dari sunyi yang belum menjadi kata
hingga gema yang menjelma cahaya.
Tak ada yang lebih dekat dari nafas
selain Engkau yang tak teraba
tapi memeluk dalam setiap denyut
kala dunia berguguran satu demi satu.
Aku pernah lupa,
memburu waktu, melupakan Waktu
menyusun dunia di atas pasir
dan hanya badai yang setia mengingatkan.
Tapi Engkau tak pernah pergi
bahkan saat aku menjauh
Engkau tetap berdiri
di balik pintu hatiku yang lama tertutup.
Kini, setiap detak menjadi zikir
setiap detik menjadi tanda
bahwa hidup bukan tentang menumpuk
tapi tentang kembali pulang.
Ya Rabb,
biarkan detak ini abadi
selama masih ada cinta
yang menyebut nama-Mu dalam diam.
2025
***
Iqra di dalam Darah
Aku membaca diriku
seperti membaca kota tua
yang dibakar waktu:
tulang adalah aksara,
urat-uratku baris-baris takdir
yang belum diberi judul.
Setiap aliran darah
menjadi puisi yang ditulis
tanpa pena,
oleh tangan yang entah
ada di langit
atau tersembunyi dalam
bayang tubuhku sendiri.
Aku bukan nabi,
tapi tubuhku gemetar
setiap mendengar kata iqra’
dari detak jantung
yang ragu
menjadi iman
atau hanya gema trauma.
Tuhan,
jika Engkau tak lagi menulis
di langit
tulislah di dalam diriku:
tubuh rasa patah
tapi tak menyerah,
tulang-tulang terasa retak
tapi masih mengeja-Mu
dengan bunyi paling lirih
yang bisa didengar malam.
2025
***
Mushaf di dalam Dada
Aku membuka dadaku
seperti membuka lembaran langit
yang hening,
bukan tinta
yang kutemukan,
melainkan debu waktu
dan desir kenangan
yang menuliskan doa-doa
dengan bahasa tak dikenal.
Tiada suara
kecuali gema luka
yang menjelma huruf
di lorong sunyi pembuluh darahku.
Setiap denyut
adalah huruf yang lupa dirinya huruf,
tapi terus menyebut-Nya
dalam bahasa yang belum sempat
diciptakan.
Aku berjalan
di dalam tubuhku sendiri
seperti menapaki lorong
masjid tanpa mimbar:
tangga-tangga cahaya
membawaku pada dinding-dinding
yang tak dibangun dengan batu,
melainkan rahasia
dan kesabaran.
Dan Tuhan,
bukan berada di atas langit
atau di dalam buku yang tebal,
tapi dalam celah
antara dua helaan nafas,
yang kusebut:
mushaf
tanpa huruf.
2025
***
Menyulam Harap di Ujung Infus
Tubuhku
adalah musim yang tertinggal di ranjang sepi.
Langit di balik kulit
menggantungkan jarum yang perlahan
meneteskan waktu.
Infus itu,
bukan hanya cairan,
tapi huruf-huruf harap
yang menyusup ke dalam aliran darah
seperti puisi
yang tak selesai ditulis malaikat.
Aku mendengar doa
dari suara yang tak punya mulut,
barangkali dari sel-sel
yang telah belajar pasrah
tanpa menyerah.
Malam seperti kelambu
yang dijahit ulang oleh sabar.
Tiap tetes
menjadi zikir tak bernama
yang tak perlu suara.
Dan di ujung infus itu,
aku menyulam harap
dengan benang-benang gaib
yang tak pernah putus,
meski hidup tak selalu kuat
untuk berdiri
tanpa guncang.
2025
***
Abdul Wachid B.S. penyair yang lahir 7 Oktober 1966 di Lamongan Jawa Timur. Ia mendapatkan penghargaan tertinggi Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) pada 7 Oktober 2021 untuk buku esainya, Sastra Pencerahan (Penerbit Basabasi, 2020). Selain sastrawan, ia menjadi Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.




