Mozaik Pekanan: Ziarah Batin

Menjelang lebaran 1447 H atau 2026 M, situs bilfest.id terus berupaya menayangkan tulisan dari para kontributor/penulis tanpa jeda. Kami siapkan sebaik-baiknya untuk menemani para pembaca dari jarak jauh.

Oleh karena itulah, tulisan yang akhirnya tayang dari tanggal 16-20 Maret 2026 adalah tulisan mereka yang mengiringi vibes akhir bulan Ramadan dan menyambut lebaran. Menjelang akhir Ramadan, umat Islam mulai menggali kembali hakikat mereka beribadah setelah menjalankan syariat.

Tentang Jawa dan Puasa

Kita awali dari Zaki Murtadho yang menuliskan tentang titik temu ajaran Jawa dan syariat puasa agama Islam. Zaki mengajak pembaca untuk ke belakang cukup jauh tentang laku orang Jawa dalam menjalani kehidupan. Di mana laku tersebut jika dilihat dari syariat puasa agama Islam, orang Jawa sudah memiliki teknologinya. Hal ini menjadi sebuah pertanyaan sebenarnya, apakah mudahnya Islam masuk ke Nusantara, karena sudah memiliki kemiripan dalam beberapa laku spiritualnya. Salah satunya adalah puasa.

Dengan studi literatur yang kuat, Zaki menyajikan tulisannya. Sehingga para pembaca bisa perlahan menemukan pemaknaan bahwa ajaran agama dalam hal ini puasa, bukanlah sebuah ritus formalitas. Melainkan sebuah kebutuhan badan, ruhaniah atau batiniah. Kesemua bagian dari tubuh manusia, menjalani tanpa terkecuali. Sehingga menjadi manusia yang paripurna.

Ramadan dan Sebuah Kontradiksi

Tidak hanya Nofendy Ardyanto, sebagian besar masyarakat tentu merasakan sebuah kontradiksi pada pertengahan bulan Ramadan tahun ini. Seperti kutipan awal dalam tulisannya:

“Bulan Ramadan katanya melatih menahan diri,
tapi kenapa justru sering dipenuhi berita orang kehilangan kendali?”

Kita dikejutkan dengan peristiwa yang dialami oleh Adrie Yunus pada pertengahan Ramadan ini. Sebuah kontradiksi yang ditangkap oleh penulis adalah bagaimana mungkin kesucian bulan Ramadan dilukai oleh pihak yang seharusnya melindungi.

Dalam peristiwa penyiraman air keras ke Adrie Yunus, ia dilukai secara fisik, masyarakat dilukai secara batinnya dan bangsa ini dilukai secara masa depannya, oleh pihak yang seharusnya melindungi. Dan sebagai manusia, seharusnya saling melindungi.

Tentang Identitas

Secara hakikat, manusia itu sama. Namun dalam perkembangannya ada sekat-sekat yang akhir diciptakan, hingga akhirnya ada hierarki. Kim Al Ghazali melihat hal itu. Kemudian ia mengajak pembaca untuk menelusuri sebuah herarki dalam kehidupan dalam lingkup sapaan.

Kim Al Ghazali menuliskan cara pandangannya terhadap sesama. Pergeseran dari “Bung” ke “Bapak” menunjukkan adanya jarak sosial dan hierarki yang mengaburkan nilai egaliter. Ini adalah refleksi tentang bagaimana ego dan struktur sosial seringkali menjauhkan kita dari ketulusan menyapa manusia sebagai manusia.

Ia mengajak untuk menjaga perpecahan sejak dalam sapaan antar manusia. Supaya tidak ada jarak sosial tanpa kehilangan identitas sebagai bagian dari sebuah praktik budaya.

Ajaran Islam yang Universal

Islam adalah agama yang menembus batas wilayah dan melintasi era sampai akhir zaman. Ketika Gilang Inggit Maulana menuliskan tentang pertanyaanya tentang Islam yang ada di Jepang, menjadi hal yang menarik.

Ketika ajaran Islam masuk ke Jepang dan kemudian berkembang, kita jadi teringat keberhasilan masuknya Islam di Jawa. Baik Jawa maupun Jepang, mereka sudah memiliki ajaran laku hidup sebelum datangnya Islam.

Seperti dalam tulisannya, bahwa “. . . ketertiban, kedisiplinan, kesopanan, sampai pada kedamaian” adalah nilai-nilai Islam yang sudah menjadi laku hidup masyarakat Jepang. Bisa kita tarik sebuah pemahaman bahwa nilai kebaikan dalam kehidupan tidak hanya milik Islam secara eksklusif. Kita patut tidak setuju dengan klaim superioritas moral hanya milik umat Islam. Malahan bisa jadi sebuah paradoks, ada umat Islam yang malah melakukan tindakan amoral. Islam hanya sebagai label bukan laku hidup.

Lebaran dan Titik Balik

Sebagai muara atau titik balik. Kenangan tentang Lebaran di masa pandemi pada tahun 2019 dan 2020, mengajarkan kita semua bahwa puncak dari segala ziarah adalah rasa syukur dalam kesederhanaan. Bahwa esensi hari kemenangan bukan pada keramaian, keriuhan, pencapaian duniawi dan baju baru. Melainkan pada hubungan batin yang tulus, kepada pencipta dan sesama. Bahkan saat raga tak bisa saling bersapa.

Ziarah Batin yang kami maksud adalah sebuah perjalanan melampaui cangkang menuju isi. Melalui lima perspektif yang berbeda, mulai dari gugatan atas syariat puasa, potret paradoks kesucian Ramadan yang dilukai, politik sapaan yang menciptakan jarak sosial, hingga pencarian nilai universal dalam Islam di semua tempat dan refleksi atas ingatan kita tentang lebaran saat pandemi.

Dalam Mozaik Pekanan ini, kami mengajak pembaca untuk sejenak jeda. Mari kita renungkan: seperti apa identitas dan ritual yang kita jalani, apakah sudah menuju untuk menyentuh kedalaman batin dan kemanusiaan?

Selamat berziarah ke dalam batin diri.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top