
Bulan Ramadan katanya melatih menahan diri,
tapi kenapa justru sering dipenuhi berita orang kehilangan kendali?
Bulan Ramadan tahun ini, 1447 Hijriah, sudah mulai berkemas pergi. Akan tetapi, slogan yang terus diucapkan di awal Ramadan masih terus menempel. Sebuah kalimat pengharum sekaligus pengingat yang seperti iklan layanan masyarakat ini diputar setiap tahun: puasa adalah latihan menahan diri.
Kalimat yang terdengar itu begitu indah, seperti tiupan dari surga. Seakan bulan Ramadan ini sebagai titik balik manusia dan simbol penyucian diri. Sehingga tidak heran jika kalimat itu dijadikan caption Instagram lengkap dengan foto masjid, emoji bulan sabit, serta ketupat yang bergelantungan.
Tapi kalau kita sedikit menurunkan volume ceramah dan sedikit menaikkan volume berita, ada satu hal yang agak mengganggu pikiran.
Kenapa setiap Ramadan datang, berita kriminal justru tetap ramai?
Ini merupakan kontradiksi atau hanya sebuah rutinitas semata? Yang ada atau tidaknya bulan suci ini, kejahatan tetaplah ada.
Pertanyaan itu terus timbul. Apalagi ketika saya pulang setelah beberapa bulan merantau.
Sebagai anak rantau, tentu libur Ramadan adalah hal yang dinanti. Delapan hari sebelum lebaran, saya memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah yang jarak tempuhnya 5 jam dari kota Jogja itu, saya diceritai beberapa kejadian yang menarik sekaligus membuat napas ditahan dan dihela beberapa saat.
Menurut penuturan Ibu, setidaknya ada dua kejadian pencurian dan satu perselingkuhan selama bulan Ramadan. Saat itu juga, saya berpikir, ternyata berita-berita di media sosial itu saya rasakan sebagai seorang tetangga pelaku atau korban, bukan lagi sebagai sesama manusia.
Apalagi jika kita membuka portal berita nasional selama Ramadan ini. Hampir setiap hari selalu ada kabar tentang pencurian motor, perampokan rumah, tawuran yang berujung kematian, kasus pembunuhan yang awalnya hanya dipicu persoalan kecil, korupsi kepala daerah, dan terakhir sampai tulisan ini dimuat adalah penyiraman air keras kepada Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus.
Di masjid-masjid, grup WhatsApp keluarga, dan masyarakat sering mengeluarkan imbauan khusus menjelang Ramadan dan Lebaran karena angka kriminalitas tertentu cenderung meningkat.
Ini tentu terasa ironis.
Di saat orang-orang sedang berusaha menjadi lebih sabar, pengasih, dan dermawan—selalu ada sebagian manusia yang justru terlihat seperti kehilangan rem.
Lalu pertanyaannya muncul adalah, kenapa bisa begitu?
Ramadan Datang Bersama Tekanan Ekonomi
Kita sering membicarakan Ramadan sebagai bulan spiritual. Tapi jarang membicarakannya sebagai bulan ekonomi.
Perputaran uang di bulan ini meningkat. Tunjangan Hari Raya tiba dan hanya bertahan beberapa saat di rekening—berujung ke toko baju, restoran mahal, atau toko sandal. Semua untuk konsumsi yang pada akhirnya adalah orang-orang yang punya modal semakin bertambah omzetnya.
Begitupun ketika kita bicara soal harga bahan pokok yang ikut naik. Kebutuhan rumah tangga bertambah. Pengeluaran harian juga tidak mau kalah, menu makan pada hari biasa yang awalnya sederhana, pada saat berbuka bisa berubah menjadi pesta kecil setiap sore.
Bagi keluarga yang ekonominya cukup stabil, ini mungkin hanya dianggap sebagai rutinitas tahunan yang sedikit lebih mahal.
Tapi bagi orang yang hidup dengan penghasilan pas-pasan, Ramadan bisa terasa seperti bulan ketika dompet ikut berpuasa lebih berat daripada perut.
Tidak semua orang mampu menghadapi tekanan ekonomi dengan cara yang sehat. Sebagian orang mungkin mencari pekerjaan tambahan. Sebagian lagi berhemat lebih ketat.
Tapi ada juga yang meskipun jumlahnya tidak banyak, memilih jalan pintas.
Tentu saja, ini bukan pembenaran. Tapi tekanan ekonomi memang sering menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang mengambil keputusan yang salah.
Keumumam masyarakat yang harus membeli baju baru, makan enak, mudik, dan yang lainnya inilah kemudian membuat tekanan ekonomi meningkat.
Puasa Ternyata Tidak Mengubah Semua Orang
Ada satu asumsi yang sering kita pegang: kalau seseorang berpuasa, maka otomatis ia akan menjadi lebih baik.
Sayangnya, kenyataan tidak selalu bekerja seperti itu.
Memang ada hadits tentang setan dibelenggu di bulan Ramadhan adalah shahih, yang diriwayatkan oleh Bukhari (No. 1899) dan Muslim (No. 1079) dari Abu Hurairah. Bunyinya: “Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.
Memang setan dibelenggu, akan tetapi kebiasaan kita yang sudah berpuluh tahun menyatu menjadi tindakan akan sulit dihentikan.
Puasa memang bisa menjadi latihan spiritual yang luar biasa. Tapi ia tidak otomatis mengubah karakter seseorang dalam waktu tiga puluh hari.
Kalau seseorang sepanjang tahun terbiasa hidup dengan cara yang tidak jujur, Ramadan tidak serta-merta membuatnya berubah total, karena menahan lapar ternyata jauh lebih mudah daripada menahan kebiasaan.
Banyak orang berhasil menahan diri dari makan dan minum selama lebih dari dua belas jam. Tapi menahan ego, keserakahan, atau kemarahan ternyata membutuhkan latihan yang jauh lebih panjang dari sekadar satu bulan.
Ketika Lapar Bertemu Emosi
Ada juga faktor yang lebih sederhana dan sangat manusiawi, sebuah faktor yang berkaitan dengan hati, yaitu orang yang lapar cenderung lebih mudah tersinggung.
Selama Ramadan, pola hidup banyak berubah. Orang tidur lebih sedikit karena harus bangun sahur. Aktivitas tetap berjalan seperti biasa. Tubuh harus beradaptasi dengan rasa lapar dan haus sepanjang hari.
Permasalahannya ialah tidak semua orang mampu mengelola perubahan ini dengan baik. Banyak juga yang akhirnya memilih untuk tidak melakukan hal yang produktif atau biasa disebut tidur, tidur, tidur.
Kadang kita sendiri merasakannya. Antrean panjang menjelang berbuka saja bisa membuat orang yang biasanya sabar tiba-tiba menjadi sedikit lebih sensitif. Anak kecil yang juga sulit dikendalikan dengan petasan dan perang sarungnya—membuat orang dewasa atau tua marah, bahkan sampai ada yang membunuhnya.
Sekarang bayangkan jika konflik yang muncul bukan sekadar antrean gorengan, tapi persoalan yang lebih besar—utang, perselisihan keluarga, atau masalah pribadi yang sudah lama dipendam, tentu akan semakin sensitif dan mudah meledak.
Dua Wajah Ramadan
Itulah sebabnya bulan Ramadan selalu memiliki dua wajah.
Di satu sisi, orang-orang berusaha menjadi lebih baik. Masjid penuh walaupun semakin hari juga semakin maju shaf yang terisi. Sedekah tentu meningkat. Bulan di mana kita sering melihat orang-orang berlomba melakukan kebaikan.
Di sisi lain, selalu ada sebagian kecil manusia yang justru memperlihatkan sisi sebaliknya. Baik dalam ruang yang sunyi ataupun ramai, ketika emosi atau kesempatan terbuka, di situlah nafsu menuntun badan untuk bergerak melukai—mengambil yang bukan hak kita.
Ironis memang.
Bulan yang seharusnya menjadi latihan menahan diri justru kadang memperlihatkan betapa sulitnya manusia benar-benar menahan diri.
Ramadan memang datang setiap tahun.
Tapi kemampuan manusia untuk mengendalikan dirinya dan akhirnya tidak mengikuti tren atau kewajaran masyarakat ternyata tidak otomatis ikut datang bersamanya.
Dan mungkin di situlah pelajaran yang sebenarnya: bahwa menjadi manusia yang tidak ngumumi dan menahan dari segala godaan adalah hal yang sulit, jauh lebih sulit daripada sekadar menahan lapar sampai waktu berbuka.
Nofendy Ardyanto berasal dari Purwojati, Banyumas. Bisa di sapa melalui Instagram @nofendyar.





Pingback: Ketika Ramadan Pamit - Temenan BIL Fest