Ekokritik dan Kearifan Lokal Banyumas dalam Sajak “Di Antara Rerumputan” Karya Wanto Tirta

Karya sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sering berfungsi sebagai catatan yang menyuarakan kehidupan masyarakatnya. Pada ruang inilah sajak “Di Antara Rerumputan” karya Wanto Tirta hadir bukan sebagai rangkaian kata puitis semata, melainkan suara yang berbicara tentang alam, kebudayaan, dan literasi sebagai fondasi peradaban. Melalui metafora yang kuat dan gambaran yang konkret, sajak ini menawarkan sebuah narasi tentang kehidupan di Banyumas yang mulai tergerus zaman.

Sajak ini merekam pengalaman ekologis Banyumas, menegaskan warisan budaya yang terus diwariskan, sekaligus mengkritik perubahan sosial akibat modernitas. Sebagai karya sastra lokal, ia tidak hanya memotret realitas, tetapi juga mengajarkan cara membaca dunia melalui kearifan hidup sederhana. Di tengah meluruhnya tradisi oleh arus zaman, sajak ini menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga ekologis dan melestarikan budaya melalui karya sastra.

Ekologi sebagai Ruang Ingatan dan Identitas

“risalah cinta mengalir hulu ke hilir
bagai sungai serayu
menyemangati lembah dan ngarai Banyumas
bagi tetumbuhan sawah dan ladang
laga petani menikmati senyum perjuangan”

Sajak dibuka dengan gambaran alam yang melekat pada Banyumas: Sungai Serayu, lembah, ngarai, sawah, dan ladang. Sungai Serayu, yang menjadi urat nadi kehidupan Banyumas, tidak hadir sebagai latar geografis semata, tetapi sebagai metafora hidup. Ia adalah “risalah cinta” yang “mengalir hulu ke hilir,” sebuah kekuatan yang memberi semangat dan kehidupan bagi “lembah dan ngarai,” juga “sawah dan ladang.” Ekologi di sini adalah sumber kehidupan yang aktif, bukan sekadar pemandangan pasif. Relasi ekologis ini juga hadir dalam simbol petani yang “menikmati senyum perjuangan”. Alam bagi mereka adalah tempat berjuang sekaligus ruang syukur; sawah bukan sekadar kerja agraris, tetapi ritual kedekatan manusia dengan bumi.

“lantas kau berkisah tentang orang-orang nrima dari dukuh yang tidak tercatat di peta
mereka bukan kalah
karena dihatinya selalu menyala matahari
tak kenal menyerah meski hidup dalam alam kering kerontang”

Ketika penyair menggambarkan “alam kering kerontang”, ia bukan sekadar menghadirkan kondisi fisik, tetapi menyiratkan perubahan ekologi yang memengaruhi struktur sosial. Gambaran itu memberi ruang bagi kesadaran lingkungan bahwa hidup tidak selalu harmonis dan subur. Selain mengangkat alam, sajak ini kuat menampilkan identitas budaya Banyumas. Nilai-nilai masyarakat Banyumas dikenal egaliter, lugas, dan bersahaja. Hal ini tercermin dalam gambaran tentang masyarakat dukuh yang “nrima”, namun tetap berdaya dan tidak menyerah. Mentalitas “nrima” (menerima) yang disinggung dalam sajak bukanlah bentuk kepasrahan fatalis, tetapi bentuk ketahanan menghadapi cobaan. “mereka bukan kalah, karena dihatinya selalu menyala matahari.” Matahari di dalam hati ini adalah gambaran energi spiritual yaitu keteguhan batin yang mampu mengatasi tantangan ekologis yang paling keras sekalipun.

Budaya Banyumas: Harmoni yang Meriah dan Tata Krama yang Tergerus

“bila kau datang kemari
kluban krema
sambel tlenjeng dan mendhoan menjemputmu di gerbang Dukuh
yang berhias janur kuning dan gawaran
dengan senyum pagar ayu penari ronggeng diiring tetabuhan calung”

Sajak juga menampilkan unsur budaya material dan performatif. Penyambutan tamu digambarkan melalui simbol-simbol kuliner yang khas: “kluban krema, sambel tlenjeng dan mendhoan.” Makanan bukan sekadar santapan, melainkan penanda identitas dan keramahan. Begitu pula dengan “janur kuning dan gawaran” yang menghiasi gerbang dukuh, serta kehadiran “penari ronggeng diiring tetabuhan calung.” Adegan ini melukiskan sebuah tradisi dan budaya yang masih dijaga. Namun, di balik kemeriahan itu, terselip sebuah ratapan yang dalam.

“maaf, jangan kau tanya di mana anak-anak yang bermain gangsing, kiklok atau kitiran
mereka larut dalam putaran jaman yang sadar atau tidak
telah menggerus tata krama”

Penyair dengan getir menyatakan, “maaf, jangan kau tanya di mana anak-anak yang bermain gangsing, kiklok atau kitiran.” Permainan tradisional itu telah “larut dalam putaran jaman,” dan proses pelarutan ini, “sadar atau tidak, telah menggerus tata krama.” Di sinilah kritik sosial sajak ini paling tajam. Penyair dengan jelas memetakan konflik antara tradisi dan modernitas atau transformasi sosial akibat teknologi dan gaya hidup modern yang menggerus ruang sosial anak serta menghilangkan pengalaman komunal masa kecil. Kemajuan zaman, yang sering dirayakan, dalam perspektif sang penyair justru membawa dampak pengikisan terhadap nilai-nilai sosial dan moral “tata krama” yang menjadi fondasi masyarakat.

Literasi: Membaca Alam, Membaca Zaman

“dari setiap tetes nira kau ajarkan tentang membaca
katamu, bacalah
ayo bacalah dengan seksama
maka lahirlah jutaan kata dan kalimat yang menulis dunia”

Dalam konteks ini, konsep literasi yang ditawarkan sajak ini menjadi sangat bermakna. Literasi di sini bukanlah sekadar kemampuan baca-tulis mekanis, melainkan bersumber dari pengalaman lokal. Ia adalah sebuah etos, sebuah cara memandang dunia. Penyair menemukan filsafatnya dari “setiap tetes nira.” Nira, cairan dari pohon kelapa yang diolah menjadi gula, adalah metafora yang sempurna untuk proses literasi: dari yang mentah menjadi bermakna, dari yang sederhana menjadi mengandung kekayaan. Seruannya, “bacalah dengan seksama,” adalah seruan untuk membaca kehidupan itu sendiri—membaca alam, membaca perjuangan, membaca tradisi, dan membaca zaman. Literasi, dalam perspektif lokal Banyumas, tumbuh dari pengalaman tubuh, kerja, dan alam, bukan sekadar produk institusi formal.

Penyair juga merendahkan diri:

“aku bukan kyai apalagi nabi…
aku rerumputan yang tumbuh di ladang Paruk
yang ingin setia menjaga adat dan tradisi

dengan umur mulai berkurang
percayalah aku tetap setia tandakan tembang eling-eling

kerisik damen mengusik
waktu pun tak tinggal diam
bergerak menyisir usia
sampai pada hitungan tujuh puluh dua

biarkan hari menyudahi sendiri
pada sore mewarna indah”

“Rerumputan” adalah simbol kerendahan dan akar tradisi, namun sekaligus menjadi penjaga nilai dan memori budaya. Ini menunjukkan bahwa literasi tradisi tidak membutuhkan legitimasi formal; ia tumbuh dari kerendahan, ketekunan, dan kebijaksanaan lokal.

Komitmen pada literasi dalam arti luas ini jugalah yang menjadi benteng terakhir sang penyair. Di tengah berkurangnya umur dan gempuran zaman yang menggerus, ia berikrar untuk “tetap setia tandakan tembang eling-eling.” Tembang eling-eling adalah nyanyian pengingat tentang moral, syukur, dan kesadaran hidup. Komitmen ini menjadi bentuk upaya untuk terus mengingat, merenung, dan melestarikan nilai-nilai yang hampir punah ketika dunia begitu cepat berubah. Penutup sajak yang menghubungkan akhir hari dengan panggilan adzan, “bersiap diri penuhi panggilan adzan,” memberikan dimensi spiritual yang final. Seluruh proses “membaca” dan “mengingat” pada akhirnya bermuara pada kesadaran transendental, sebuah persiapan untuk kembali kepada Sang Pencipta.

Sajak “Di Antara Rerumputan” memperlihatkan bahwa sastra mampu menyatukan tiga dimensi penting kehidupan Banyumas: ekologis, budaya, dan literasi. Ia mengajarkan bahwa ekologi membentuk mentalitas dan budaya, budaya dirayakan dan sekaligus diratapi kehancurannya, sementara literasi menjadi senjata dan kompas untuk merawat keduanya.

Dalam pusaran globalisasi yang kerap menghomogenkan segala sesuatu, sajak ini mengingatkan kita bahwa menjaga akar bukan berarti menolak perubahan — tetapi memastikan perubahan tidak memutuskan kita dari tanah tempat kita tumbuh. Literasi bukan hanya soal angka dan huruf, tetapi juga tentang kemampuan memahami kehidupan lewat pengalaman. Banyumas dalam sajak ini bukan sekadar tempat, melainkan rumah identitas dan ruang perjuangan — tempat manusia belajar bersyukur, bertahan, dan mengingat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top