
Seperti seorang bayi yang baru lahir, setiap tulisan yang tayang di bilfest.id akan kami rayakan. Meskipun dengan perayaan kecil-kecilan, dalam sebuah rubrik Mozaik (Pekanan dan Kanon). Perayaan dalam Mozaik Pekanan ini, tim redaksi mengucapkan terima kasih kepada pembaca bilfest.id. Ucapan terima kasih juga kepada para penulis yang tayang sejak hari Senin sampai Jum’at, tanggal 6-10 April 2026. Melalui rubrik Mozaik Pekanan inilah, tulisan-tulisan yang tayang itu akan kita rayakan bersama.
Kadang kala, secara bergantian kita melabeli orang lain dengan setelah melakukan pengamatan. Begitupun sebaliknya, kita mendapatkan label. Kini label itu juga tidak hanya disematkan pada manusia. Tapi juga produk-produk yang ia hasilkan. Labeling itu kadangkala malah menjadi dinding penghalang esensial atau makna yang lebih luas. Label memang menjadi penanda. Akan menjadi problematik jika labeling malah membatasinya. Karena labeling yang tidak adil, malah cenderung mereduksi makna. Labeling yang reduktif harus kita hindari, karena kadangkala “kacamata” kita sudah sesak olah prasangka-prasangka.
Penulis Eksklusif versus Kedalaman Sebuah Makna
Tulisan Setyo W. Nugroho yang berjudul “Seputar LWAPS” bukanlah tulisan yang berdiri sendiri. Ia lahir dari rangkaian tulisannya yang tayang di bilfest.id sebelumnya. Sejak cerpen “Lung Wening Asmaraningrat Pangruwating Sunya” tayang lalu diulas oleh tim redaksi dalam “Mozaik Kanon: Usaha Dikenang, Mengenang, dan Segelas Kenangan.” Barulah “Seputar LWAPS” lahir. Kurang lebih seperti itu kronologinya.
Dalam “Seputar LWAPS, Setyo mungkin merasa berhadapan dengan label yang disematkan oleh tim redaksi dan pembaca tentang karyanya yang “sulit dipahami”. Ada ketegangan antara label eksklusif -konteksnya adalah penulis yang asyik dengan dunianya sendiri- dengan realitas eksplorasi bahasa oleh seorang penulis. Setyo menyadari bahwa label dari pembaca bisa menjadi cermin untuk evaluasi dalam hal kekaryaan. Namun sebagai penulis ia memilih untuk membebaskan pembaca memberi label makna apa pun atas karyanya, atau istilah yang pernah kita dengar the death of the author.
Bossy versus Berwibawa
Tim redaksi mengucapkan selamat datang kepada Ummul Paidah di bilfest.id. Tulisannya tayang pada Selasa, 7 April 2026 dengan judul; Paradoks Ketegasan: Mengapa Pemimpin Perempuan yang Tegas Justru Dilabeli “Bossy”?. Ummul Paidah menjadi salah satu deretan perempuan yang menulis di bilfest.id
Tulisannya lugas dan gamblang tentang ketidakadilan label oleh publik. Ia memandang bahwa publik memberikan label “bossy” kepada seorang perempuan untuk sebuah perilaku yang sama jika dilakukan oleh laki-laki. Sementara label bagi laki-laki adalah “tegas” atau “berwibawa”. Ia mengkritik bahwa label di sini bekerja sebagai alat kontrol sosial untuk menjaga supaya perempuan tetap dalam kotak “normatif” yang lembut dan penurut. Kemudian menghukum mereka yang mencoba masuk ke ranah “agenik” atau lebih dominan atau berusaha memimpin. Ruang di situs bilfest.id semoga bisa menjadi kanal untuk menyuarakan terhadap ketidakadilan label tersebut.
Instan versus Substansial
Selamat datang juga untuk Muhammad Arfan Ahwadzy. Seorang santri yang menulis di bilfest.id. Menurut tim redaksi, ia cukup berani melakukan kritik terhadap lingkungan sosial yang ia menjadi bagian di dalamnya.
Dalam tulisannya yang tayang hari Rabu, 8 April 2026 dengan judul; Membungkam Imajinasi Sosial “Jadi Gus”, ia menyoroti tentang masyarakat yang begitu mudahnya untuk menyematkan panggilan “Gus”, padahal berdasarkan relasi pernikahan. Labeling dari masyarakat ini menciptakan imajinasi komunal adanya “tangga sosial” instan. Masalahnya, label ini sering kali diterima tanpa melihat kapasitas keilmuan, sehingga terjadi kerancuan antara label “Gus” sebagaimana ia akan dipanggil sehari-hari, dengan substansi yang sesungguhnya, yaitu kualitas diri. Masyarakat cenderung memuja labelnya ke-Gus-an yang ia dapatkan setelah menikahi putri kyai, bukan keilmuannya.
Berani juga Gus Arfan ini. “Putri kyai mana yang menolak mu, king?”
Sifat Lemah atau Manusiawi?
Alvidin termasuk mahasiswa yang rajin menuangkan kegelisahannya melalui tulisan. Sudah beberapa karyanya termuat di bilfest.id. Ada beberapa tulisan di bilfest.id yang berangkat dari mendengarkan lagu dan menghayati liriknya. Menjadi sebuah muhasabah melodi, hingga akhirnya tulisannya sampai ke pembaca.
Alvidin dalam tulisannya kali ini berangkat dari sebuah lagu karya Raim Laode, yang berjudul “Bersenja Gurau”. Ia mengulas bagaimana perilaku mengeluh sering kali mendapat label negatif dari sekitar, sebagai tanda ketidakberdayaan atau kurang bersyukur. Padahal, melalui lagu ini, ia berargumen bahwa “keluh” dan “lelah” adalah label yang sangat manusiawi dan bahkan bisa menjadi titik balik spiritual. Alvidin mencoba meruntuhkan stigma publik terhadap emosi-emosi yang dianggap negatif.
Masyarakat Malas atau Korban Ketidakadilan Akses
Ulasan terakhir ini berasal dari Aprilia Ani Fatimah. Puisinya pernah tayang juga di bilfest.id dengan judul “Gadai Suara dan Puisi Lainnya.”
Seperti puisinya, esainya yang tayang hari Jum’at 9 April 2026 sangat kritikal terhadap label “Minat Baca Rendah” yang dilekatkan pada masyarakat Indonesia. Aprilia Ani Fatimah membongkar bahwa label tersebut hanyalah “kambing hitam“. Kita sibuk melabeli orang lain malas tanpa menyadari bahwa label itu menutup mata kita dari masalah yang lebih besar: harga buku yang mahal dan akses perpustakaan yang buruk. Label di sini berfungsi sebagai pengalih tanggung jawab.
Tim Redaksi menyetujui akan hal itu. Jangan jadikan masyarakat sebagai kambing hitam terhadap rendahnya angka-angka indeks minat baca. Apakah perlu adanya revisi UU perbukuan yang memperluas cakupan subsidi buku? Perlu.
Catatan Editorial
Kelima tulisan yang tayang di bilfest.id merupakan auto kritik terhadap cara kita memandang sesama. Sebagai media, penulis dan pembaca tugas kita adalah mendekonstruksi label-label tersebut. Kami berharap pembaca bilfest.id tidak hanya berhenti pada apa yang tampak di permukaan atau label. Namun berani menggali realitas yang sering kali jauh lebih kompleks di bawahnya. Meskipun itu lebih lama, lebih sulit dan kadang akan membuat terasing.

dari Banyumas menyapa Indonesia




