Min Ba’dhi Kompatriotnya Syekh Abdul Qodir Jailani

Sebagai makhluk sosial, manusia sudah barang tentu melakukan interaksi sosial dalam sendi-sendi kehidupannya. Mulai dari bersilaturahmi, tolong-menolong, transaksi jual-beli, bahkan hingga adegan se-menegangkan nagih utang sekalipun. Loh ngga menegangkan gimana? Orang yang ditagih justru lebih agresif dan counter attack-nya melebihi serangan balik Manchester United era bulan-bulan ini.

Dalam berinteraksi sosial, manusia sangat dilihat dari sisi cara merespon dan bersikap atas sebuah kejadian. Kedewasaan manusia dapat dilihat dari caranya dalam menampilkan reaksi atas sebuah aksi. Seseorang sangatlah mungkin untuk menampilkan reaksi apa yang diinginkan. Reaksi adalah sebuah pilihan. Mau menanggapi dengan marah, sedih, susah, senang, dan bras bres bras bres dll, itu semua pilihan. Adapun tidak memilih untuk menanggapi, juga sebongkah pilihan.

Bersosial dan bermasyarakat sekalipun, kita pastinya berjumpa dengan orang yang lebih tua dari kita, lebih muda dari kita, dan yang sepadan dengan kita. Sebagai manusia, seyogyanya kita bisa membaur dengan mereka, kepada yang tua, yang muda, dan yang sebrayan. Tak hanya dalam segi umur, pun dalam segi keterampilan atau keahlian. Untuk itu kita perlu menyiapkan amunisi berupa pengetahuan untuk bagaimana bersikap kepada yang tua, muda, dan seprantaran.

Ditampilkan dalam Kitab Nasoih al-‘Ibad, Syekh Abdul Qodir Jailani pernah memberikan amunisi bersosial. Dia menyebutkan (yang kurang lebih terjemahan bebasnya demikian), “Ketika kamu bertemu dengan seseorang maka lihatlah sisi positifnya seraya berucap: ‘Barangkali di sisi Allah dia lebih baik daripada diriku dan lebih mulia derajatnya’. Apabila dia anak kecil (lebih muda), maka berucaplah: ‘Ini orang belum banyak bermaksiat kepada Allah, sedang saya sudah banyak bermaksiat kepada-Nya. Maka tak ada keraguan sama sekali kalau dia lebih baik daripada aku’.” 

Di atas baru saja disampaikan tentang cara bersosial terhadap orang yang lebih muda dari kita bahkan anak kecil sekalipun. Umur kita yang lebih banyak dari orang yang lebih muda dari kita sudah barang tentu potensi maksiatnya lebih besar daripada orang yang lebih muda dari kita. Dari sini kita dipandu untuk menghargai orang yang lebih muda sekalipun itu anak kecil. Alih-alih berujar, “heleh cah wingi sore” atau “elu masih bau kencur” dan kalimat-kalimat lain yang sejenisnya.

Selanjutnya, Syekh Abdul Qodir Jailani menyebutkan, “Apabila dia lebih tua, maka berucaplah: ‘Ini orang sudah lebih dahulu beribadah kepada Allah sebelum diriku.’ Apabila dia orang yang pintar, maka berucaplah: ‘Ini orang diberi sesuatu yang aku tak punyai dan mengetahui apa yang aku tak ketahui serta beramal dengan ilmunya.’ Apabila dia orang yang bodoh atau kurang tahu, maka berucaplah: ‘Ini orang bermaksiat kepada Allah karena ketidaktahuannya, sedang aku sudah tahu tapi masih saja maksiat kepada-Nya. Aku pun tidak tahu, seperti apa ending cerita hidupku dan hidupnya’.”

Srawung dengan orang yang lebih tua dari kita, tentu akan lebih mudah untuk menghargai dan meghormatinya. Idealnya seperti itu. Namun realitanya bisa tak demikian. Kita masih saja sungkan dan enggan untuk ngajeni sing luwih tuo dikarenakan sikapnya atau tutur katanya yang bagaikan gigitan nyamuk: nyelekit. Oleh karenanya, saat kita melihat yang lebih tua – supaya kita lebih menghormati – maka anggaplah orang yang lebih tua itu adalah orang yang lebih banyak ibadahnya. Dia lebih dahulu beribadahnya, daripada kita. Terlepas dari kelakuannya yang seumpama kucing lanang dan wadon yang kikuk-kikuk di tengah jalan.

Dengan kita bisa perlahan berbenah diri, memperbaiki sikap kita terhadap orang lain, dengan sendirinya cara bersosial kita lebih baik dari hari ke hari. Amunisi yang telah kita miliki ini, tinggal kita ejawantahkan sebagaimana mestinya, sewaktu-waktu bertemu dengan yang tua, muda, maupun sesama. Hal ini agar kita sejalan dan seirama dengan ajaran dari Syekh Abdul Qodir Jailani.

Bukan sebuah kesalahan kan, ketika kita ikut menjadi kompatriotnya Syekh Abdul Qodir Jailani? Memanglah benar, kata “kompatriot” dalam KBBI berarti “teman setanah air.” Namun dalam hal ini bukan lantas teman setanah airnya Syekh Abdul Qodir Jailani, melainkan sejalan dan seirama ajarannya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top