
Bagi seorang ayah, orang yang boleh lebih baik darinya hanyalah anaknya. Setidaknya saya berbicara tentang sebagian besar ayah-ayah yang saya temui. Ego ayah begitu besar, sehingga untuk mengalahkannya butuh sosok yang benar-benar ia cintai dengan setulus hati. Itu sebabnya, seringkali ayah punya ambisi yang diturunkan kepada anak-anaknya.
Sayangnya, tidak semua ayah memahami bahwa hal itu tidak sepenuhnya baik. Niat baiknya diselimuti oleh inner child yang memunculkan obsesi. Dari harapan dan ambisi agar anaknya bisa hidup lebih baik menjadi obsesi menjadikan anaknya sebagai pelampiasan hasrat inner childnya yang tak pernah ia capai.
Beberapa tahun belakangan, konten dan buku tentang parenting juga ramai diperbincangkan. Tentu ini kabar baik bagi anak-anak agar lebih banyak merasakan peran orang tua dalam mendidiknya di rumah. Di lain hal, ini juga bisa digunakan sebagai “senjata” oleh orang tua yang obsesif ingin membentuk anaknya sesuai keinginan mereka.
Kita tidak pernah tahu apakah metode parenting ala Denmark, Finlandia, Belanda dan lain sebagainya itu cocok untuk setiap anak. Kita harusnya berpikir; kenapa orang Finlandia memilih cara ini? Kepada siapa metode ini ditujukan? Oleh siapa seharusnya metode ini diterapkan? Maka akan sangat baik jika penerapannya melalui observasi terlebih dahulu serta penyesuaian antara anak dan orang tua.
Kisah yang agaknya menggambarkan obsesi orang tua terhadap anaknya dikarang oleh A.A. Navis melalui tokoh Ompi dan Indra Budiman dalam cerpen “Anak Kebanggaan.” Indra Budiman sejak kecil memikul beban harapan yang tinggi dari ayahnya, Ompi. Nama Indra saja, ia dapatkan setelah berkali-kali Ompi mengubah namanya. Sejak Indra kecil, Ompi dengan mudah mengubah namanya. Hanya dengan kenduri, nama dan harapanpun turut berubah.
Belum lagi tambahan nama di muka yang tidak bisa Indra capai hanya dengan kenduri, tapi usaha dan waktu yang bisa menentukan. Ompi sangat mengharapkan Indra menjadi dokter. Obsesi ini bahkan ia ceritakan pada para tetangganya. Hingga apa yang tak diharapkan Ompi pun terjadi, surat yang dikirimkan pada Indra selama masa perantauannya tak pernah Indra balas.
Kisah ini berakhir getir sekaligus menyindir. Indra meninggal di perantauan tanpa pernah benar-benar mengikuti harapan ayahnya. Ompi pun merasakan apa yang tak pernah terbayangkan dalam benaknya, anak kecil yang dulu begitu hangat dalam pelukannya bisa sangat dingin saat dewasa.
Kahlil Gibran, penyair diaspora Lebanon-Amerika ini menggambarkan dengan piawai bagaimana seharusnya relasi antara orang tua dan anak. Dalam maha karyanya “The Prophet”, ia mengatakan Kau adalah busur yang meluncurkan anak-anakmu sebagai panah hidup. Sebuah ungkapan yang mengajarkan kesediaan orang tua untuk berkorban tanpa harapan.
Anak panah yang melesat paling cepat selalu berasal dari lengkungan busur yang ditarik paling jauh. Lengkungan busur adalah cinta orang tua yang ia tunjukkan dengan pengorbanan. Baru-baru ini manga “One Piece” yang bisa kita sebut sebagai epos modern juga menggambarkan kisah heroik seorang ayah dengan tokoh Kuma dan anaknya Bonney.
Bonney yang menderita penyakit langka; tubuhnya tak bisa terkena sinar matahari memiliki cita-cita mengelilingi dunia. Kuma, ayahnya rela meninggalkan privilege sebagai komandan pasukan revolusioner untuk fokus mencari obat. Ia bahkan “menjual” dirinya sebagai budak ke pemerintahan dunia demi mendapatkan obat untuk putrinya. Pengorbanan ini yang membuat Bonney sembuh dan menjadi semakin kuat.
Berbeda dengan Kuma, Monkey D. Dragon ayah dari Luffy justru memilih untuk tidak selalu hadir dalam perkembangan Luffy. Ia hanya memastikan Luffy tumbuh di lingkungan yang bebas. Sebagai pimpinan pasukan revolusioner pun ia tidak pernah menarik Luffy ke dalam perjuangannya. Cinta yang ia berikan untuk Luffy tidak melalui kehadiran, melainkan keputusan untuk tidak menguasai masa depan anak.
Relasi Dragon dan Luffy ini juga sesuai dengan perkataan Kahlil Gibran; Kau boleh memberi mereka cintamu, tetapi bukan pikiranmu. Sebab, mereka memiliki pikiran sendiri. Seberapa keras orang tua menjadikan anak sepertinya, ia tak akan pernah mendapatkan hasil yang baik. Sebab, kata Kahlil Gibran; kehidupan tak bergerak mundur dan tidak tinggal bersama hari kemarin.

Gilang Inggit Maulana. Ia seorang pendidik yang menyukai sastra, seni dan bola. Dapat disapa melalui Instagram miliknya glnginggit_ atau di X @glnginggit__




