Benarkah Ada Islam di Jepang?

Beberapa saat lalu bahkan sampai sekarang, saya masih sering mendengar kabar dari kawan saya yang mengatakan dirinya menemukan Islam di Jepang. Kabar ini tentu dilatar belakangi oleh pemahamannya atas nilai-nilai Islam yang ditemukan di Jepang; seperti ketertiban, kedisiplinan, kesopanan, sampai pada kedamaian. Pemahaman tersebut juga muncul karena ia menemukannya di negara yang mayoritasnya beragama non-muslim.

Saya teringat perkataan Abduh, seorang pemikir Islam modern asal Mesir. Ia  mengatakan hal yang sama saat dirinya tinggal di Prancis. Kata Abduh “Aku pergi ke negara Barat, aku melihat Islam namun tidak melihat orang muslim. Dan aku pergi ke negara Arab, aku melihat orang muslim namun tidak melihat İslam’. Ia menemukan paradoksal saat membandingkan Prancis dengan negara kelahirannya Mesir.

Dilihat dari kacamata yang sempit, sepintas pemahaman tersebut sepenuhnya benar. Lalu, kalau kita (dibaca; muslim) mau sedikit membuang ego, pemahaman tersebut mengandung semacam  klaim superioritas moral yang tidak tepat. Jika orang Jepang bersih, rapi dan sopan, ia sedang menanamkan nilai keislaman. Saya rasa pengatribusian moral baik kepada nilai Islam adalah false attribution. Nilai moral tertentu tidak otomatis “milik eksklusif Islam”.

Klaim seperti di atas, oleh Amartya Sen peraih penghargaan nobel, dalam analisa sosialnya disebut mengalami dua reduksionisme identitas. Pertama yaitu pengabaian identitas, banyak orang di dunia ini bisa menjaga kebersihan tanpa pernah mengenal ajaran Islam. Hal ini juga yang terjadi di Jepang, lingkungan bersih di Jepang berasal dari kombinasi yang kuat antara budaya, pendidikan dan tanggung jawab kolektif.

Reduksionisme yang kedua yaitu afiliasi tunggal. Kita seringkali melihat perilaku seseorang berdasarkan identitas tunggalnya. Jika seorang muslim dapat menjaga kebersihan dengan baik, itu tidak semata karena ia muslim yang baik. Bisa jadi ia sedari kecil diajarkan oleh orang tuanya untuk disiplin dalam kebersihan. Seseorang sangat mungkin dalam satu keadaan memiliki identitas yang banyak dan memilih satu identitas tergantung konteks sosialnya.

Sebaliknya, pemahaman identitas yang keliru juga bisa membuat kita tidak terima. Seperti peristiwa terorisme penyerangan menara WTC pada 11 September 2001, menjadi sebab Islam (timur) dipandang sebagai agama yang intoleran. Sedangkan Kristen (barat) dipandang sebagai agama yang toleran. Agama tidak bisa dijadikan identitas mutlak yang melingkupi keseluruhan identitas orang.

Solusi yang bisa diambil agar tidak terjebak pada ilusi identitas adalah prioritaskan nalar sebelum mengambil keputusan. Skeptis menjadi penting saat kita berhadapan dengan hal-hal yang belum kita pahami. Hal ini dicontohkan oleh para Nabi, jika Nabi hanya taklid buta, tentu mereka hanya akan mengikuti leluhurnya. Nabi datang dengan sikap skeptis terhadap lingkungannya kemudian membawa pesan-pesan baru dari kenabiannya.

Contoh pergolakan identitas dan penggunaan nalar yang baik datang dari tokoh fiktif dalam epos “Mahabharata” yaitu Karna. Ia sejatinya adalah kakak tertua pandawa yang lahir dari Dewi kunti sebagai putra sulungnya. Berbeda dengan saudaranya, ia mengalami nasib yang buruk. Sejak kecil, ia dibuang ke sungai dan hidup tidak sebagai putra raja, melainkan besar bersama seorang kusir kereta dari kasta sudra.

Darah tidak bisa berbohong, Karna diberi anugerah kemampuan olah senjata yang setara dengan Arjuna. Untuk membuktikan siapa yang paling mahir menggunakan panah, Karna selalu ingin menantang Arjuna dalam duel bersenjata. Singkat cerita, Karna sangat disukai oleh Duryudana, ia mendapat kemuliaan yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya. Bahkan, Duryudana sampai mengangkatnya menjadi Raja Angga.Perang Baratayudha pun tak terelakan, pihak Kurawa dipimpin oleh Duryudana, sedangkan Pandawa dipimpin oleh Yudistira. Pada perang ini, Karna telah mengetahui bahwa dirinya adalah saudara kandung para Pandawa serta tahu akan kebenaran perang. Ia yang punya hutang budi dengan Duryudana pun mengalami gejolak batin tentang identitas dan kepentingannya.

Di sinilah kehebatan Karna muncul saat menggunakan nalar dalam memilih identitasnya. Ia berdiri dengan gagah, berani dan setia di belakang panji Kurawa karena kemuliaan yang pernah ia dapatkan dari Duryudana. Namun, ia memilih dan ditakdirkan untuk tidak membunuh satupun Pandawa, bahkan ia gugur dalam peperangan Baratayudha oleh Arjuna adiknya.

Kisah ini menggambarkan kebebasan Karna dalam memilih identitas. Dalam satu keadaan, bahkan genting, yakni perang, seseorang masih bisa menggunakan nalarnya untuk menentukan keberpihakannya. Pada akhirnya, kita harus memastikan bahwa benak kita tidak terkurung oleh cakrawala pandang kita sendiri.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top