Tempo Hari dan Puisi Lainnya

Malam Meregang

Malam meregang di kuburan paradoks
Kain mayit menjerit dari tanah beling
Nisan-nisan setengah lebur tanpa darah
Ketika tulang-belulang ingatan bersaksi

Kau telah kumakamkan di kepala
Hari-hari berlalu seperti eksekusi senyap
Lalu esok suara lain bercerita
Tapi dengan tusukan yang menawan

Ingatan meminum kopi bersama kematian air mata
Segala kemungkinan gagal paham
Dari pernyataan-pernyataan paling menohok
Menjadi cerita penutup yang ironis

Jika kehidupan pragmatis bersifat patologis
Memvonis semua polemik tanpa jawaban
Memutar pisau vonis di dada orang lain
Ketika keadaan pandai mendongengkan damai

Kota Cendana, 02 Mei 2026

***

Antara Idealita dan Realita

Hari ini idealis
Besok bisa pragmatis
Catatan kritis di tubuh kejadian
Dari balik fakta mati suri

Aroma intimidasi yang kental
Puisi adalah kuburan paradoks
Menyusun ulang kronologi
Ketika opini diromantisasi

Sebab kebenaran terlalu kritis
Monolog patah kepala
Saat ironi berkelakar
Logika begitu sporadic

Netral muram tak bernyawa
Keheningan pun sibuk berpikir
Seolah debat anti kritik
Argumentasi terlalu kompleks

Ambisi kehilangan adab
Keyakinan dikebiri ego
Kenyataan mode apatis
Dari kebisingan yang mengaku ilah

Kota Cendana, 02 Mei 2026

***

aku dan tuhan-tuhan kecil

mengail bulan menanak matahari
kuil-kuil hiruk pikuk sembahyang
patung dan dupa membagi sesaji
surat upaya merayu pipi arca

tak ada nyala damar
mengkaji ritual hidup di luar pandir
langit-langit melonyos dalam jongos
malam menghulus kelam

sembilu merekat kesumat
udara bertuba dari sengit para sungai lara
reinkarnasi rasa dan sabda-sabda romantis
saling bertikai dalam persemayaman terakhir

memori memakan isi kepala merobek ingin
sementara kenyataan setengah mati
kerangka hitam takdir di nisan tubuh
setelah prosesi menguliti keramat

Kota Cendana, 02 Mei 2026

***

Tempo Hari

Aku rendam di kopi dengan rasa pahit
Kepada secarik rindu dari judul ringkasan
Rahasia dalam aula sejarah buram
Malam masih begitu tulusnya

Sekelumit pertanyaan masih tumbuh subur di kepala
Kata begitu samar ketika damar gelisah berhenti menyala
Setelah diam tertunduk patuh menerjemahkan pulang
Raga lapuk segala pilu datang merampok

Hening menjalar mengisahkan isak
Meninggalkan akar setiap kejadian
Entah siapa yang menuntut tiba kemarau kemarin
Pada patah-patah paling memar

Setiap mungkin akan menjadi kabul
Dari kabar lalang sekering siang
Pada titik yang bahkan nyaris
Kau masih saja mengulang semoga

Kota Cendana, 02 Mei 2026

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top