Saat Dadaku Belajar Bernyanyi dan Puisi Lainnya

Aku Masih di sini

Aku masih di sini
merawat kasih yang nyaris lebur
menitipkan harap jumpa pada langit termangu,
menanti dikau menangkap hadirku

Aku masih di sini
biar hanyut terbawa asa
tak apa dikau sebut aku gila
memeluk rindu pun dikau tak sekuat saya

Aku masih di sini
dengan segala rayuan Tuhan terima
lama-lama menuntut mesra
namun sayang, dikau enggan membuka mata

***

Ketika Debu Menyapa

Bayangan lama terpatri di sudut kamar
terlantar menua ditimbun debu
dalam sarang rayap yang sekadar menyimak
menanti waktu merobek tiap jejaknya

Hatiku ringkih mengangan-angan
jikalau ini benar sirna
sewaktu-waktu tinggallah aku, berteman sepi
tiada lagi menuntut abadi

Sunyi, tak ada satupun bersuara
angin sekadar melintas tak menggubris
batu membisu di atas tanah
dan api padam,
senyap tanda usai

Bukankah masih banyak halaman kosong?
apa kau rela debu menjarahnya?
kembalilah, singgah sejenak
biarkan aku menikmati senyum itu lebih lama

***

Saat Dadaku Belajar Bernyanyi

Raib sudah panggung usang itu
halus samar kauatur tempo rindu
menjelma maestro,
mengayun baris-baris nada
bak lahir orkestra kecil dalam dada

Sesekali aku tersandung,
lidahku terpeleset kata
namun tak henti pula dadaku bergumam
mengalunkan bahasa hati yang kian tak beraturan
iramanya hadirkan sebaris nama dalam bisik not-not rahasia

Porak-poranda akalku menyelam
dalam sorotmu sejenak terhanyut,
buta akan langit-langit kelabu
tanpa sadar kau buatku menyulam baris suara
tak ada celah, biarlah angin menyuratkannya

Aku bisu, perihal dirimu seakan racun
dadaku tersendat, menarikmu lewat suara
gema hatiku pecah dalam keterbatasan bait laguku
tiap bisikmu menyalakan bara,
dan aku terbakar tanpa ampun

***

Ke Mana Angin Membawaku

Biarlah angin mencuat masuk
menyapu lembut butiran debu
meraba sudut-sudut kamar
membisikan tanya pada kekosongan

Biarlah angin merangkak bebas
membelai ranting-ranting rapuh
yang saban hari kehilangan daya
menahan dedaunan yang putus asa

Biarlah angin menjelma aku
memburu aman di penjuru kepala
bak gemuruh berteriak menanya
“ke mana angin membawaku?”

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top