
Luka Sejarah yang Tak Pernah Sembuh
– Untuk para Jugun Ianfu
*
namaku
tak pernah singgah di buku sejarah,
tapi air mataku adalah tinta merah
yang menulis dari masa lalu
hingga hari ini.
tubuhku adalah medan perang—
bukan karena aku mengokang senjata,
tapi karena aku tak punya pilihan
selain diam saat dirampas.
**
di tahun 1942.
langit Nusantara menghitam,
bukan oleh malam,
melainkan bayang-bayang Jepang
yang menghantui Asia Pasifik
hingga ujung-ujung kampung,
gadis-gadis dipetik.
ada yang baru mencicipi bangku sekolah,
ada yang masih bermain dengan ibunya.
kami dijanjikan pekerjaan—
sebagai perawat, juru masak, tenaga bantu.
dengan brosur manis dan senyum berseragam,
digiring seperti rusa ke perangkap.
bahkan kami tak sempat mencium tangan ibu.
namun yang menanti
bukan ruang kerja,
melainkan ruang-ruang sunyi
bernama rumah istirahat militer,
di mana mimpi dipatahkan
dan dunia mengirim kegelapan.
setiap hari,
pintu terbuka oleh tangan lelaki berseragam.
bukan untuk bertanya kabar,
tapi
demi menjarah tubuh—
tanpa izin, tanpa suara.
kami diperlakukan seperti ladang
yang terus dituai,
tanpa pernah diberi waktu
untuk tumbuh kembali.
tangis kami mendatangkan tamparan.
rintih kami dianggap pemberontakan.
jika kami lemah, mereka melecutkan api neraka.
jika sakit, kami tetap harus tersenyum pahit.
jika rahim kami berbunga,
janinnya dicabut paksa—
bayi tanpa nama,
yang tumbuh hanya menjadi noda di mata dunia.
lebih dari 40 rumah hiburan
berdiri kokoh dari Sumatera hingga Sulawesi.
tapi yang bergema bukan tawa,
melainkan isak tertahan
dari balik dinding pengap dan waktu yang membatu.
setiap bulan kami diperiksa—
bukan karena iba,
tapi karena takut kami berpenyakit.
kami
bukan lagi manusia,
melainkan alat
yang tak boleh rusak.
***
tahun 1945.
meriam berhenti berbunyi.
bendera perang diturunkan.
tapi kami tetap ditinggalkan—
seperti debu di jalanan asing,
tak dibawa pulang,
apalagi diberi pelukan.
kami berjalan kaki menuju rumah
yang terasa lebih jauh dari matahari.
menahan luka yang tak kunjung pulih.
sesampai di halaman rumah
yang kami dapati justru pintu tertutup.
ibu tak lagi memeluk.
ayah menunduk.
sedang lidah tetangga menancapkan pisau:
“perempuan kotor”,
“tidak suci”,
“perempuan jalang bekas Jepang.”
kami ini korban—
dijajah tubuhnya, dihancurkan martabatnya,
dihukum dunia yang hanya tahu menyalahkan.
banyak dari kami memilih diam.
menua dalam sepi,
meninggal dalam bisu.
rahasia kami terkubur bersama nisan
tanpa sempat dimaafkan.
kami adalah perempuan
yang dirampas segalanya,
dikoyak batinnya
dijajah tubuhnya
diruntuhkan hidupnya
hingga hari ini,
luka itu terus membara di tubuh
di batin, di bawah abu sejarah.
Kebumen, Juni 2025.
***
Fientje De Feniks
sebab keindahan
bukan berumah pada batang tubuh.
yang tergeletak tak lagi indah
memar di lehernya adalah keberanian
kini ia mengembara
menjelajahi waktu
keluar masuk mulut dan telinga
ia lintas zaman
tak pulang kepada rumah
jejak kakinya adalah keabadian
dalam sejarah
mengembarai ingatan
mengetuk-ketuk lantai peradaban
bersuara sepanjang berita
gaungkan amarah
membawa bercak darah sejarah
ia adalah aroma zaman
bunga liar dari Batavia
mengakar dalam dua dunia
di tahun 1893: sejak itu ia sudah mati
tanpa pernah hidup sebagai manusia
dan sisanya adalah sejarah
dalam kata
selamat jalan, selamat tinggal
ialah awal sekaligus akhir perjalanan keindahan
sebab ia bukan berumah pada batang tubuh
ia adalah suara perlawanan pada hidup,
pada penguasa
pada warna kulit.
Kebumen, Oktober 2025.
***
Senja di Dada Jakarta
senja di dadamu
semburat luka sosial
atas pilihan
memilih gerimis di deras
tatapanmu
sederas pecahan
tawa dari banyak luka
atas kejumudan
dalam gumpal di pekat
pelukanmu
lalu teriakan klakson berulang
pecah di jalan-jalan
bersuara tangis
dari retak peluk
yang kering
dalam lenganmu
antara pulang
dan mati di tempat
antara berani
merangkaki malam
atau kembali
menyusun remah mimpi
dalam dadamu
dada yang lahirkan senja di kota ini:
senja penuh luka di jurang sosialmu
Kebumen, September (Hitam) 2025.
***
Di atas Pusara Sejarah
:Ode untuk Jenderal Hoegeng Imam Santoso
I
di pusara Giri Tama Tajur Halang
dingin senyum melawat kota hujan
membeku jemariku di atas sebuah nisan
di sana
kembang kukuh tak henti tumbuh
dari atas pusara seorang jenderal
merebak tegas PDL-nya di atas kejujuran
dari kampung utara tanah Jawa
di pusara Giri Tama Tajur Halang
tanyaku berdesakan penuhi kerongkongan
II
jenderal apakah kau akan menitis
pada pundak-pundak cokelat tua
pada betis perkasa para tamtama
pada garang PDL baru mereka
akankah pusakamu terwariskan padanya
kami tahu jenderal kau bukan Naruto:
sang pemilik Kage Bunshin no Jutsu
namun juga bukan Sambo yang kami mau
bukan jenderal … bukan Sambo jenderal
jenderal adakah engkau tenang di sana
adakah engkau mengelus dada melihat
jalanan kotaku kini bising tiap malam
balap liar, runcing sajam beradu peran
sementara generasimu tak kunjung meredam
jenderal adakah engkau tahu mengenai
laporan di Palopo yang mereka abaikan
hingga setahun kemudian kerangka wanita
mendidihkan mata sebuah keluarga
pecahkan doa-doa juga tangis putus asa
adakah engkau tahu …
tentang kawanan awan pekat tua di Kanjuruhan
maut menghujan dari gemulung gas air mata
mendentam badai merah di ribuan pasang mata
meretas ratusan nyawa manusia dari cintanya
adakah engkau tahu jenderal!
III
jenderal kami merindukanmu, kembalilah
lahir dari rahim langit, agar kau ada kawan
sebab di bumi hanya tinggal marka kejut
dan patung yang terus diam
agar kau tak sendirian dan kami
dalam ketenangan
Kebumen, Februari 2025.
***
Idez Adhie Aksarra, lahir di Kebumen, 24 Februari. Aktif di Perpustakaan Jalanan Kebumen dan menulis dengan semangat “Mengakar merindanglah”. Karyanya antara lain Keffiyeh Menjala Air Mata, Di Bawah Selimut Demokrasi (Elorazine, 2024), serta Pulang ke Jampang Kulon, Bandung Sore Hari (Apajake Media, 2024).




