
Janji Sang Bayang
Aku datang,
bukan untuk menakutimu.
Aku manis,
meski wajahku nampak kelabu.
Aku cantik,
percayalah, pesonaku sungguh ayu.
Aku menuntun matamu
pada kebenaran yang tak pernah kausangkakan,
membisikkan tawa
yang tak pernah benar-benar kaudengarkan,
menunjukkan tempat
yang bahkan tak pernah engkau bayangkan.
“Maaf”—
satu kata sakral yang kuselipkan
dalam surat yang aku kirimkan.
Untuk ayahmu, untuk ibumu,
aku titipkan ukiran janji
bahwa aku akan pergi,
tanpa jejak untuk kembali.
Terima kasih, katamu.
Namun siapa yang sesungguhnya berterima kasih?
Aku—karena kau sempat mendengarkan.
Aku—karena kau sempat percaya.
Masih ada yang mengganjal,
aku tahu.
Tapi biarlah,
sebab rahasia tak pernah mati,
hanya berdiam di dalam hati
sampai kausiap menghadapinya lagi.
Dari aku, untuk kamu
Gadisku
Purwokerto, 3 September 2005
***
Tahta Tertinggi
“Aku percaya kamu,”
katamu,
setahun lalu
sebelum aku duduk di kursi bekasmu.
Katamu lagi—
“mudah kok,
jika aku bisa, mengapa kamu tidak?”
Merdu, kau berucap janji:
“aku di sini,
tak akan meninggalkanmu sendiri.”
Namun sang masa bicara lain:
satu bulan—demam merenggutku,
lima bulan—air mata jadi hantu,
tujuh bulan—penyesalan mengetuk pintu.
Kak,
seru mereka memanggil namaku.
Tapi bisakah aku menjawab tanpa ragu?
Aku masih egois,
masih tak ingin ruangku terkikis.
Tapi tangan ini harus merangkul, mulut ini harus menuntun.
Karna inilah tahta tertinggi,
Bagai bayangan ilahi,
sementara aku menyebut diriku sendiri,
— pecundang tak tahu diri.
Lalu singgasana itu berbisik:
pengecut,
pulanglah jika kaugentar,
duduklah bila kau benar-benar sadar,
bahwa tahta ini hanya milik yang berani gemetar.
Purwokerto, 8 September 2025
***
Ingin Sempurna
Ingin menjadi sempurna —
seperti pagi yang tak pernah lupa menyalakan cahaya,
seperti laut yang selalu tampak tenang,
meski nyatanya riuh akan gelombang.
Ingin menjadi sempurna —
yang tak pernah goyah menghadapi dunia,
yang tersenyum di hadapan luka,
dan menutup tangis dengan kata-kata bahagia.
Namun Tuhan,
Engkau menciptakanku dalam lemah,
dari debu yang mudah lelah,
dari napas yang terengah-engah.
Maka izinkan aku hari ini —
menjadi tidak sempurna.
Izinkan aku hari ini —
diam, rebah, dan lelah.
Izinkan aku hari ini —
pulang ke pangkuan ayah.
Karena ternyata,
menangis pun adalah pelampiasan,
rehat pun adalah penyembuhan.
Purwokerto, 31 Oktober 2025
***
Mata Sang Penakut
Membuka mata—
seolah menatap jurang tanpa tepi.
Menutup mata—
lebih mengerikan dari kegelapan itu sendiri.
melihat bayangan
yang tak seharusnya menembus retina,
mendengar bisik
yang tak pantas terdengar di telinga.
Takut,
cemas,
seperti angin yang menahan daun jatuh.
Semakin aku menutup mata,
semakin terang lorong yang tak kulalui.
Semakin kubebaskan genggaman,
semakin ia meremas erat tak mau pergi—
seperti rahasia yang menolak lepas, mengurung bagai jeruji.
Siapakah yang menatapku dari balik tirai?
Apa yang ingin ia pamerkan,
apa yang ingin ia bisikkan?
Katakanlah perlahan,
karena aku—
tak cukup berani untuk mendengarkan.
Purwokerto, 2 September 2025
Heni Trisnawati akrab disapa Isa, adalah mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia di Universitas Jenderal Soedirman. Memiliki kegemaran menulis puisi dan cerpen sebagai ruang untuk menyalurkan keresahan dan refleksi tentang kehidupan. Saat ini Isa berdomisili di Purwokerto. Ia dapat dihubungi di Instagram: @its.isanahceah.




