
Saya mungkin sedikit memahami, bagaimana Ahmad Junaidi, Ph.D. (@junaydfloyd) atau yang karib kami panggil Om Junet, memiliki komitmen sedemikian besar dan tulus pada dunia pendidikan. Sekian kali saya berbincang dengannya, selama itu pula saya selalu terkesima dengan pandangan-pandangan dan rancangannya untuk mendukung tumbuh kembang dan minat anak-anak pada pendidikan—spesifiknya belajar bahasa Inggris.
Suara teriakan kegirangan anak-anak mengikuti metode belajarnya, pada Sabtu sore di halaman Madrasah Ibtidaiyah Al-Ma’arif Miftahul Qulub Desa Ungga—sekolah yang dipimpin Bapak saya—menandai berlangsungnya salah satu aktivitas rutinan Jage Kestare Foundation (JKF). Lembaga itu adalah dirian Om Junet, dan saya tak begitu memahami telah berapa tahun usianya. Yang pasti saya mengerti, lembaga itu telah melahirkan “bibit-bibit” unggul, anak-anak yang memiliki kreativitas dan kemudian terbang melampaui teritorial selingkar desa kecil kami: untuk berkuliah, mendapatkan beasiswa, bekerja, meskipun dengan banyak keterbatasan materi yang dimiliki. Junet dan para sukarelawan yang ia jaring, baik lokal maupun mancanegara, memacu tidak sedikit denyut mimpi dan harapan anak-anak di Ungga. Saya juga tahu, selaras pernyataannya dalam cuitan yang beberapa hari lalu mendapatkan respons pro dan kontra: ia juga tak jarang dan tak neko-neko mengisi kegiatan yang tak berbayar. Tentangnya, secara metaforis Bapak saya bilang, “Ia telah melalui dan lebur jadi asam-garam itu sendiri.” Ia memiliki kesungguhan.
Selintas cerita itu, saya posisikan sebagai fragmen kecil dan asumsi pribadi tentang mengapa Junet begitu tegas pada persoalan penghargaan + penghormatan terhadap akademisi, apalagi akademisi yang cum praktisi. Untuk sampai pada titik pencapaian gelar dan kepakaran, tak dimungkiri teramat panjang dan berliku prosesnya, bagi mereka yang bersungguh-sungguh lebih-lebih. Hanya saja, memang, untuk mencapai titik ideal bahwa masyarakat harus melek penghargaan dan penghormatan itu, amatlah berliku pula untuk situasi kita. Episteme yang kita hadapi adalah episteme masyarakat pascamodern dengan kapitalisme lanjut atau kapitalisme akhir (late capitalism) sebagai corak dominannya.
***
Bagi saya, fenomena minimnya apresiasi material terhadap akademisi dibandingkan influencer merupakan manifestasi sempurna dari logika budaya late capitalism yang dipetakan oleh Frederic Jameson.[1] Masyarakat konsumeris yang dominan saat ini, telah bergeser dari model kedalaman (depth) menuju permukaan (surface).[2] Kepakaran akademik, yang diraih melalui “jalan berliku, jalan berdarah-darah” dan membutuhkan proses sejarah panjang serta penimbunan substansi, melambangkan model kedalaman yang tak mudah dikomodifikasi. Sebaliknya, sosok influencer menawarkan produk yang segera dapat dikonsumsi—citra yang menarik, pendapat yang ringan, dan estetika yang viral. Dalam masyarakat yang mendewakan spektakel dan kecepatan pertukaran tanda (signifier), nilai material dialokasikan pada apa yang paling instan dan spektakuler. Pengetahuan yang lambat, berbobot, dan sarat referensi (akademik) dianggap tidak lagi seksi dan kalah bersaing dengan konten influencer yang seketika dapat diserap dan didistribusikan. Ini adalah erosi otoritas substansi di hadapan otoritas brand dan persona yang terestetisasi.
Kita juga mesti menyadari, kesenjangan apresiasi itu juga berkaitan erat dengan konsep “pastiche” dan runtuhnya koneksi historis dalam pascamodernisme. Opini influencer yang berangkat dari asumsi pribadi, yang tak jarang penuh kerancuan, serta tanpa fondasi pemikiran yang kokoh, dapat dipandang sebagai pastiche—sejenis parodi kosong atau tiruan gaya tanpa substansi mendalam. Pastiche menjadi berhasil karena ia menawarkan kepuasan kognitif yang instan dan tak menuntut upaya serius dari publik konsumeris.[3] Parahnya, itu diperburuk oleh schizophrenia (dalam konteks Jameson, fragmentasi temporal): masyarakat konsumeris hidup dalam kehadiran murni (pure presence), yakni momen viral saat ini.[4] Proses “berliku dan berdarah-darah” yang dilalui akademisi, adalah sejarah dan kedalaman temporal yang telah terputus dari kesadaran publik. Akibatnya, yang dihargai bukan lagi ikhtiar (struggle) dan otoritas yang telah teruji secara historis (akademisi), melainkan efek viral dan komodifikasi instan yang ditawarkan oleh influencer. Hal itu menandakan bahwa dalam kapitalisme akhir, nilai jual suatu pandangan terletak pada kemudahan konsumsinya, bukan pada kebenarannya.
Kepungan Kapitalisme + Era VUCA
Lebih jauh, saya juga melihat bahwa kasus apresiasi materi yang timpang antara akademisi dan influencer semakin diperburuk oleh dua kondisi lingkungan kontemporer: 1) kepungan kapitalisme yang semakin meluas; dan 2) sifat lingkungan Era Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity (VUCA). Pertama, dalam konteks kapitalisme akhir, yang diungkapkan oleh Jameson sendiri, seluruh ranah kehidupan, termasuk pengetahuan dan otoritas, telah mengalami komodifikasi total. Nilai sebuah entitas tidak lagi diukur berdasarkan kegunaan, kebenaran, atau kedalaman historisnya (nilai guna), melainkan semata-mata berdasarkan potensi jualnya di pasar (nilai tukar). Institusi pendidikan dan kepakaran akademis, yang secara historis berfungsi untuk memproduksi kebenaran dan pengetahuan substantif, kini dipaksa beroperasi di bawah logika pasar: mereka harus dapat “menjajakan” dirinya. Sementara itu, influencer sendiri unggul dalam permainan ini karena mereka adalah komoditas yang built-in dengan mesin promosi semacam Instagram dan algoritma atensi. Mereka secara inheren lebih mudah dikonversi menjadi nilai tukar (endorsement, iklan, biaya berbicara tinggi, dan lain-lain) karena menawarkan akses langsung kepada audiens tertarget dan visibilitas instan.[5] Sebaliknya, akademisi dengan kepakaran mendalam yang tidak terbiasa atau tidak mau (memilih) mengkomodifikasi pengetahuannya menjadi soundbite yang viral, dianggap “bernilai tukar rendah” oleh pasar. Hal ini menciptakan ilusi bahwa yang terlihat berharga (influencer) adalah yang paling berharga (layak dibayar mahal)—sebuah distorsi nilai yang esensial dalam masyarakat konsumeris.
Kedua, kasus yang tengah kita bicarakan juga hampir sepenuhnya merupakan cerminan dari Era VUCA yang dicirikan oleh volatilitas (volatility) dan ketidakpastian (uncertainty) yang tinggi.[6] Dalam kondisi dunia yang terus berubah, masyarakat, terutama generasi baru, mencari jawaban cepat dan panduan yang mudah dicerna untuk menghadapi kompleksitas. Di sinilah influencer menemukan peran terbaiknya: mereka menawarkan “solusi instan”—sekalipun dangkal dan sarat kerancuan—mengalahkan akademisi yang justru menawarkan konteks mendalam dan nuansa kritis.[7] Ilmu pengetahuan sejati bersifat kompleks dan sering kali tidak menawarkan jawaban tunggal (ambiguity), yang bertentangan dengan kebutuhan psikologis masyarakat akan kepastian segera di Era VUCA. Influencer memanfaatkan volatilitas atensi dengan menyediakan konten yang mudah dicerna dan meyakinkan secara emosional, sementara akademisi yang menuntut effort kognitif, kalah dalam perang atensi. Tragisnya, di tengah ketidakpastian itu, masyarakat justru memilih simplifikasi menyesatkan yang cepat saji, dan bersedia membayar mahal untuk ilusi kepastian tersebut, sementara panduan substantif dari pakar dianggap tidak lagi relevan atau terlalu lambat untuk diterapkan. Lumayan menyedihkan, bukan?
Akademisi sebagai Cost Center, Kewirausahaan sebagai Kanker
Dua kondisi yang mendegradasi apresiasi atas akademisi itu, jika kita sadari, sejatinya bersumber pula musababnya dari dalam tubuh lembaga pendidikan kita yang agak “sakit”. Bukankah kapitalisasi pendidikan di Indonesia, telah mendorong institusi akademik untuk mengadopsi logika pasar dan korporasi, mengubah fokus dari pembentukan pengetahuan murni (nilai guna) menjadi lulusan yang siap kerja (nilai tukar)?
Dalam lingkungan semacam itu, kepakaran akademisi yang bersifat abstrak dan mendalam—yang oleh Jameson disebut sebagai kedalaman—kerap dianggap sebagai biaya (cost center) yang tidak menghasilkan revenue secara langsung, kecuali jika berhasil dikemas menjadi layanan konsultasi berbayar atau semacam Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang menguntungkan. Sebaliknya, figur influencer atau bahkan dosen yang berhasil membangun personal branding yang kuat dan mudah dikomodifikasi—misalnya, menjadi keynote speaker dengan tarif tinggi—dianggap sebagai pusat laba (profit center). Minimnya apresiasi material terhadap akademisi adalah konsekuensi dari sistem yang gagal menghargai proses akademik yang berdarah-darah, dan hanya menilai luaran (output) yang dapat dijual cepat. Hal ini, dapat kita pahami, telah menciptakan tekanan struktural bagi akademisi untuk meniru model influencer demi relevansi dan kesejahteraan, meskipun mengorbankan independensi dan kedalaman keilmuan mereka.[8]
Ada pula faktor masuknya kewirausahaan secara masif dan tidak terkontrol—yang perlahan menjadi “kanker ganas”—ke dalam kurikulum pendidikan tinggi, meskipun bertujuan positif untuk mempersiapkan lulusan. Ya, saya merasa, meskipun mungkin tak sepenuhnya benar, rasukan kewirausahaan yang masif dalam logika pendidikan tinggi kita, telah secara tak sengaja memperparah masalah ini. Perspektif kewirausahaan mengajarkan mahasiswa untuk fokus pada kemampuan yang dapat diuangkan (marketable skills), serta menciptakan nilai jual yang instan. Ini adalah manifestasi kebijakan yang secara terang-terangan menerapkan logika late capitalism ke dalam jantung pendidikan.
Dalam konteks ini, pengetahuan murni (Filsafat, Sastra, Sejarah, atau Teori Kritis) dianggap sebagai investasi yang inefisien, sementara skill yang segera dapat diubah menjadi uang—seperti digital marketing, personal branding, atau content creation—dianggap lebih pragmatis. Mahasiswa yang dididik dalam lingkungan macam ini, secara otomatis akan menempatkan influencer atau figur publik yang sukses secara material—karena keahlian branding mereka—lebih tinggi daripada akademisi yang hanya menawarkan teori. Dengan demikian, kurikulum kewirausahaan, alih-alih memberdayakan, justru berisiko menjadi pembentuk selera konsumeris yang menilai segala sesuatu dari kapasitas komodifikasinya, yang notabene semakin menjauhkan masyarakat dari penghargaan terhadap otoritas intelektual yang berbasis kedalaman dan substansi.
Kapitalisasi Pendidikan dan Struktur Negara Kita
Apa imbasnya kemudian dalam struktur makro negara kita? Korelasi antara ketidaksungguhan negara dalam menghasilkan pakar/pemikir kritis dengan dominasi influencer di ranah apresiasi material dapat dilihat sebagai strategi tidak langsung untuk melanggengkan “hukum rimba modern”,[9] yang dalam konteks ekonomi-politik sering berarti pertarungan bebas modal dan pembiaran ketidakadilan struktural.[10]
Minimnya investasi dan komitmen negara terhadap riset murni, ilmu-ilmu dasar, dan tradisi pemikiran kritis—semisal melalui pendanaan yang rendah, birokrasi yang rumit, atau marginalisasi peran akademisi dalam ruang kebijakan—secara de facto merupakan bentuk penyusutan otoritas intelektual. Pakar dan pemikir kritis, dalam posisinya vis-a-vis kekuasaan, memang memiliki tipikal yang “mengganggu” karena mereka mampu mendekonstruksi narasi-narasi kekuasaan, atau membongkar kontradiksi sistemik—termasuk ketimpangan yang dihasilkan oleh kapitalisme akhir, dan menawarkan alternatif pemikiran yang menantang status quo.
Ketika negara secara struktural abai, atau bahkan secara halus mendiskreditkan, kedudukan pakar, ruang yang kosong tersebut segera diisi oleh suara-suara yang lebih jinak dan mudah dikendalikan—yaitu, figura yang terkonsumerisasi seperti influencer. Figur-figur ini—kebanyakan, untuk tidak mengatakan semua—tidak memiliki basis keilmuan untuk mengkritik struktur, dan bahkan cenderung menguatkan individualisme ekstrem serta logika pasar: misalnya, dengan mempromosikan solusi instan pribadi untuk masalah struktural. Dominasi influencer adalah pertanda bahwa otoritas diserahkan dari substansi ke brand.
Akhirnya: Kembali ke Hukum Rimba Modern dan Konsumsi Atensi
Dalam “hukum rimba modern” kapitalisme, tujuannya adalah membiarkan modal mengalir tanpa hambatan dan mempertahankan kekebalan struktur dari kritik yang substantif. Dengan tidak memelihara pemikir kritis, negara secara implisit menjamin bahwa masyarakat akan terus-menerus disibukkan oleh spektakel dan distraksi yang mudah dikonsumsi, seperti gosip atau tren viral dari influencer. Ini adalah perwujudan dari apa yang disebut Jameson sebagai kegagalan masyarakat untuk menghasilkan “peta kognitif” yang jelas tentang sistem tempat mereka hidup.[11]
Akibatnya adalah: kritik terhadap sistem semacam kritik terhadap kapitalisasi pendidikan atau ketimpangan upah, tidak lagi datang dari forum-forum akademik yang teruji, melainkan dari opini-opini pop yang terfragmentasi, yang nahasnya mudah diserang atau dikesampingkan. Dengan demikian, influencer secara tidak langsung berfungsi sebagai agen penjinak publik: mereka mengkapitalisasi atensi publik, namun mengalihkan atensi tersebut dari analisis kritis terhadap kekuasaan. Negara tidak perlu lagi secara frontal menekan, cukup dengan membiarkan pasar atensi—yang dikuasai influencer dan kapitalisme tadi—melahap dan memarginalisasi suara-suara kritis, menjamin keberlanjutan “hukum rimba”, tempat di mana modal hampir selalu menang dan kritik substansial selalu rugi. Demikianlah setidaknya.
Purwokerto-Yogya, November 2025
[1] Menurut Fredric Jameson, late capitalism merupakan tahap evolusi kapital yang ketiga dan terkini, mengikuti fase awal kapitalisme pasar dan tahap monopoli/imperialisme sebelumnya. Jameson secara tegas menyelaraskan tahap ini dengan era kapital multinasional atau transnasional (multinational capital), sebagaimana diklasifikasikan dalam skema periodisasi Ernest Mandel. Tahap ini dicirikan oleh serangkaian perubahan mendasar dalam organisasi global dan teknologi: munculnya bentuk-bentuk organisasi bisnis baru seperti perusahaan multinasional; pembagian kerja internasional yang baru; serta dinamika yang memusingkan dalam perbankan internasional dan bursa saham. Secara teknologi, ia didorong oleh komputerisasi dan otomasi, bentuk-bentuk hubungan media baru, dan sistem logistik/transportasi yang efisien seperti kontainerisasi. Secara sosiologis, ia mengakibatkan konsekuensi global seperti krisis tenaga kerja tradisional, munculnya kelas sosial baru (yuppies), dan gentrifikasi dalam skala global. Inti dari late capitalism adalah ekspansi global yang belum pernah terjadi sebelumnya dan penetrasi komodifikasi yang mendalam ke segala aspek kehidupan, bahkan ke wilayah-wilayah yang sebelumnya non-ekonomi, seperti alam bawah sadar, seni, dan budaya. Jameson berargumen bahwa tahap ekonomi ini menghasilkan pascamodernisme sebagai logika kulturalnya. Pascamodernisme, sebagai manifestasi budaya dari late capitalism, ditandai oleh krisis historisitas (menghancurkan makna sejarah), pengalaman ruang dan waktu yang terfragmentasi (schizophrenia), kultur yang didominasi oleh pastiche (tiruan tanpa parodi), dan kedangkalan emosional. Dengan demikian, intinya adalah bahwa bagi Jameson, late capitalism adalah sistem ekonomi-sosial global kontemporer yang telah mencapai batas geografis dan strukturalnya, yang pada gilirannya mengubah seluruh budaya dan masyarakat menjadi citra dan komoditas belaka. Selengkapnya, baca: Jameson, Frederic. (1991). Postmodernism, or, The Cultural Logic of Late Capitalism. Durham: Duke University Press, hlm. xix; 35.
[2] Jameson, Fredric. (2020). Pascamodernisme dan Masyarakat Konsumer. Yogyakarta: Semut Api.
[3] Jameson (1991), hlm. 16-18.
[4] Ibid., hlm xii; 6-10.
[5] Baca dan bandingkan: Vefiadytria, Eza Agfonicha dan Mirzam Arqy Ahmadi. (2024). “Pengaruh Peran Influencer dalam Meningkatkan Keputusan Pembelian Konsumen Produk GLAD2GLOW di Surakarta”. Musytari: Jurnal Manajemen, Akuntansi, Dan Ekonomi, Vol. 13 (1), hlm. 81–90. https://doi.org/10.8734/musytari.v13i1.9423
[6] Yuhertiana, Indrawati, Erna Hernawati, Aulia Rahmawati, Wilma Cordelia Izaak, dan Diarany Sucahyati. (2024). Kinerja Kreatif di Era VUCA. Malang: Penerbit Litnus, hlm. 1-5; atau Arvianto, Faizal, Winda Dwi Hudhana, Rosita Rahma, Nurnaningsih Nurnaningsih, dan Sarwiji Suwandi. (2023). “Menyiapkan Mahasiswa Abad 21 Menghadapi Era Vuca (Volatility, Uncertainty, Compelxity, & Ambiguity) Melalui Pendekatan Berbasis Pengalaman”. Lingua Rima, Vol. 12 (1), hlm. 43-56. http://dx.doi.org/10.31000/lgrm.v12i1.8074
[7] Baca dan bandingkan bagaimana media (termasuk figur influencer) menciptakan pola “pahlawan konsumtif”, sejalan dengan kritik struktural terhadap mindset konsumeris: Ruslita, Gita dan Alexander Seran. (2024). “Media dan Konsumerisme: Studi Kritis Pahlawan Konsumtif dalam Budaya Populer”. Journal of Mandalika Literature, Vol. 6 (1), hlm. 480-492. https://doi.org/10.36312/jml.v6i1.3976
[8] Baca dan bandingkan: Nasution, Kautsar Fatin Dharmawan, Audina Pratiwi, Feny Fadiya, Nadya Nafisha, Rut Afentina Sinambela, dan Lucky Satria Pratama. (2025). “Kritik Marxisme Terhadap Kapitalisme : Tinjauan Literatur Tentang Eksploitasi Dalam Sistem Ekonomi Kapitalis”. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, Vol. 11 (8.A), hlm. 123-133. https://jurnal.peneliti.net/index.php/JIWP/article/view/11042
[9] Anggaplah hukum rimba modern sebagai metafora yang menggambarkan penerapan prinsip “survival of the fittest” di dalam struktur sosial, ekonomi, dan politik masyarakat kontemporer yang seharusnya beradab dan diatur oleh hukum formal. Alih-alih persaingan naluriah di alam liar yang murni berdasarkan kekuatan fisik, hukum rimba modern beroperasi melalui kekuatan yang terlegitimasi dan dimanipulasi, semisal dominasi kekuatan modal sebagai konsekuensi kapitalisme global, manipulasi kekuatan hukum dan politik, perang citra dan informasi, dibarengi individualisme ekstrem dan kurangnya empati, yang semuanya saling berkelit-kelindan. Selengkapnya dalam tulisan saya, “Konsumerisme, Hukum Rimba, Masyarakat Literat” (07/09/2025) di laman Bilfest.id.
[10] Baca dan bandingkan: Zaenurrosyid, Ahmad. (2016). “Pergumulan Rule of Law dan Politik Kapitalisme dalam Konteks Keindonesian”. Jurnal Review Politik, Vol. 6 (2), hlm. 195–219. https://doi.org/10.15642/jrp.2016.6.2.195-219
[11] Jameson (1991), hlm. 44.

Ilham Rabbani, pengajar sastra di kampus berwarna biru di Purwokerto. Dosen yang sebenarnya juga masih menjadi mahasiswa berpredikat “pria beristri dengan pengetahuan amat pas-pasan”. Omongan dan tulisannya kadang ‘ncen ra-nggenah blass. Untuk menjalin silaturahmi parsial dengannya, bisa via akun Instagram @_ilhamrabbani.




