Senyum Dinasti dan Puisi Lainnya

Hujan Pertama
: mugi riskiana halalia, istriku.

akhirnya, kualami juga debar dada ini,
yang hampir jadi mitos dalam hidupku.
mengalami sendiri jadi mempelai pria,
mengubur nasib sialan yang kupanggul.

seluruh wewangian dari penjuru benua,
disimbahkan ke tubuh mempelai wanita,
saat udara dingin di kaki gunung slamet
menebalkan keyakinan sepasang pengantin.

pada rabu, hari keempat bulan november,
kita tunaikan pertemuan yang paling dinanti:
mengucapkan lafal dalam satu tarikan napas.

“sah?” sah… gerimis pertama turun,
pipi ibuku juga pipi ibumu basah, dan—
kita melangkah menyemai takdir bersama.

***

Senyum Dinasti

telah kautulis skenario pertunjukan terakhir,
di atas teater tubuh-tubuh ringkih yang fakir.
dari pion-pion relawan yang kaucipta,
ke penyerahan lawan yang kaupiara.

engkau membatu di dasar gorong-gorong janji,
legasi kekuasaan yang dicintai membabi buta.
dengan senyum tengil kau paksa khatamkan ambisi:
membangun negeri untuk melanggengkan dinasti.

kini engkau boyongan, kembali ke Banjarsari.
sambil menyaksikan tumbuh kembang industri,
album foto infrastruktur, dan riwayatmu di televisi.

lalu dengan cara apa engkau harus dikenang kelak?
selain memar ingatan retak dua periode yang laten,
di dalam biografi dan berita buatanmu sendiri!

***

Apatis Karena Cinta

di kampus-kampus para pesilat bertarung intrik politik.
di persimpangan, mahasiswa menabur bunga bangkai,
dan dupa amarah menguar bau busuk birahi berkuasa.
di trotoar penjual kopi putus sekolah menunggu pembeli.

kami tak mau meneruskan warisan kakak angkatan gagap
yang dicetak dan dipiara oleh bapak penguasa takabur.
kami lelah terus menerus dikibuli setiap lima tahun,
dan biarkan kami apatis, pura-pura tak mengerti apa-apa.

karena cinta tanah air, kami tak mau peduli lagi, pada
presiden, menteri, atau wakil rakyat mau ngapain, yang—
diam-diam mungkin sedang menyusun rencana jahat.

apa untungnya bicara dengan tubuh berkepala batu,
toh tak ada lagi yang bisa dipegang dari lidah mereka.
dan kini tanah air kami semakin tidak baik-baik saja.

***

Kampus Putih

tongkat matahari tegak menancap di bumi mataram,
tepat saat pesta obsesi cap kopi kembali digelar.
tawa para pesilat—pemenang mengusik denyut kepala,
menabur bunga bangkai di meja panjang perjamuan.

apa itu dinding nurani, didih amarah, atau keangkuhan,
bagi kalian penerus kera kelaparan yang berebut kursi?
di kampus putih yang konon miniatur negara ini,
kalian dikutuk jadi pemimpi di atas semesta politik.

tetapi, ambisi buas memenggalmu, dan kakimu patah—
diserimpung kawan sendiri sebelum sempat duduk.
bangunlah! angkut akal sehatmu ke luar gerbang!

di sana, tempat kenyataan hidup seperti pasar malam,
muslihat dan tipu daya andalan kalian tak laku. sebab,
setiap punggung memanggul nasib masing-masing.

***

Lidah Kutuk

di Jakarta yang tak kenal kamus menye-menye,
orang-orang kudu pandai sembunyikan rupa asal.
bagi pemula yang datang sekadar coba-coba,
rawan remuk diledek para pengamen jalanan.

obrolan sehari-hari di trotoar tongkrongan ojol,
lebih manusiawi tinimbang bualan pengobral janji.
dan bahasa masyarakat di pasar tumpah yang kutuju,
gagal total kutiru sebelum mengisi halaman bukuku.

kata baru terucapkan dan diucapkan berulang-ulang,
menggeser isi kamus bahasa yang tak lagi disandang,
dalam pergaulan orang-orang urban yang malang.

di sini, mulutku nyaris tak bisa bicara walau sekata,
saat bahasa di jalanan yang kucuri tiap pagi dan sore,
menyerapahiku dengan sumpah paling kutuk!

***

Lumut Negara

lumut negara merambat sunyi.
teror diam-diam menyeringai dingin,
dari sekelebat bayangan di jalan raya:
mengintai senyap hingga ke bilik dapur.

lumut negara mengisap darah rakyatnya.
sepasang bibir merah lembab tersenyum,
senyum yang teramat akrab di televisi,
bagi 7,24 juta pasang mata pengangguran.

kini, senyum itu makin dingin mendekati—
pintu-pintu reot 23,36 juta orang miskin,
yang tak tahu bakal nasibnya esok hari.

sedalam palung nasib, kami cinta tanah air,
walau hidup kami selalu dibikin jadi benalu
oleh lumut-lumut sunyi di ibu kota yang ruwet.

***

Lilin Sunyi
: momen ulang tahun bintang timur

ulang tahun pertamamu meremas hari-hari kalut,
di mata perempuan dengan gemuruh lindu di hatinya.
lihatlah di atas bukit situ, langit bersih terang
memantulkan kemilau wajah tenang perempuan.

dengan kue tar di tangan yang gemetar.
meski telingamu sunyi dari riuh lagu kelahiran,
tetaplah tegak melangkah di jalan nasib dan takdirmu.
dengar dan rasakan gema takdir dalam dadamu—

yang berdentum-dentum dari dada perempuan itu:
perempuan penyunggi nasib setabah maryam.
tiuplah lilin kecil pertamamu, usir segala sial!

kelak, saat kau tatap cakrawala di langit timur,
lalu terbayang wajah perempuan paling tabah,
dialah yang mengasihimu di tiap degup jantungnya.

Jakarta, 2026

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top