
Menjadi sebuah sunatullah, masyarakat yang lahir, tumbuh dan mendiami di suatu tempat akan secara kolektif membentuk kebudayaan yang dijalani. Baik itu hal baru atau yang telah turun temurun. Begitu juga masyarakat di nusantara. Dalam waktu-waktu tertentu, ada kebudayaan yang tercipta yang terpengaruh oleh agama dan kepercayaan yang diyakini.
Pada Mozaik Pekanan kali ini, bilfest.id sangat mengapresiasi para penulis yang tayang pada tanggal 23-27 Maret 2026. Tulisan yang tayang pada pekan ini adalah tulisan yang menangkap peristiwa budaya di sekitar mereka. Peristiwa budaya yang beririsan dengan agama dan kepercayaan, hingga kebudayaan era kontemporer yang di kembangkan dalam dunia entertaiment.
Para penulis lahir dan tumbuh menjadi bagian masyarakatnya, lalu menuliskan sebagai sebuah upaya belajar, upaya tumbuh, dan upaya supaya mereka tidak lepas dari kebudayaan yang telah membentuk mereka.
Diawali dari Memotret Kepungan di Gumelar
Kepungan adalah perjumpaan fisik antar manusia yang akhirnya membentuk sebuah ruang. Ruang itulah sebagai soft power dalam upaya saling menjaga antar masyarakat. Masyarakat nusantara sangat mengenal kepungan, dengan berbagai nama dan istilah yang melekat padanya, misalnya pada tradisi masyarakat Minahasa adalah mapalus. Berkumpul di suatu tempat pada momen tertentu dengan tujuan tertentu dan ada hidangan yang disantap bersama, tanpa ada perbedaan kelas.
Pada moment berkumpul itulah naluri egoisme dalam diri manusia dikikis. Dilebur dalam penyadaran terus menerus, bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri dan akan lebih bahagia jika berkumpul. Seperti yang diulas oleh Tegar Dwi Firmansyah, seorang mahasiswa asal Gumelar, Banyumas, Jawa Tengah.
Kemudian Refleksi atas Makin Terkenalnya Ngapak
Nofendy Ardyanto sebagai generasi muda yang lahir dari rahim Ngapak memberikan sebuah refleksi atas makin terkenalnya Bahasa Ngapak era sekarang ini. Namun keterkenalannya itu, bagi Nofendy malah hanya menjadi sebuah “aksen komedi”, lalu hanya ditertawakan.
Padahal, Bahasa Ngapak adalah sebuah manifestasi dari egalitarianisme yang secara alamiah lahir dan tumbuh di masyarakat Banyumas. Yang tidak boleh dilupakan adalah kejujuran dalam Bahasa Ngapak yang terkandung Blakasuta (jujur apa adanya). Di situlah letak nilai utamanya. Bukan berarti abai terhadap norma kesopanan. Karena kadang kala, bahasa yang sopan, malah mengandung sebuah ketidakjujuran. Hanya sebuah bungkus indah, namun nyatanya menikam.
Nofendy mengajak generasi muda untuk menjaga Bahasa Ngapak sebagai sebuah identitas. Lebih dari itu, baginya baik dengan Bahasa Ngapak maupun bahasa lain jadilah manusia yang menggunakan bahasa kejujuran dalam hidupnya.
Cerita Saling Mengunjungi
Memaknai silaturahmi dan saling mengunjungi dalam momen lebaran, bukan hanya bertamu, bertemu, dan bercakap-cakap basa-basi. Tetapi saling berbagi ilmu dan pengalaman baru.
Seperti yang dilakukan oleh Fajrul Alam pada momen lebaran tahun ini. Selain silaturahmi ke pondok pesantren yang memiliki peternakan sapi, ia mendapatkan sebuah nasehat yang juga dibagikan kepada kita semua.
“. . . selagi orang memiliki sebuah keterampilan atau skill, ia tidak mati ditelan zaman”, begitulah nasehat dari Ustadz Hasan. Beliau adalah pengasuh PP Al-Iman Bulus. Zaman yang berkembang dan berubah adalah sebuah keniscayaan. Sebagai manusia, tidak bisa melawan sunnatullah itu. Yang bisa dilakukan adalah mempersiapkan diri, menjadi bagian zaman yang terus berkembang itu, namun tidak “mati”.
Obor Takbir Hari Raya
Meskipun dalam sejarahnya, menyalakan obor di jalan saat malam hari adalah untuk penerangan saat berjalan. Menyalakan obor bersama-sama dan turun ke jalan raya di saat lampu sudah di mana-mana adalah sebuah simbol bahwa cahaya kebersamaan sebuah masyarakat harus terus dijaga.
Tradisi di Desa Klahang yang ditulis oleh Guntur Awal ini, mengingatkan kita bahwa “Kemenangan” sejati adalah ketika kita masih bisa melihat wajah tetangga kita dengan jelas di bawah pendar cahaya yang sama. Selama api obor ini masih menyala di tangan anak-anak kita, maka sejatinya kebudayaan kita tidak akan pernah padam.
Tidak hanya di Desa Klahang, tradisi pawai obor di masyarakat kita saat hari raya, adalah kebahagiaan yang tidak ternilai dengan materi apapun. Ia adalah kebahagiaan yang bisa diwariskan terus menerus, meskipun zaman sudah berubah. Jadi obor sudah beralih fungsi, jika dahulu untuk menerangi saat berjalan di malam hari, untuk saat ini menyalakan obor di malam hari raya adalah untuk menerangi supaya tidak gelap hati.
Event Budaya, Budaya Event
Tulisan dari NZ Sapta ini adalah menjadi pengingat penting bahwa “investasi” budaya tidak selalu harus yang spektakuler secara visual. Kadangkala, dampak yang paling nyata justru lahir dari peristiwa-peristiwa kecil yang mampu membuat orang-orang di dalamnya merasa diuwongke.
Tidak banyak pelaku budaya yang berani jujur mengungkapkan hal ini. Bahwa tolak ukur dari keberhasilan sebuah budaya atau event budaya bukan hanya keramaian yang tercipta, atau dampak ekonomi secara langsung. Tapi bagaimana dampak berkelanjutannya seperti apa?
Kiranya perlu adanya duduk rembug dan saling meng-inventarisir, apa saja sebenarnya yang menjadi tolak ukur sebuah keberhasilan kerja-kerja kebudayaan? Ini adalah upaya terus-menerus. Sebuah upaya tidak akan ada finalnya, seiring berkembangnya kehidupan. Namun tidak hanya menempatkan masyarakat sebagai konsumen dan subjek pasif. Masyarakat adalah menjadi subjek tak terpisahkan bukan hanya komoditi.

dari Banyumas menyapa Indonesia




