
Saat ini, situs bilfest.id dalam satu hari, menayangkan 1 tulisan. Kecuali ada momen tertentu yang akhirnya menayangkan 2 tulisan. Hari Senin-Jumat situs bilfest.id menjadi ruang untuk menayangkan tulisan esai, opini, artikel, ulasan event, ulasan buku dan sejenisnya. Untuk akhir pekan, Sabtu-Minggu adalah untuk ruang karya sastra.
Seiring berjalannya waktu, tim redaksi mencoba membuat sebuah tulisan mozaik atas karya yang telah tayang. Mozaik Pekanan adalah tulisan yang memberikan respons terhadap tulisan yang tayang dari hari Senin sampai Jumat. Untuk mozaik karya sastra akan ada tersendiri, dan akan tayang setiap pekan juga. Memberikan respons atas karya sastra yang telah tayang.
Hari Senin 9 Februari 2026 sampai dengan Jumat 13 Februari 2026, situs bilfest.id menayangkan 5 tulisan dari para penulis. Mereka melakukan refleksi atas diri sebagai manusia, kemajuan teknologi, perubahan zaman hingga rasa cinta.
Laras Sanggitaa, seorang penulis perempuan yang menulis atas pembacaannya terhadap seorang manusia dan relasinya dengan Tuhan. Hubungan antara pencipta dan yang diciptakan. Ia melihat bahwa manusia adalah sebuah mahakarya seni Tuhan. Baik itu dari segi fisik maupun non-fisiknya.
Sebagai penulis perempuan yang lahir dari keluarga seni, membuat Laras melihat manusia tidak sekadar makhluk yang hidup, bernapas, makan-minum dan bergerak. Manusia lebih dari itu. Ia bisa mengembangkan dirinya meskipun pernah mengalami “patah” dalam hidup.
Laras mengajak pembaca untuk tidak insecure pada diri, baik itu fisik maupun non-fisik. Apalagi saat seseorang mengalami sebuah kegagalan. Bagi Laras, manusia yang merupakan mahakarya seni Tuhan ini, memiliki keistimewaan tersendiri. Termasuk istimewa di mata Tuhan, Sang PenciptaNya.
Hari Pers Nasional adalah 9 Februari. Sebenarnya Tim Redaksi akan membuat tulisan editorial tentang pers. Namun karena kami bukanlah jurnalis, kami urungkan. Namun pada hari Senin, Bachtiar S. Malawat seorang jurnalis dari Maluku Utara mengirimkan tulisannya ke kami. Tulisan tentang refleksi atas jurnalis dan jurnalisme saat ini.
Sebagai jurnalis, ia bisa lebih otoritatif saat menulis refleksi atas jurnalisme saat ini. Meskipun sebatas jangkauannya. Namun itu sangat cukup untuk kita jadikan pembelajaran.
Problematika jurnalisme menurutnya sangat banyak. Dari idealisme dan keberpihakan, adaptasi dengan teknologi, dan kesejahteraan seorang jurnalis. Ia juga mengingatkan kembali bahwa jurnalisme sebagai watchdog (anjing penjaga) terhadap kebijakan penguasa. Hal yang menjadi pengingat bagi kita semua adalah, bagaimana seorang jurnalis juga harus jujur di hadapan realitas dan tetap menjadikan jurnalisme sebagai sarana edukasi kepada masyarakat. Atau malah menjual kemampuan jurnalisme yang dapat mempengaruhi publik kepada pihak tertentu.
Gentrifikasi Sosial Generasi Muda dalam Bayang-bayang Perubahan Landskap Kota
Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Baik itu terasa maupun tidak terasa. Namun, Refandy Tri Wijaksono mampu merasakan itu. Ia merasakan perubahan atas tempat dan keadaan sosial yang ia lahir dan tumbuh di dalamnya.
Sebagai generasi muda Refandy melihat perubahan sosiologis masyarakat Purwokerto-Banyumas yang agraris ke masyarakat urban dan perkotaan. Namun atas perubahan itu Refandy tidak melakukan penghakiman. Terutama berubahnya masyarakat desa yang cenderung agraris, namun mulai meninggalkan praktik kehidupan agrarism.
Mungkin dalam benak kita dan banyak benak orang, menjadi masyarakat urban perkotaan, kehidupannya akan lebih baik. Tapi tidak melulu bukan? Imajinasi masyarakat desa tentang perubahan yang lebih baik adalah menjadi masyarakat urban perkotaan. Padahal perubahan sosial masyarakat baik desa maupun kota, ke arah yang lebih baik (sejahtera) bukan mengambil imajinasi luar kemudian dimasukkan ke dalam. Ia bisa ditumbuhkan secara kolektif dari dalam diri masyarakatnya. Semoga banyak anak muda seperti Refandy yang merasakan hal itu.
Solidaritas Perjuangan Kawan-kawan Tuli di Terminal Bulu Pitu Purwokerto
Ruang hidup dan manusia masih dalam pembahasan di pekan ini. Salah satunya adalah pembahasan ruang tumbuh untuk teman-teman Tuli. Pada tanggal 4 Februari 2026 di Gramedia Rita SuperMall, BIL Fest meluncurkan buku “Catatan Bele: Dunia Tuli dan Aku”. Buku itu ditulis oleh Aulia Nabila Fal, dan menerima penghargaan Ahmad Tohari Award 2025.
Sebagai seorang Tuli, Aulia Nabila Fal menceritakan tentang solidaritas antar sesama Tuli. Ada langkah kolektif yang mereka lakukan untuk membuat ruang bagi sesama Tuli. Karena memang, fasilitas umum untuk teman Tuli belum bisa dibentuk dengan baik. Contohnya adalah ketika di ruang publik, pengumuman masih menggunakan audio. Padahal teman Tuli juga membutuhkan informasi itu. Situasi itu Aulia Nabila Fal menuliskannya saat bersama temannya di terminal sesaat setelah menghadiri peluncuran bukunya.
Memberikan akses kemudahan bagi teman Tuli di fasilitas umum bukan sekadar melaksanakan undang-undang. Melainkan bersama-sama menciptakan ruang hidup untuk semua manusia.
Burisrawa Gandrung, Cinta Buta: Sebuah Ketulusan atau Kebodohan?
Manusia dan segala aspek kehidupannya tidak akan habis dibicarakan. Salah satu aspek dalam kehidupan manusia yang tidak habis dibicarakan adalah cinta. Mungkin rasa cinta turut lahir bersamaan saat manusia itu lahir. Sehingga cinta tumbuh bersamaan saat manusia itu tumbuh.
Dalam tulisan Burisrawa Gandrung karya Miftakhul Saleh, kita bisa melihat sebuah kisah cinta yang tumbuh. Sebuah kisah cinta dari tokoh pewayangan. Burisrawa jatuh cinta kepada Sembadra sampai “gandrung”. Dalam Bahasa Jawa, “gandrung” berarti sebuah keadaan yang sudah tergila-gila. Hilang akal sehatnya. Memang, manusia akan hilang akal sehat ketika jatuh cinta. Begitu pun kisah Burisrawa kepada Sembadra.
Hasil dari pembacaan kisah itu Miftakhul Saleh mengajak untuk sadar bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Jangan sampai kita mencintai seseorang, malah kita terbelenggu dan terikat oleh rasa cinta itu. Apalagi jika kisah cintanya seperti Burisrawa yang bertepuk sebelah tangan. Apalagi Burisrawa masih mencintai Sembadra dan terus berjuang mendapatkannya, padahal Sembadra akhirnya sudah bersuami. Jangan jatuh cinta seperti itu. Nanti akan jadi manusia macam apa? Jadi Burisrawa?

dari Banyumas menyapa Indonesia




