Mozaik Kanon: Aphantasia, Catatan Rihlah Batiniah, dan Tubuh Sebagai Kitab

Teman-teman bilfest.id yang budiman, selamat datang kembali pada Mozaik Kanon: semacam ruang kecil-kecilan yang menampilkan ulasan singkat mengenai tulisan yang tayang di bilfest.id pada hari Sabtu dan Minggu. Ada sepotong cerpen “Ruang di antara Bintang-bintang” karya dari Digra Mauda Adib, kemudian secawan puisi “Petang di Batas Desa dan Puisi Lainnya” buah kreasi dari Farkhan Beha, dan satu karya berikutnya adalah segelas puisi dari Abdul Wachid BS yang berjudul “Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 7)”. Tiga karya tersebut mulai mengudara di jagad bilfest.id sejak pada 21 & 22 Maret 2026.

Ketiga karya tersebut menemani teman-teman dalam melangsungkan event besar yakni lebaran Idul Fitri (bagi yang menjalankannya). Sebuah kenikmatan tersendiri bagi kami, untuk bisa menghadirkan teman sekalipun berupa teks atau tulisan. Sepotong nikmat yang mungkin seumpama seorang kakek yang tersenyum selepas menyalurkan amplop – bertuliskan “Selamat Idul Fitri” dan bergambar Upin-Ipin – kepada cucu-cucunya.

Tema Langka: Aphantasia

Dalam cerpen “Ruang di antara Bintang-bintang” karya pelajar SMK dari Purbalingga, kita disuguhkan dengan tema yang mungkin jarang diangkat, yakni tentang psikologi. Lebih tepatnya tentang penyakit aphantasia. Sebuah kondisi di mana seseorang tidak mampu membentuk citra mental atau membayangkan gambar di dalam pikiran mereka secara sadar, sering disebut sebagai “kebutaan pikiran”. Secara hematnya, orang yang terkena aphantasia, kesulitan untuk berimajinasi atau menggambarkan sesuatu dalam pikiran. Disebutkan dalam cerpen, Saat diminta membayangkan sebuah apel merah, mereka mungkin tahu deskripsinya: merah, bulat, buah. Tapi nggak bisa ‘liat’ gambar tersebut di pikiran mereka.

Cerpen ini bisa lebih wow sebenarnya jika peran dialog dimainkan dengan baik. Rasanya dialog dalam cerpen ini terkesan sangatlah informatif terutama bagian penjelasan mengenai penyakit yang coba oleh penulis dipakai sebagai permulaan cerpen dan titik tolak untuk klimaks cerpennya. Alangkah lebih baik lagi jika informasi tentang topik penyakit psikologi tersebut lebih halus dan tidak terlalu kentara dalam cerita. Hal ini penting supaya pembaca bisa menuai perbedaan antara fiksi dan non fiksi.

Terlepas dari itu, penulis sangatlah mungkin untuk berkembang dan bertumbuh lagi, mengingat usianya yang masih muda. Seorang pelajar SMK dari Purbalingga. Jika dia senantiasa konsisten menulis, bukan barang mustahil akan menjadi sosok cerpenis dari Kota Knalpot.

Catatan Rihlah Batiniah

Selanjutnya kita disuguhkan dengan secawan puisi dari alumnus jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta. Seorang penulis dari Purworejo yang salah satunya terkenal dengan Dawet Jembut (Jembatan Butuh). Ia membawakan lima puisi dengan judul: Detak Kereta, Mengular Sepanjang Kelokan, Pusaran, Pada Suatu Nanti, Petang di Batas Desa, dan Hari: Dua. Kelima puisi tersebut rasanya masih segar, sesegar es dawet pinggir Jembatan Butuh, melihat titimangsanya yaitu tahun 2025-2026.

Secara hematnya, Farkhan Beha menghadirkan puisi-puisi bertemakan tentang perjalanan batin (Rihlah Batiniah) seperti halnya, kerinduan, kehilangan, ketenangan, dan upaya untuk pulang, baik pulang ke diri pribadi, orang lain, atau suatu hal lain. Seumpama kerinduan, ini tergambar dari, // kemudian menjadi negara dalam kepala, juga lusinan pertanyaan. / pada akhirnya pelan-pelan membentuk wajahmu.  //. Kemudian tentang ketenangan, // bagai diri gulma yang menjalar liar dalam dirimu, / pada tatap matamu kutemukan ketenangan lain, / ajaklah aku menuju duniamu kawan. //.

Sebenarnya tema-tema demikian sudahlah bagaikan jamur pada pohon tumbang yang basah dilibas hujan. Sebagai seorang eks-prodi Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta, alangkah baiknya menulis puisi yang bertemakan hal ihwal yang lebih segar. Tak sebatas hanya seputar kerinduan. Tema kerinduan umum dipakai oleh penyair-penyair amatir yang baru-baru saja menorehkan pena di atas kertas.

Tubuh Sebagai Kitab

Berikutnya kita menyeruput segelas puisi dari Abdul Wachid BS, “Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 7)”. Dalam segelas teh tersebut, terkandung lima puisi (yang bergizi bagi yang mampu menikmati): Langkah yang Belajar Kembali, Menyapa Diri di Cermin, Kembali ke Tangga yang Dulu Tak Dihitung, Penyembuh Tanpa Resep, dan Aku Belajar dari Kursi Plastik. Puisi-puisi tersebut lahir dari objek atau hal yang akrab dalam keseharian, langkah, lutut, cermin, tangga, dan kursi plastik. lantas objek-objek tersebut dikaitkan dengan seumpama ayat, zikir, ibadah, dan kitab.

// Di dalam lutut / ada kitab tak terlihat, / yang huruf-hurufnya disusun / oleh percakapan antara nadi dan waktu. //. Di sini, aku lirik menjadikan lutut sebagai ruang yang menyimpan kitab yang terbuat dari nadi dan waktu. Bahwa langkah dan ketahanan lutut ditentukan dengan waktu (usia). Aku lirik membaca tubuh sebagaimana membaca kitab. Saat bercermin saja, aku lirik membaca wajahnya yang lama tak dibaca dan disadari ternyata sudah berbeda. Kesibukan dalam mengarungi dunia membuatnya lupa untuk membaca dirinya. Hal ini tergambar dari bait, // Aku berdiri di hadapan cermin, / seperti ziarah ke wajah / yang telah lama kutinggalkan / di tengah musim sibuk / dan percakapan yang tak pernah selesai / dengan dunia. //.

Barangkali memanglah demikian jalan puisi yang dipilih oleh Abdul Wachid BS. Puisi-puisi yang reflektif-religius. Bukanlah puisi-puisi yang genrenya mengkritik dengan pedas (sepedas sambal terasi buatan emak) kepada penguasa atau pemerintah. Beliau lebih memilih menulis puisi yang adem ayem. Hal ini akan tidak menarik bagi mereka yang melihat puisi atau sastra sebagai alat perlawanan dan medium untuk mengkritik. Tapi para penikmat puisi juga sangat beragam, mereka yang menyukai puisi bernafaskan religiusitas juga tak kalah banyak. Jadi pada akhirnya, setiap tulisan akan menemukan pembacanya masing-masing. 

Tabik,
Tim Redaksi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top